{"id":16350,"date":"2026-03-11T15:31:17","date_gmt":"2026-03-11T12:31:17","guid":{"rendered":"https:\/\/drelisblog.com\/?p=16350"},"modified":"2026-03-11T15:31:17","modified_gmt":"2026-03-11T12:31:17","slug":"apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/","title":{"rendered":"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II)"},"content":{"rendered":"<p>Kisah Henokh dalam Alkitab yang singkat dan penuh misteri sudah sejak lama memikat perhatian baik orang Yahudi maupun Kristen. Hal itu membuat mereka sangat ingin tahu tentang kehidupannya dan, terlebih lagi, tentang akhir hidupnya yang misterius. Kitab Kejadian memperkenalkan Henokh dengan sangat ringkas, hampir tanpa penjelasan mengenai siapa dia\u00a0 atau mengapa ia diangkat oleh Allah (Kej. 5:21\u201324). Sedikitnya informasi ini telah memicu berbagai tafsiran selama berabad-abad dan melahirkan beragam tradisi ekstra-biblika yang berusaha mengisi celah tersebut.<\/p>\n<p>Berbagai teks kuno\u2014yang ditulis jauh setelah Alkitab\u2014menyajikan beragam dan seringkali uraian yang rinci tentang peran Henokh, kepergiannya dari bumi yang luar biasa, serta peran pentingnya yang abadi dalam kehidupan setelah kematian. Tulisan-tulisan ini muncul dari latar budaya dan teologis yang berbeda-beda, lalu dikembangkan dari narasi Alkitab secara imajinatif. Namun, karena tulisan ini disusun berabad-abad setelah penulisan Kitab Kejadian (yang cukup jauh dari peristiwa asli Henokh), klaim-klaim tersebut bersifat tafsir\u2014semakin penuh intrik (namun bukan pengetahuan tambahan) pada sosok yang memang sudah penuh teka-teki.<\/p>\n<p><strong>Memahami Pseudepigrafa<\/strong><\/p>\n<p>Karena artikel ini membahas sumber-sumber yang mengklaim pengetahuan tambahan tentang nasib Henokh, penting untuk terlebih dahulu memahami apakah teks-teks tersebut dan kapan kemungkinan besar ditulis.<\/p>\n<p>Saatnya kita memperkenalkan istilah penting dalam kajian akademis \u2014 <strong>Pseudepigrafa<\/strong>. Pseudepigrafa adalah sebuah genre sastra kuno yang mengaitkan tulisan dengan tokoh-tokoh terkenal,seperti para leluhur, nabi, atau rasul, yang sebenarnya bukan penulis aslinya.<\/p>\n<p>Bagi pembaca modern, istilah ini mungkin terdengar seperti penipuan atau pemalsuan, namun penilaian semacam itu kurang tepat. Penulis dan pembaca kuno tidak memahami konsep pengarang seperti kita saat ini. Mengaitkan sebuah tulisan dengan tokoh yang dihormati sering kali dimaksudkan untuk menghormati tradisi, menghubungkan gagasan baru dengan otoritas yang sudah mapan, dan menempatkan teks tersebut dalam suatu garis teologis tertentu. Alih-alih penipuan, praktik ini merupakan bentuk penghormatan\u2014sarana untuk menyelaraskan penafsiran baru dengan hikmat masa lampau.<\/p>\n<p>Di antara contoh Pseudepigrafa yang paling terkenal adalah <strong>Kitab-kitab Henokh<\/strong>, yang menceritakan detail kisah tokoh Alkitab ini secara dramatis. Tanpa memahami konvensi budaya dan sastra pseudepigrafa kuno, pembaca modern bisa salah mengira teks-teks ini ditulis langsung oleh tokoh Alkitab itu sendiri. Sebaliknya, tulisan-tulisan itu harus dipandang sebagai catatan teologis yang bermanfaat dari para orang percaya kuno yang memberi kita kesempatan langka untuk mengintip melalui jendela pergumulan teologis komunitas kuno ini dengan teks-teks Alkitab yang sama dengan yang masih kita pergumulkan sampai sekarang.<\/p>\n<p><strong>Memahami Targum dan Midrash<\/strong><\/p>\n<p>Walaupun Targum dan Midrash tidak menjadi fokus utama dalam artikel ini, kedua konsep ini tetap penting untuk memahami penafsiran Alkitab Yahudi kuno sehingga perlu diperkenalkan secara garis besar supaya Anda tahu apa maksudnya ketika hal itu muncul.