{"id":16742,"date":"2026-03-30T17:45:44","date_gmt":"2026-03-30T14:45:44","guid":{"rendered":"https:\/\/drelisblog.com\/?p=16742"},"modified":"2026-03-30T17:45:44","modified_gmt":"2026-03-30T14:45:44","slug":"seni-berdebat-dengan-allah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/","title":{"rendered":"Seni Berdebat dengan Allah"},"content":{"rendered":"<p>Dalam imajinasi yang populer, Abraham sering dipandang sebagai sosok yang memiliki iman sejati\u2014bapa leluhur yang meninggalkan tanah kelahirannya karena janji ilahi, dan dalam ujian ketaatan tertinggi, rela mengorbankan anaknya. Namun di dalam Kitab Kejadian, sebelum drama di Gunung Moria, terdapat potret lain yang tidak kalah mendalam: Abraham, yang berani berdebat dengan Allah.<\/p>\n<p>Dalam Kejadian 18, kita menemukan Abraham dalam peran yang mengejutkan karena \u00a0keberaniannya. Ia bukan sekadar penerima wahyu Ilahi yang pasif, melainkan seorang yang aktif dalam sebuah negosiasi moral dan hukum dengan Hakim tertinggi alam semesta.<\/p>\n<p><strong>Keberanian Debu dan Abu<\/strong><\/p>\n<p>Adegan dimulai ketika Abraham menjamu tiga tamu misterius di pohon-pohon tarbantin di Mamre. Seiring cerita berkembang, ia menyadari bahwa mereka bukanlah pengembara biasa; mereka adalah utusan surgawi, dan salah satu dari mereka adalah TUHAN sendiri. Ketika dua malaikat berangkat menuju Sodom, TUHAN tetap tinggal. Didorong oleh urgensi moral, Abraham maju mendekat. Menyadari keseriusan penghakiman yang akan datang atas kota-kota di lembah, ia berani mengajukan permohonan tentang keputusan yang tampaknya sudah final\u2014bahwa Sodom akan dimusnahkan.<\/p>\n<p>Permohonannya yang pertama merupakan teladan yang luar biasa dalam perdebatan teologis. Berdasarkan karakter YHWH sendiri dan reputasi-Nya, ia mengajukan pertanyaan yang bergema sepanjang sejarah pemikiran religius dan filosofis: \u201cMasakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?\u201d (Kej 18:25, TB). Frasa bahasa Ibrani yang mendahuluinya, \u05d7\u05b8\u05dc\u05b4\u05dc\u05b8\u05d4 \u05dc\u05bc\u05b0\u05da\u05b8 (<em>chalilah lekha<\/em>), adalah ungkapan protes yang kuat\u2014kira-kira berarti, \u201cJauhlah kiranya hal itu dari pada-Mu\u201d atau \u201cKiranya itu jangan terjadi.\u201d<\/p>\n<p>Nada Abraham bukanlah permohonan yang penuh ketakutan, melainkan konfrontasi yang penuh hormat: \u201cJika Engkau melakukan hal itu, bukankah itu bertentangan dengan karakter-Mu sendiri? Hakim seluruh bumi yang melenyapkan orang benar bersama orang fasik akan melanggar keadilan yang menjadi dasar pemerintahan-Nya!\u201d<\/p>\n<p>Selanjutnya dalam Kejadian 18:23\u201333 terdapat dialog bolak-balik yang telah menarik perhatian para penafsir selama ribuan tahun. Abraham memulai dengan sebuah kemungkinan: jika ada lima puluh orang benar di Sodom, apakah Allah tetap akan memusnahkan kota itu? TUHAN menjawab, \u201cJika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka\u201d (Kej 18:26, TB).<\/p>\n<p>Dengan semakin berani, Abraham melanjutkan negosiasinya\u2014namun bukan tanpa pengakuan mendalam akan kemanusiaannya. Sebelum melanjutkan, ia berkata: \u201cSesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku ini debu dan abu\u201d (Kej 18:27, TB). Frasa Ibrani \u05d0\u05b8\u05e0\u05b9\u05db\u05b4\u05d9 \u05e2\u05b8\u05e4\u05b8\u05e8 \u05d5\u05b8\u05d0\u05b5\u05e4\u05b6\u05e8 (<em>anokhi afar va-efer<\/em>) menggemakan Bahasa dalam penciptaan. Dalam Kejadian 2:7, manusia dibentuk dari <em>afar<\/em>, debu tanah. Abraham, yang sepenuhnya sadar akan jurang pemisah antara Sang Pencipta yang kekal dan ciptaan yang fana, mendasarkan keberaniannya pada kerendahan hati. Ia tahu bahwa ia sedang berdebat dengan Penciptanya, namun justru karena hubungannya dengan debu manusia pertama itu memberinya alasan untuk peduli terhadap nasib umat manusia yang rapuh.<\/p>\n<p><strong>Kuasa Angka Sepuluh<\/strong><\/p>\n<p>Abraham kemudian menurunkan jumlah itu\u2014dari lima puluh menjadi empat puluh lima, lalu empat puluh, tiga puluh, dua puluh, dan akhirnya sepuluh. Setiap kali, TUHAN setuju untuk menyelamatkan seluruh kota demi sejumlah kecil orang benar. Logika Abraham tidak tergoyahkan: \u201cSekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?\u201d (Kej 18:28, TB). Melalui dialog ini, belas kasihan ilahi semakin dinyatakan: Allah bukanlah hakim kaku yang menuntut kuota tertentu, melainkan Raja yang penuh kasih, yang rela memperluas anugerah demi orang benar yang tersisa.<\/p>\n<p>Narasi ini berhenti pada angka sepuluh\u2014sebuah angka yang memiliki makna besar di kemudian hari dalam tradisi Yahudi. Doa syafaat Abraham tidak menyelamatkan Sodom\u2014kota itu bahkan tidak memiliki sepuluh orang benar\u2014namun negosiasinya menetapkan sebuah prinsip yang bertahan lama. Talmud dan Yudaisme rabinik kemudian melihat dialog ini sebagai salah satu dasar bagi <em>minyan<\/em>, yaitu kuorum sepuluh orang Yahudi dewasa yang diperlukan untuk doa-doa komunitas tertentu. Dengan demikian, kisah ini menegaskan kuasa spiritual yang besar dari komunitas orang benar: nasib banyak orang berdosa, tampaknya, terikat pada kehadiran segelintir orang benar.