{"id":12728,"date":"2025-10-03T18:44:41","date_gmt":"2025-10-03T15:44:41","guid":{"rendered":"https:\/\/drelisblog.com\/?p=12728"},"modified":"2025-10-20T16:49:09","modified_gmt":"2025-10-20T13:49:09","slug":"apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/","title":{"rendered":"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi?"},"content":{"rendered":"<p>Setelah membandingkan perjalanannya dalam Yudaisme dan tradisi nenek moyang Yahudi\u2014baik sebelum maupun sesudah berjumpa dengan Yesus (lihat teks yang disebut sebagai \u201cpertobatan\u201d Paulus)\u2014 Rasul yang disegani ini menjelaskan kepada audiensnya &#8211; pengikut Kristus non-Yahudi &#8211; bagaimana ia menerima Injil langsung dari Allah. Bertahun-tahun kemudian, ia memilih pergi ke Yerusalem untuk membuktikan pesan Injil yang diterimanya dengan para Rasul, yang meneguhkan hal yang penting (Gal. 2:1-10). Persamaan yang Paulus gambarkan antara dirinya dengan Yesus di berbagai suratnya sangat mencolok. Ia mencatat bahwa Yesus secara konsisten menolak menunjukkan Dia adalah Mesias hanya supaya dapat diterima, sama seperti Paulus menolak menonjolkan kerasulannya demi validasi. Keduanya memperoleh otoritas dari atas, terlepas dari otoritas Yerusalem\u2014baik yang mengikuti Kristus maupun yang tidak (Yoh. 10:23-26).<\/p>\n<p>Setelah Paulus meneguhkan otoritasnya terpisah dari dukungan para Rasul Yesus dan para tua-tua dari gerakan Yesus Yahudi mula-mula, kisah ini menjadi semakin menarik sekaligus kompleks. Hal ini menimbulkan tantangan bagi para pembaca modern\u2014karena setiap pembaca adalah penafsir\u2014untuk benar-benar menangkap bobot kata-katanya. Paulus menceritakan bagaimana ia secara terbuka menegur ketidakkonsistenan dan kemunafikan Petrus, ketika Petrus bersama Barnabas menarik diri dari persekutuan pengikut Kristus non-Yahudi hanya karena mereka tidak melakukan konversi proselit (Gal. 2:11-13).<\/p>\n<p>Kisah ini sangat penting, terutama karena penafsiran tradisional yang menggambarkan\u00a0 Petrus\u2014Rasul bagi orang Yahudi (yang bersunat)\u2014sebagai seorang Yahudi yang tidak menaati Taurat. Implikasinya sangat lugas: jika Petrus, yang diutus kepada orang-orang bersunat, mengabaikan Taurat dan hidup seperti orang non-Yahudi, apalagi Paulus, yang diutus kepada bangsa Israel dan terutama kepada bangsa-bangsa lain, tentu lebih tidak terikat untuk menaati Taurat.<\/p>\n<p>Dalam pandangan standar ini, Petrus tampak mimbang dengan identitas ke-Yahudi-annya dan gaya hidupnya yang taat Taurat\u2014kesetiaan perjanjiannya\u2014bergerak \u201cmaju,\u201d lalu \u201cmundur,\u201d dan mungkin \u201cmaju\u201d lagi setelah ditegur Paulus. Mari kita meneliti teksnya untuk melihat apakah memungkinkan adanya pembacaan alternatif yang masuk akal, berbeda dari tafsiran tradisional.<\/p>\n<p>Merekonstruksi sejarah membutuhkan pertimbangan kemungkinan dan masuk akal, sehingga perlu berhati-hati dalam setiap penafsiran, baik yang tradisional maupun yang baru. Seperti yang baru-baru ini saya katakan kepada seorang sahabat dekat, kita sebaiknya menghindari mengatakan, \u201cBiarkan Paulus berbicara untuk dirinya sendiri.\u201d Jika kita hidup di zaman Paulus, kita dapat menanyakan langsung untuk klarifikasi. Namun kini, terpisah sangat jauh, hal itu adalah mustahil. Karena itu, bukan hanya surat-surat Paulus, tetapi juga tulisan Lukas (Kisah Para Rasul) menjadi sangat penting untuk menyatukan kepingan teka-teki sejarah ini, sebab Lukas mengamati dan mencatat tindakan Paulus secara langsung.<\/p>\n<p><strong>Petrus dan Orang Non-Yahudi<\/strong><\/p>\n<p>Dalam Galatia 2:14, Paulus menulis: \u201cTetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: \u2018Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?\u2019\u201d Menafsirkan ayat ini dengan benar sangatlah penting, karena ini adalah dasar gambaran tradisional tentang gerakan Yesus Yahudi mula-mula\u2014baik orang Kristen maupun orang Yahudi\u2014 yang sebagian besar bukan orang yang mentaati Taurat dan karena itu bukan orang\u00a0Yahudi sejati, menandai lahirnya agama baru: Kekristenan.