<\/p>\n<p><strong>Targum<\/strong> merujuk pada terjemahan ke dalam bahasa Aram sekaligus parafrasa tafsiran dari Alkitab Ibrani. Muncul pada masa Bait Suci Kedua (\u00b1500 SM\u201370 M), Targumim (jamak) digunakan di sinagoge untuk menolong orang Yahudi yang berbahasa Aram supaya lebih memahami Kitab Suci Ibrani. Berbeda dari terjemahan yang ketat, Targum sering mengembangkan teks dengan penjelasan, wawasan teologis, dan catatan lainnya untuk memadukan terjemahan dengan penafsiran. Walaupun kata \u201cTargum\u201d secara harfiah berarti \u201cterjemahan\u201d, itu sebenarnya bukan berarti terjemahan dalam pengertian modern. Ketika seseorang mempelajari teks Alkitab itu dalam dialog umum\u00a0 dengan orang percaya lainnya, targum berfungsi sebagai alat penafsiran dan interaktif.<\/p>\n<p><strong>Midrash<\/strong> adalah tradisi rabinik untuk menggali Kitab Suci secara mendalam, ditandai dengan melampaui makna harfiah teks. Midrash hadir dalam dua bentuk utama, salah satunya\u2014Midrash Aggadah\u2014yang sangat relevan. Bentuk ini meneliti narasi, moral, dan ajaran teologis melalui penafsiran yang kreatif. Dikembangkan antara tahun 200 hingga 1000 M, midrashim berupaya menjawab ambiguitas, mengisi celah narasi, dan menarik pelajaran yang melampaui waktu dari Kitab Suci. Metode penafsiran Yahudi yang dinamis ini menjaga teks Alkitab tetap hidup, memungkinkan setiap generasi untuk terlibat dengan kebijaksanaannya dengan cara-cara baru, tetapi juga berisiko tinggi mengaburkan wahyu Alkitab itu sendiri dengan kebijaksanaan dari orang-orang yang sebenarnya bermaksud baik tetapi seringkali salah informasi dan dipengaruhi\u00a0oleh ideologinya sendiri.<\/p>\n<p>Setelah mendefinisikan ketiga konsep penting yang disebutkan di atas untuk tafsiran yang bertanggung jawab terhadap teks-teks di luar alkitab (Pseudepigrapha, Targum, dan Midrash), sekarang kita dapat meninjau beberapa contoh yang representatif. Di bawah ini, kami telah memilih untuk menyoroti beberapa topik, di antara banyak topik lainnya.<\/p>\n<p><strong>Transformasi Menjadi Makhluk Surgawi<\/strong><\/p>\n<p>Ada banyak rujukan tentang Henokh yang berkaitan dengan pemuliaannya dari manusia menjadi makhluk surgawi. Beberapa contohnya:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cDan Tuhan berkata kepada Mikhael: \u2018Ambillah Henokh, lepaskan pakaian duniawinya, urapi dia dengan minyak harum-Ku, dan pakaikan kepadanya pakaian kemuliaan-Ku.\u2019\u201d (2 Henokh 22:8)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cDan Tuhan memanggil aku dan berkata: \u2018Henokh, duduklah di sebelah kiri-Ku bersama Gabriel.\u2019\u201d (2 Henokh 24:1)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cAku memandang diriku sendiri, dan aku menjadi seperti salah satu dari mereka yang mulia, dan tidak ada perbedaan yang tampak.\u201d (2 Henokh 22:10)<\/p>\n<p>Dalam ranah surgawi, Henokh diubah menjadi makhluk seperti malaikat dan diberi kedudukan tinggi dalam hirarki surgawi. Walaupun sebelumnya ia hanyalah manusia biasa, kini tidak terlihat perbedaan antara dirinya dan makhluk-makhluk surgawi yang perkasa. (menurut kesaksiannya sendiri).<\/p>\n<p><strong>Henokh sebagai Sekretaris Surgawi<\/strong><\/p>\n<p>Referensi yang berkaitan dengan Henokh juga berhubungan dengan peran barunya sebagai sekretaris, juru tulis, perantara surgawi yang berkuasa. Berikut beberapa contohnya:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cDan Ia berkata kepadaku: \u2018Henokh, engkau juru tulis yang saleh, pergilah dan nyatakan kepada para Penjaga sorga yang telah meninggalkan sorga yang tinggi\u2026\u2019\u201d (1 Henokh 15:1)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cHenokh, juru tulis yang benar, diutus untuk memberitakan penghakiman kepada para Penjaga.