<\/p>\n<p><strong>Sisa Orang Benar : Satu<\/strong><\/p>\n<p>Namun, sekuat apa pun negosiasi Abraham, pada akhirnya hal itu tidak cukup. Sepuluh orang benar itu tidak ada. Kota itu pun jatuh. Prinsip kuno tentang \u201csisa orang benar\u201d yang ditetapkan di Mamre ini bukanlah akhir kata; itu adalah petunjuk, bayangan dari suatu syafaat yang lebih sempurna yang akan datang. Ia mempersiapkan panggung bagi sebuah drama di mana Allah akan menjawab pertanyaan Abraham\u2014\u201cMasakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?\u201d\u2014dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.<\/p>\n<p>Ketika Mesias Israel yang benar mati di kayu salib Romawi, Ia bertindak sebagai pengantara bagi umat Israel yang berdosa dan juga bagi dunia. Kebenaran-Nya menjadi perisai bagi kita semua dari murka Allah Yang Mahakuasa. Ia menjadi satu-satunya perisai kebenaran, menanggung penghakiman yang Abraham takutkan, sehingga melalui kebenaran-Nya, banyak orang dapat diselamatkan.<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Negosiasi Abraham yang berani di Mamre mengungkapkan Allah yang menyambut argumentasi yang jujur, bukan sekedar penerimaan pasif. Namun bahkan syafaat sang patriark yang tak kenal lelah\u2014yang menurunkan jumlah orang benar dari lima puluh menjadi sepuluh\u2014tidak dapat menyelamatkan Sodom. Kota itu bahkan tidak memiliki segelintir orang benar.<\/p>\n<p>Prinsip kuno ini bukanlah akhir kata; ia hanyalah bayangan yang menunjuk kepada syafaat yang lebih besar. Ketika Abraham berhenti pada jumlah sepuluh, Mesias turun menjadi satu. Di atas salib, Satu-satunya Sang Kebenaran menanggung penghakiman yang ditakuti Abraham, menjawab pertanyaan itu untuk selamanya: \u201cMasakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?\u201d Ia telah melakukannya\u2014menggantikan yang bersalah dengan Yang Tidak Bersalah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam imajinasi yang populer, Abraham sering dipandang sebagai sosok yang memiliki iman sejati\u2014bapa leluhur yang meninggalkan tanah kelahirannya karena janji ilahi, dan dalam ujian ketaatan tertinggi, rela mengorbankan anaknya. Namun di dalam Kitab Kejadian, sebelum drama di Gunung Moria, terdapat potret lain yang tidak kalah mendalam: Abraham, yang berani berdebat dengan Allah. Dalam Kejadian 18, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":16613,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[424],"tags":[],"class_list":{"0":"post-16742","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-torah-id"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v26.6) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Seni Berdebat dengan Allah - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Seni Berdebat dengan Allah\",\"datePublished\":\"2026-03-30T14:45:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/\"},\"wordCount\":853,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif\",\"articleSection\":[\"Taurat\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/\",\"name\":\"Seni Berdebat dengan Allah - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif\",\"datePublished\":\"2026-03-30T14:45:44+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif\",\"width\":320,\"height\":213},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Seni Berdebat dengan Allah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/drelisblog.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Seni Berdebat dengan Allah - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Seni Berdebat dengan Allah","datePublished":"2026-03-30T14:45:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/"},"wordCount":853,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif","articleSection":["Taurat"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/","name":"Seni Berdebat dengan Allah - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif","datePublished":"2026-03-30T14:45:44+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#primaryimage","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2026\/03\/u7423123591_A_conceptual_illustration_of_a_legal_negotiation__4bcde337-1b89-43c3-b8d1-e7bb7bc8687a_1.gif","width":320,"height":213},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/seni-berdebat-dengan-allah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Seni Berdebat dengan Allah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/drelisblog.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16742","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16742"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16742\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16613"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16742"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16742"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16742"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}