{"id":16833,"date":"2026-04-06T13:22:42","date_gmt":"2026-04-06T10:22:42","guid":{"rendered":"https:\/\/drelisblog.com\/?p=16833"},"modified":"2026-04-06T13:22:42","modified_gmt":"2026-04-06T10:22:42","slug":"biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/","title":{"rendered":"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka"},"content":{"rendered":"<p>\u201cBiarkan aku pergi dahulu untuk menguburkan ayahku.\u201d Permintaan dari seorang calon murid ini, dan jawaban Yesus yang mengejutkan\u2014\u201cIkutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka\u201d\u2014telah mengusik para pembaca selama dua ribu tahun. Sepintas, perkataan ini tampak mempertentangkan urgensi pemuridan dengan perintah mendasar untuk menghormati orang tua. Namun, wawasan dari praktik penguburan Yahudi abad pertama menunjukkan bahwa permintaan orang ini kemungkinan besar bukan tentang pemakaman yang harus segera dilakukan, melainkan tentang kewajiban keluarga di masa depan yang masih lama. Memahami konteks budaya ini menolong kita melihat bahwa Yesus tidak mengabaikan kewajiban berbakti kepada orang tua, melainkan menentang penundaan yang menempatkan transformasi dan panggilan Allah yang mendesak dibandingkan\u00a0 kenyamanan yang lebih mudah diatur di kemudian hari.<\/p>\n<p><strong>Konteks Alkitabiah<\/strong><\/p>\n<p>Dalam Matius 8:18\u201322, di tengah Yesus menunjukkan kuasaNya\u2014menyembuhkan orang sakit, meredakan badai, dan mengusir setan\u2014dua orang calon pengikut datang kepada-Nya. Seorang ahli Taurat menyatakan kesetiaan yang antusias, tetapi Yesus memperingatkan harga yang harus dibayar: \u201cAnak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.\u201d Kemudian seorang lain berkata, \u201cTuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.\u201d Tetapi Yesus berkata kepadanya: \u201cIkutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.\u201d<\/p>\n<p>Lukas 9:57\u201362 mencatat percakapan serupa ketika Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, bahkan menambahkan orang ketiga yang ingin berpamitan dengan keluarganya. Yesus menjawab: \u201cSetiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.\u201d<\/p>\n<p>Kedua Injil ini menegaskan bahwa pemuridan menuntut prioritas mutlak\u2014melebihi keamanan, kewajiban keluarga, dan norma sosial. Matius menyoroti harga pemuridan di tengah mujizat; sedangkan Lukas menekankan komitmen ke depan dalam perjalanan menuju salib.<\/p>\n<p><strong>Bagian-Bagian Penting<\/strong><\/p>\n<p>Setelah melihat konteksnya, sekarang marilah kita melihat lebih dekat teksnya:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><strong><sup>21<\/sup><\/strong> Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: \u2018Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.\u2019 <strong><sup>22<\/sup><\/strong> Tetapi Yesus berkata kepadanya: \u2018Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.\u201d (Matius 8:21\u201322 TB)<strong><\/p>\n<p><\/strong><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><strong><sup>59<\/sup><\/strong> Lalu Ia berkata kepada seorang lain: \u2018Ikutlah Aku!\u2019 Tetapi orang itu berkata: \u2018Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.\u2019 <strong><sup>60<\/sup><\/strong> Tetapi Yesus berkata kepadanya: \u2018Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana. (Lukas 9:59\u201360 TB)<\/p>\n<p>Walaupun terdapat perbedaan kecil, keduanya menyampaikan pesan yang sama dalam versi yang agak berbeda. Kesulitan muncul karena Yesus tampak mengabaikan salah satu dari Sepuluh Perintah Allah:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.