\u201d (1 Henokh 12:4)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cHenokh ditempatkan di Taman untuk menulis penghakiman dan mengajarkan kebenaran kepada para malaikat.\u201d (Yobel 10:17)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cHenokh, sang juru tulis, diangkat ke surga untuk menjadi perantara bagi para Penjaga.\u201d (Kitab Para Raksasa, Gulungan Laut Mati 4Q530)<\/p>\n<p>Teks-teks Henokh dari 1 Henokh, Yobel, dan Kitab Para Raksasa menggambarkan Henokh sebagai juru tulis yang benar dan pendoa syafaat yang menyampaikan penghakiman ilahi kepada para Penjaga\u2014malaikat yang jatuh, menurut 1 Henokh 6\u201311, meninggalkan peran ilahi mereka, kawin dengan manusia perempuan, dan merusak bumi hingga mendatangkan Air Bah. Tradisi tentang sosok saleh yang menyatakan penghakiman kepada makhluk spiritual yang memberontak ini selaras dengan rujukan dalam surat-surat Perjanjian Baru yang dikaitkan dengan Petrus, terutama 1 Petrus 3:19\u201320; 2 Petrus 2:4\u20135, di mana Kristus digambarkan memberitakan Injil kepada \u201croh-roh dalam penjara\u201d dan penghakiman atas malaikat dikaitkan dengan zaman Nuh. Baik teks Henokh maupun Petrus sama-sama mengacu pada kerangka teologis yang sama yang berakar pada tradisi Yudaisme Bait Suci Kedua tentang keadilan ilahi, kejatuhan malaikat, dan masa sebelum banjir besar. Namun Petrus menafsirkan kerangka ini dari sudut pandang Kristologi, menekankan otoritas Ilahi Kristus, karya penebusan, dan kemenangan mutlak, bertolak belakang dengan peran Henokh yang manusia, juru tulis dan perantara.<\/p>\n<p><strong>Transformasi Henokh Menjadi Metatron<\/strong><\/p>\n<p>Tradisi Henokh yang paling menarik, muncul dalam 3 Henokh dari abad ke-5\u20136 M, jauh lebih kemudian dibanding 1 dan 2 Henokh (\u00b1300 SM\u2013200 M). Teks ini menjelaskan secara rinci pengagungan Henokh dengan implikasi teologis yang mencolok (namun tidak dapat diterima) baik oleh Yudaisme maupun Kekristenan.<\/p>\n<p>Dalam 3 Henokh, Rabbi Ishmael melakukan perjalanan ke surga, di mana ia bertemu dengan Metatron. Metatron tampaknya adalah malaikat tertinggi (mirip dengan konsep Malaikat Tuhan), yang sering diidentifikasikan sebagai Henokh, yang berubah menjadi makhluk surgawi. Ia melayani sebagai juru tulis Allah, mencatat perbuatan manusia dan peristiwa kosmik, serta bertindak sebagai perantara ilahi. Asal-usul namanya tidak pasti, dan ada banyak teori yang diajukan namun kemungkinan besar nama Metatron meskipun diucapkan dalam bahasa Ibrani, berasal dari frasa Yunani <em>meta thronos<\/em>, yang berarti \u201cdi samping takhta\u201d.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cRabi Ismael berkata: Yang Kudus, terpujilah Dia, mengambil aku dan mengangkat aku ke tempat tinggi\u2026 dan Ia memperlihatkan kepadaku Metatron, hamba-Nya\u2026 dan Ia berkata kepadaku: \u2018Inilah Henokh, anak Yared\u2026 yang Kuambil dari antara mereka dan Kuangkat untuk melayani di hadapan Takhta Kemuliaan-Ku.\u2019\u201d (3 Henokh 4:1\u201310)<\/p>\n<p>Status Metatron semakin ditegaskan:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cYang Kudus\u2026 mengangkat aku (Metatron) sebagai pangeran dan penguasa atas semua pemimpin kerajaan\u2026 dan Ia menulis dengan jari-Nya, seperti pena api, pada mahkota di kepalaku huruf-huruf yang dengannya langit dan bumi diciptakan.