<\/p>\n<p>Sekilas, tampaknya sangat tepat. Tafsiran tradisional, khususnya dalam Galatia, mengatakan bahwa Paulus menuntun orang percaya menjauh dari ketaatan pada Taurat\u2014bukan karena Taurat tidak bernilai, tetapi karena di dalam Kristus Yesus, Taurat dianggap sudah usang. Gaya hidup Petrus yang tampak \u201ctidak-Yahudi\u201d sesuai dengan pandangan ini. Keragu-raguan Petrus dan Barnabas kemudian keliru ditafsirkan sebagai peralihan dari \u201ctidak menghormati Taurat dalam kehidupan Yahudi mereka\u201d menjadi \u201ckembali menaati Taurat setelah dipengaruhi oleh utusan Yakobus.\u201d<\/p>\n<p>Namun, ada elemen-elemen tertentu yang terasa janggal, dan bagi penafsir yang teliti, tafsiran tradisional ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kita akan kembali pada frasa yang diterjemahkan sebagai \u201chidup secara kafir\u201d\u2014yang dipahami sebagai pengakuan Paulus, bahkan secara implisit menyetujui gaya hidup Petrus yang tidak-Yahudi\u2014tetapi pertama-tama mari kita ikuti bagaimana argumen Paulus terhadap Petrus berkembang dalam Galatia 2:15a: \u201cMenurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain.\u201d<\/p>\n<p>Ungkapan ini terasa aneh (saya menyebutnya sebagai \u201cfrasa yang janggal\u201d), terutama bila dilihat dari kacamata tradisional. Paulus, yang sedang berbicara kepada Petrus, justru mengingatkan para pembaca non-Yahudi di Galatia bahwa baik ia maupun Petrus adalah orang Yahudi sejak lahir, bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain! Ini bertentangan dengan persepsi umum kita tentang Petrus dan Paulus. Tetapi teks ini ada, dan mendorong kita untuk meninjau kembali pemahaman kita dalam kerangka Yahudi abad pertama. Sebelum masuk lebih dalam pada ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya, ada baiknya kita meninjau secara singkat berbagai pandangan orang Yahudi tentang bangsa-bangsa lain pada zaman Paulus, untuk memperkaya pemahaman kita.<\/p>\n<p><strong>Orang Yahudi tentang Bangsa-Bangsa Lain<\/strong><\/p>\n<p>Banyak orang Yahudi pada zaman Rasul Paulus\u2014meskipun kita tidak tahu persis berapa jumlahnya\u2014tidak termasuk kelompok \u201cpengagum bangsa-bangsa lain.\u201d Malah, menyebut orang non-Yahudi sebagai \u201corang berdosa\u201d adalah hal yang lumrah dalam teks yang kemungkinan ditulis oleh komunitas\u00a0Esseni Yahudi sebelum kelahiran Paulus, yang kini dikenal sebagai <em>Dokumen Damsyik<\/em> (<em>Damascus Document<\/em>). Misalnya, teks itu mengecam orang Yahudi yang melaporkan pelanggaran hukum sesamanya kepada pihak berwenang untuk menyelesaikan urusan pribadi, praktik umum yang jahat. Karena itu, saudara-saudara dalam perjanjian baru tersebut menetapkan aturan tegas:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cSetiap orang yang menghancurkan sesamanya dengan hukum bangsa-bangsa lain harus dihukum mati.\u201d (CD A IX, 1)<\/p>\n<p><em>Dokumen Damsyik<\/em> juga melarang perjalanan bisnis melewati kota-kota non-Yahudi, karena berisiko mencemari Taurat atau menyebabkan kontak dekat dengan orang non-Yahudi. Pernyataannya jelas: \u201cJangan seorang pun beristirahat di tempat yang dekat dengan bangsa-bangsa lain pada hari Sabat\u201d (CD A XI, 14-15). Kitab <em>Yobel<\/em> (<em>Jubilees<\/em>), yang ditulis dengan nama Musa\u2014praktik umum yang diterima saat itu\u2014menyusun ulang Kitab Kejadian dan memperingatkan bangsa Israel agar tidak \u201cmelupakan perayaan-perayaan perjanjian dan mengikuti perayaan bangsa-bangsa lain adalah kesalahan dan kebodohan mereka\u201d (Yobel 6:35).<\/p>\n<p>Kitab <em>1 Makabe<\/em>, yang tidak ada hubungannya dengan dinamika Yahudi-Kristen abad ke-21, menyalahkan bangsa-bangsa non-Yahudi atas kehancuran Bait Allah, dengan mencatat:<\/p>\n<p>\u201cBait Suci diinjak-injak, orang-orang dari bangsa asing menduduki Benteng, yang telah menjadi tempat tinggal bangsa-bangsa lain\u201d (1 Mak. 3:45). Bangsa-bangsa non-Yahudi digambarkan sebagai penyembah berhala (1 Mak. 3:48), sekutu yang hendak membinasakan umat Allah (1 Mak. 3:50-52; 58-59), dan mengantisipasi serangan mereka di masa depan (1 Mak. 4:60). Kegagalan moral bangsa Israel sering dibandingkan dengan bangsa-bangsa non-Yahudi untuk mempermalukan mereka (1 Mak. 7:21-23).