(Keluaran 20:12 ;\u00a0 Ul 5:16 TB)<\/p>\n<p>Menghadiri pemakaman ayah dan mengucapkan perpisahan kepada sosok yang berperan besar dalam kelahiran dan pertumbuhan seseorang tampaknya adalah bentuk penghormatan yang jelas.<\/p>\n<p>Keprihatinan ini semakin mendalam karena tradisi Yahudi pada periode Bait Suci Kedua, di mana penguburan yang layak bagi orang mati dianggap sebagai tindakan kesalehan dan amal yang mendalam. Misalnya, Kitab <em>Sirakh<\/em> (Sirakh, disusun sekitar tahun 180 SM) menekankan penghormatan kepada orang tua, termasuk perawatan di masa tua dan peringatan yang layak setelah kematian (Sirakh 3:1\u201316; 7:27\u201328). Dalam Kitab Tobit (sebuah teks yang sangat dihormati dalam Yudaisme Bait Suci Kedua, yang disusun sekitar tahun 200 SM), Tobit berulang kali mempertaruhkan nyawanya untuk menguburkan sesama orang Yahudi yang belum dimakamkan, menganggapnya sebagai salah satu perbuatan saleh utamanya (Tobit 1:16\u201320; 2:3\u20138).<\/p>\n<p>Demikian pula, sejarawan Josephus (yang menulis pada akhir abad pertama Masehi) mencatat bahwa bahkan orang Yahudi yang lewat diharapkan untuk bergabung dalam prosesi pemakaman untuk meratap (<em>Against Apion<\/em> 2.205). Dalam sumber-sumber rabbinik selanjutnya, yang mencerminkan tradisi yang berasal dari era ini tetapi dikategorikan kemudian, lebih lanjut menekankan penguburan sebagai mitzvah kebaikan tertinggi, dengan kewajiban tersebut terutama dibebankan kepada anak laki-laki (Mishnah Sanhedrin 6:5).<\/p>\n<p><strong>Berbagai Penafsiran<\/strong><\/p>\n<p>Secara historis, para penafsir Kristen, termasuk Bapa-bapa Gereja seperti Yohanes Krisostomus dan Agustinus, memahami perkataan Yesus\u2014&#8221;Ikutlah Aku, dan biarlah orang mati menguburkan orang mati mereka sendiri&#8221; (Matius 8:21-22; Lukas 9:59-60)\u2014sebagai seruan metaforis untuk memprioritaskan kerajaan Allah secara radikal bahkan lebih penting daripada tugas-tugas duniawi yang sakral.<\/p>\n<p>Mereka memandang &#8220;orang mati&#8221; sebagai orang yang mati secara rohani (orang yang tidak percaya atau mereka yang acuh tak acuh terhadap panggilan Tuhan) yang mampu menjalani pemakaman fisik. Hal ini menekankan kesetiaan langsung kepada Kristus, dan seringkali menganggap permintaan tersebut sebagai alasan untuk menunda.<\/p>\n<p>Namun, banyak sarjana modern memahami ungkapan \u201cmenguburkan ayahku\u201d sebagai idiom, yang berarti menunggu sampai ayah yang masih hidup itu meninggal dan memenuhi kewajiban keluarga\/warisan\u2014yang bisa terjadi bertahun-tahun kemudian. Ini menunjukkan bahwa permintaan tersebut sebenarnya adalah bentuk penundaan.<\/p>\n<p><strong>Wawasan penting dari Arkeologi: Penguburan Kedua<\/strong><\/p>\n<p>Wawasan arkeologis terbaru mengenai kebiasaan penguburan orang Yahudi abad pertama memberikan solusi yang lebih jelas, dan mungkin lebih bertanggung jawab, terhadap dilema ini.<\/p>\n<p>Gagasan utama yang memberikan perspektif mendalam pada teks ini adalah bahwa orang Yahudi pada zaman Yesus tidak mengubur orang mati mereka sekali saja, melainkan dua kali. Kita sudah familiar dengan penguburan pertama (pikirkan tentang Lazarus atau Yesus sendiri, keduanya dimakamkan di gua). Inilah yang dijelaskan dalam Injil Yohanes:<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><strong><sup>39<\/sup><\/strong> Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. <strong><sup>40<\/sup><\/strong> Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.