\u201d (3 Henokh 10:3\u20136)<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cYang Kudus\u2026 meletakkan tangan-Nya ke atasku dan memberkatiku dengan 1.365.000 berkat\u2026 Aku membesar dan bertambah besar hingga panjang dan lebarku sama dengan dunia. Ia menjadikan takhtaku seperti takhta-Nya dan kemuliaanku seperti kemuliaan-Nya\u2026 dan Ia menyebut aku \u2018YHWH yang lebih kecil\u2019 di hadapan bala tentara sorgawi-Nya.\u201d (3 Henokh 6:1)<\/p>\n<p>Gelar \u201cYHWH yang lebih kecil\u201d (\u05d9\u05d4\u05d5\u05d4 \u05e7\u05d8\u05df) bagi seorang manusia yang dimuliakan menimbulkan tantangan teologis besar. Dalam Kekristenan, hal ini bertentangan dengan iman bahwa Yesus Kristus adalah Firman Allah yang kekal, setara dengan Bapa dalam kuasa dan kemuliaan (Yoh. 1:1, 14), yang dimuliakan kembali pada saat kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, bukan manusia yang dinaikkan statusnya menjadi ilahi seperti dalam kasus Henokh. Dalam Yudaisme, keberadaan sosok maha kuasa kedua di surga mengancam pandangan monoteisme yang dianut tanpa kompromi.<\/p>\n<p>Sebuah kisah paralel dalam Talmud Babilonia (Hagigah 15a) dari periode yang kurang lebih sama, menceritakan empat rabi yang mengunjungi Firdaus. Pertemuan mereka dengan Metatron berdampak besar: hanya satu yang kembali dengan selamat, satu meninggal, satu kehilangan akal sehat, dan Elisa ben Abuyah (yang disebut Aher, artinya \u201cyang lain\u201d setelah menjadi seorang Yahudi Kristen) bereaksi secara terlarang:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">\u201cAher melihat Metatron duduk dan menulis jasa-jasa Israel. Ia berkata: \u2018Bukankah diajarkan bahwa di tempat tinggi tidak ada yang duduk, tidak ada persaingan\u2026 Mungkinkah\u2014jangan sampai!\u2014ada dua penguasa di sorga?!\u2019\u201d (Talmud Babilonia, Hagigah 15a)<\/p>\n<p>Kisah ini mengungkapkan bahwa, meskipun menaati perintah Tuhan, Metatron gagal berdiri ketika para rabi mendekat, sehingga menimbulkan kebingungan di antara mereka. Karena itu, ia ditegur dan dicambuk dengan empat puluh cambukan api oleh sosok-sosok malaikat, yang menegaskan bahwa hanya ada satu otoritas yang berkuasa di surga.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Tradisi Henokh, dengan kisah tentang kenaikannya, tugas-tugas surgawinya, dan transformasinya menjadi Metatron yang semarak, mengajak kita menyelami imajinasi tanpa batas dari pemikiran Yahudi kuno dan Kristen mula-mula. Dirangkai dari Pseudepigrapha, Targum, dan Midrash, teks-teks ini merupakan upaya yang tulus untuk memahami misteri dari kisah singkat tentang Henokh dalam Kitab Kejadian 5:21\u201324. Sebagai peninggalan sejarah, mereka memberi cahaya untuk pencarian teologis dan semangat kreativitas dari komunitas kuno, namun sifat tafsiran dan asal-usulnya yang muncul jauh kemudian (\u00b1300 SM\u2013abad ke-6 M) mengingatkan kita bahwa mereka bukan suara wahyu ilahi yang tanpa salah.<\/p>\n<p>Teks-teks Henokh, yang sering disebut-sebut sebagai \u201ckitab yang hilang dari Alkitab\u201d, sangat bertolak belakang dengan ajaran dalam Perjanjian Baru\u2014itulah sebabnya mereka tidak pernah masuk dalam kanon sebagai Firman Allah. Narasi tafsirnya menyimpang dari kesaksian Kitab Suci yang jelas, khususnya terkait penghakiman dan otoritas ilahi. Dalam tradisi Henokh, Air Bah dikaitkan dengan pelanggaran \u201canak-anak Allah\u201d yang menikahi manusia perempuan, sangat berbeda dengan Perjanjian Baru yang menekankan pada dosa manusia sebagai penyebab penghakiman Allah (Roma 5:12). Selain