<\/p>\n<p>Demikian pula Yesus, seorang Yahudi yang terkemuka, menggunakan bahasa serupa, meskipun kini terasa keras bagi telinga modern. Dalam sebuah kisah yang \u201cjanggal,\u201d Ia dengan penuh kasih menyebut anak seorang perempuan Kanaan yang sakit sebagai seekor anjing (Mat. 15:21-28). Hal ini kerap disalahpahami karena menganggap bangsa-bangsa non-Yahudi adalah \u201canjing sebelum diterima Kristus\u201d atau \u201corang Yahudi menjadi \u201canjing karena menolak Yesus sebagai Kristus,\u201d padahal kisah itu Adalah tentang anak perempuan yang disembuhkan dan iman ibunya\u2014berlawanan dengan ketidakpercayaan Israel\u2014diteguhkan. Kesalahpahaman ini muncul karena mengabaikan konteks Yahudi abad pertama.<\/p>\n<p>Singkatnya, frasa Paulus dalam Galatia 2:15\u2014\u201cMenurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain\u201d\u2014sangat sejalan dengan pandangan umum orang Yahudi abad pertama terhadap bangsa-bangsa lain. Namun yang menarik, bagi Paulus\u2014seorang Farisi yang telah \u201cdiubahkan dan dipanggil oleh Yesus Kristus\u201d\u2014sebuah perubahan besar terjadi, tampak dalam teks. Bersabarlah sedikit lagi, karena benang merahnya akan segera terlihat jelas.<\/p>\n<p><strong>Hidup dalam Kristus Yesus<\/strong><\/p>\n<p>Dalam sebuah makan siang yang menyenangkan, saya pernah bertanya kepada Prof. Daniel Boyarin bagaimana alur pikirannya bekerja. Saya ingin tahu bagaimana ia menyusun teori-teorinya yang berani, segar, dan sering kali\u2014menurut saya\u2014sangat masuk akal. Jawabannya kurang lebih begini: \u201cSaya mulai dengan mengasumsikan bahwa teori tradisional itu cacat, lalu saya bertanya, \u2018Seperti apa kebalikan totalnya?\u2019 Kemudian saya menguji alternatif itu dengan bukti untuk melihat apakah hasilnya lebih kuat daripada pandangan konvensional.\u201d Saya akui, sejenak saya sempat berpikir, \u201cTentu saja\u2026 pikiran yang besar akan berpikir serupa\u2026\u201d tetapi segera saya redam kesombongan itu. Terlepas dari candaannya, mari kita bahas teks yang membingungkan ini, dengan tujuan memperoleh pemahaman yang lebih tajam, jelas, dan runtut. Ia menulis:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cTetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: \u2018Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?\u2019 Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan\u00a0 hukum Taurat. Sebab: \u2018tidak ada seorangpun yang dibenarkan\u201d oleh karena melakukan hukum Taurat. (Gal. 2:14-16).<\/p>\n<p>Apa maksud Paulus ketika berkata bahwa Petrus \u201chidup secara kafir\u201d? Untuk mengupas ini, mari perhatikan Kisah Para Rasul 17:28, ketika Paulus berbicara kepada orang Yunani di Areopagus di bukit Mars tentang mezbah Allah yang tidak dikenal: \u201cSebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.\u201d (Inilah bagian penting yang perlu dicermati.) Dalam ungkapan \u201cengkau hidup secara kafir\u201d (Gal. 2:14), Paulus menggunakan kata yang sama untuk \u201chidup\u201d &#8211;\u00a0 bukan untuk merujuk pada praktik keagamaan Yunani\/non-Yahudi atau halakha, melainkan pada fakta sederhana bahwa manusia hidup sebagai ciptaan Allah yang tidak dikenal itu (Kis. 17:28).<\/p>\n<p>Ingatlah peristiwa penting yang menjadi landasan semua surat Paulus: Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15. Di sana ditetapkan ketentuan bagi orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus\u2014tentang apa yang boleh dan tidak boleh mereka lakukan. Tapi apa yang membuat konsensus itu bergeser, sehingga mereka tidak lagi menuntut orang non-Yahudi yang percaya kepada Kristus untuk masuk penuh ke dalam Yudaisme melalui konversi proselit, sebagaimana yang dilakukan Rut, perempuan Moab\u2014sebuah norma lama yang sudah mapan? (Pertanyaan ini kunci, jadi tetaplah mengikuti saya.) Jawabannya seharusnya mendorong kita untuk memperhatikan Kitab Suci dengan lebih cermat dan menolak anggapan bahwa pandangan mayoritas yang sudah lama bertahan otomatis benar.<\/p>\n<p>Apa jawabannya? Sederhana: kesaksian Petrus tentang Roh Kudus yang turun ke atas keluarga Kornelius yang tidak bersunat! Berkat surgawi yang dijanjikan para nabi bagi Israel itu, secara mengejutkan dicurahkan, di depan mata Petrus, kepada orang-orang non-Yahudi yang takut akan Allah dan percaya kepada Mesias Yahudi tanpa masuk Yudaisme. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali Allah memberikan Petrus sebuah visi baru tentang hal yang sangat penting: anggapan bahwa semua orang non-Yahudi najis adalah keliru. Petrus harus menganggap najis pada apa yang Allah nyatakan najis, bukan membuat aturan sendiri. Taurat tidak pernah mengatakan bangsa-bangsa lain itu najis\u2014hanya hewan dan benda tertentu saja. Ingatkah penglihatan Petrus tentang makanan najis dan perintah Allah untuk menyembelih dan makan? Sering dilupakan bahwa setelah itu ada ketukan di pintu dari hamba-hamba Kornelius, orang non-Yahudi, tepat setelah penglihatan itu.<\/p>\n<p>Tidak ada petunjuk bahwa Petrus menafsirkan penglihatan itu sebagai izin untuk makan daging babi di rumah Kornelius, sebagaimana diasumsikan banyak orang sekarang. Yang kita tahu adalah bagaimana ia menafsirkannya: ia masuk ke rumah seorang non-Yahudi. Jangan mencampuradukkan dua istilah berbeda. Seorang proselit adalah orang yang dulunya non-Yahudi tetapi mengubah gaya hidup dan menjalani hidup seperti orang Yahudi; sedangkan orang yang takut akan Tuhan adalah orang non-Yahudi yang menyembah Allah Israel tetapi tidak mengubah gaya hidup seperti orang Yahudi. Untuk dapat memahami bacaan ini, sangat penting untuk memahami perbedaan ini\u2014 karena pada umumnya pemikiran Kristen sering keliru.<\/p>\n<p>Proselit diterima penuh dalam komunitas Yahudi, tetapi ada perdebatan sengit mengenai orang yang takut akan Tuhan \u2014apakah orang Yahudi boleh makan bersama mereka atau tidak. Ada beragam pendapat, tetapi banyak orang Yahudi yang sangat ketat menaati Taurat cenderung untuk menolak persekutuan dengan orang non-Yahudi. Melalui penglihatan Petrus, Allah menegaskan sebuah kebenaran penting: orang yang takut akan Tuhan (dan pada dasarnya semua manusia) adalah tahir (tidak najis) sehingga tidak boleh ditolak. Yang dimaksud dengan tahir\/najis dalam Taurat bukanlah tentang dosa. Maka, persekutuan dengan bangsa-bangsa non-Yahudi\u2014terutama mereka yang mengikuti Yesus Kristus\u2014harus diterima! Inilah inti penglihatan itu: perintah Allah untuk menyembelih dan makan binatang yang tidak tahir artinya mereka harus menerima orang non-Yahudi yang takut akan Allah, bukan membatalkan <em>kashrut<\/em> (hukum makanan Yahudi mengenai halal \/ haram). Di depan mata Petrus, sebuah keluarga non-Yahudi\u2014termasuk anak-anak dan budak\u2014dihidupkan melalui pemberitaannya tentang Yesus Kristus, sebagai seorang Yahudi yang setia kepada Yesus, lewat kuasa pembaruan Roh Kudus.<\/p>\n<p>Sekarang, bagaimana Petrus dan Paulus menjadi hidup dalam Kristus Yesus? Apakah pengalaman mereka berbeda dari orang non-Yahudi? Apakah ketaatan pada Taurat yang melahirkan kehidupan baru, atau perjumpaan dengan Yesus Kristus yang bangkit dan karya kebangkitan Roh Kudus? Jelas jawabannya yang kedua. Petrus hidup dalam Kristus sama seperti Kornelius dan orang-orang non-Yahudi yang takut akan Allah \u2014oleh anugerah melalui iman kepada Yesus sang Mesias! Baik Paulus maupun Petrus &#8211; keduanya orang yang mencintai Taurat &#8211; memahami hal ini. Tidak ada seorang pun, baik Yahudi maupun non-Yahudi, yang dapat dibenarkan di hadapan Allah kecuali melalui karunia yang sama: iman dan pertobatan! Tema \u201cdihidupkan bersama Kristus\u201d sangat kuat dalam tulisan Paulus. Dalam suratnya yang\u00a0 terkenal kepada jemaat Efesus 2:4-6, kita membaca:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201c\u2026Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita\u2014oleh kasih karunia kamu diselamatkan\u2014dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga.\u201d<\/p>\n<p>Di sini menggunakan kata kerja yang sama\u2014diterjemahkan sebagai \u201chidup seperti orang non Yahudi\u201d \u2014muncul lagi, bukan dalam arti gaya hidup, melainkan dalam arti eksistensi hidup yang sejati. Paulus, seorang yang sangat mencintai Taurat, begitu yakin akan hal ini hingga ia melanjutkan argumennya:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cSebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus ; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.\u201d (Gal. 2:19-21)<\/p>\n<p>Perhatikan klaim Paulus: Taurat mengajarkannya untuk mati terhadap Taurat, agar ia hidup bagi Allah, sama seperti Yesus\u2014yang juga mencintai Taurat\u2014mati dan kini hidup dalam hati serta pikiran Paulus melalui kuasa Roh Kudus. Kata \u201chidup\u201d dan \u201cmenghidupi\u201d yang ia gunakan saat menegur Petrus muncul disini. Jadi, ini bukan soal Petrus yang ragu-ragu dalam menjalani gaya hidup Yahudi\u2014praktik agama atau penampilan luar saja \u2014 dalam pandangan modern, tetapi tentang keraguannya dengan pelajaran dari Kisah Para Rasul 10: Allah Israel telah menyatakan bahwa orang yang takut akan Tuhan sama sekali tidak najis dan tidak boleh dihindari dengan alasan apa pun.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah membandingkan perjalanannya dalam Yudaisme dan tradisi nenek moyang Yahudi\u2014baik sebelum maupun sesudah berjumpa dengan Yesus (lihat teks yang disebut sebagai \u201cpertobatan\u201d Paulus)\u2014 Rasul yang disegani ini menjelaskan kepada audiensnya &#8211; pengikut Kristus non-Yahudi &#8211; bagaimana ia menerima Injil langsung dari Allah. Bertahun-tahun kemudian, ia memilih pergi ke Yerusalem untuk membuktikan pesan Injil yang diterimanya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[415],"tags":[],"class_list":{"0":"post-12728","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-apostle-paul-id"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v26.6) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi? - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi?\",\"datePublished\":\"2025-10-03T15:44:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-20T13:49:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/\"},\"wordCount\":2344,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"articleSection\":[\"Rasul Paulus\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/\",\"name\":\"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi? - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-10-03T15:44:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-20T13:49:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/drelisblog.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi? - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi?","datePublished":"2025-10-03T15:44:41+00:00","dateModified":"2025-10-20T13:49:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/"},"wordCount":2344,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"articleSection":["Rasul Paulus"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/","name":"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi? - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"datePublished":"2025-10-03T15:44:41+00:00","dateModified":"2025-10-20T13:49:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apakah-petrus-hidup-sebagai-orang-yahudi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apakah Petrus Hidup sebagai Orang Yahudi?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/drelisblog.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12728"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12728\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}