itu, penggambaran Henokh sebagai figur mirip Kristus yang memberitakan Injil kepada roh-roh yang terpenjara mengaburkan otoritas unik Kristus sebagaimana dinyatakan dalam 1 Petrus 3:19\u201320. Paling mencolok, pengangkatan Henokh menjadi Metatron, \u201cYHWH yang lebih kecil\u201d (3 Henokh 6:1), bertentangan dengan Kristologi tinggi dalam Injil Yohanes yang menegaskan bahwa Kristus adalah penguasa kedua di surga\u2014bukan Henokh (Yoh. 1:1, 14). Perbedaan-perbedaan ini menyoroti jurang teologis antara kisah Henokh dan pesan Perjanjian Baru, sekaligus menunjukkan bahwa keduanya berakar pada kekayaan sumber yang sama yaitu Yudaisme kuno.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah Henokh dalam Alkitab yang singkat dan penuh misteri sudah sejak lama memikat perhatian baik orang Yahudi maupun Kristen. Hal itu membuat mereka sangat ingin tahu tentang kehidupannya dan, terlebih lagi, tentang akhir hidupnya yang misterius. Kitab Kejadian memperkenalkan Henokh dengan sangat ringkas, hampir tanpa penjelasan mengenai siapa dia\u00a0 atau mengapa ia diangkat oleh Allah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":8578,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[419],"tags":[],"class_list":{"0":"post-16350","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-hot-topics-id"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v26.6) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II) - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II)\",\"datePublished\":\"2026-03-11T12:31:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/\"},\"wordCount\":1738,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif\",\"articleSection\":[\"Topik Hangat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/\",\"name\":\"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II) - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif\",\"datePublished\":\"2026-03-11T12:31:17+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif\",\"width\":320,\"height\":242},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/drelisblog.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II) - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II)","datePublished":"2026-03-11T12:31:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/"},"wordCount":1738,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif","articleSection":["Topik Hangat"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/","name":"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II) - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif","datePublished":"2026-03-11T12:31:17+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#primaryimage","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/u7423123591_ancient_man_going_up_to_heaven_-ar_7758_-motion_cd33fd65-4db5-442e-a6ce-ec4c43c01dd9_2-2.gif","width":320,"height":242},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/apa-yang-terjadi-dengan-henokh-bagian-ii\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apa yang Terjadi dengan Henokh? (Bagian II)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/drelisblog.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16350","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16350"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16350\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8578"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16350"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16350"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16350"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}