\u201d (Yohanes 19:39\u201340 TB)<\/p>\n<p>Arkeologi memberikan bukti yang sangat kuat bahwa ada juga penguburan kedua. Ritual ini, yang dikenal sebagai ossilegium, bukanlah ritual eksklusif Yahudi tetapi merupakan praktik yang lebih disukai di kalangan orang Yahudi selama berabad-abad sebelum dan sesudah zaman Yesus. Hal ini terutama berlaku di Yudea, meskipun praktik ini juga dikenal di tempat-tempat yang lebih terpencil seperti Galilea.<\/p>\n<p>Jenazah, yang dibungkus kain kafan, dibiarkan di dalam gua makam untuk jangka waktu yang lama (seringkali sekitar satu tahun) agar membusuk. Kemudian, seseorang yang memahami praktik penguburan Yahudi akan masuk, memeriksa sisa-sisa jenazah, dan\u2014setelah sebagian besar hanya tersisa tulang\u2014mengumpulkannya, menempatkannya di dalam <em>ossuary<\/em> (kotak tulang dari batu kapur), dan menyimpan kotak tersebut di ceruk atau ruang terpisah di dalam makam keluarga.<\/p>\n<p>Meskipun sang putra tentu akan hadir atau terlibat dalam mengatur proses ini sebagai tindakan bakti kepada orang tua, ia sendiri kemungkinan besar tidak akan secara pribadi menangani tulang-tulang ayahnya. Biasanya, orang lain dari komunitaslah yang melakukan tugas langsung tersebut.<\/p>\n<p>Salah satu &#8220;traktat kecil&#8221; (masechtot qetanot) yang dilampirkan pada edisi Talmud Babilonia adalah Traktat Semahot, sebuah traktat kecil dalam literatur rabbinik. Ini adalah teks rabbinik komprehensif klasik dan tertua yang didedikasikan untuk hukum dan adat istiadat yang berkaitan dengan kematian, penguburan, berkabung, dan upacara pemakaman.<\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\">Rabbi Eleazar bar Zadok berkata, \u201cDemikianlah kata ayahku menjelang kematiannya: \u2018Anakku, kuburkanlah aku terlebih dahulu di dalam parit. Nanti, kumpulkanlah tulang-tulangku dan letakkanlah di dalam ossuary, tetapi janganlah engkau mengumpulkannya dengan tanganmu sendiri.\u2019\u201d (Traktat Semahot (Evel Rabbati) 12:9)<\/p>\n<p>Oleh karena itu, jika penafsiran ini benar, calon murid yang diajak bicara Yesus kemungkinan adalah seorang pria yang ayahnya telah meninggal beberapa waktu lalu\u2014tetapi pemakaman keduanya (ossilegium) belum dilakukan. Pria itu meminta untuk menunda mengikuti Yesus sampai upacara terakhir ini selesai. Dia menggunakannya sebagai alasan, menjelaskan mengapa ketaatan radikal terhadap panggilan Kristus dan pemberitaan tentang kedatangan Kerajaan Allah datang pada saat yang kurang tepat dalam hidupnya.<\/p>\n<p>Namun bagaimana dengan jawaban Yesus yang penuh teka-teki, &#8220;Biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka sendiri&#8221;?<\/p>\n<p>Dalam konteks praktik penguburan kedua Yahudi abad pertama, ungkapan ini mengandung ironi yang mendalam dan sangat sesuai dengan realita budaya.<\/p>\n<p>Salah satu penjelasan yang masuk akal terletak pada kenajisan dalam ritual: orang-orang yang berpengetahuan yang menangani penguburan kedua ini masuk makam untuk mengumpulkan dan memindahkan tulang-tulang (seringkali dilakukan oleh anggota komunitas, bukan putranya sendiri), mereka sementara akan tertular kenajisan karena bersentuhan dengan orang mati (Bilangan 19:11, 14\u201316). Dalam bahasa Yunani, \u03bd\u03b5\u03ba\u03c1\u03bf\u03cd\u03c2 dapat menyebabkan mereka sementara &#8220;mati&#8221; dalam arti ritual\u2014najis dan terpisah\u2014saat melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan orang mati tersebut. Pergeseran arti ketika diterjemahkan dari bahasa Aram (atau bahasa Ibrani) yang diucapkan Yesus ke dalam bahasa Yunani dalam Injil mungkin semakin memperbesar perbedaan makna bagi para pembaca di kemudian hari yang jauh dari kebiasaan tersebut.<\/p>\n<p>Kemungkinan yang lebih mencolok dan banyak diperhatikan adalah penggunaan ironi yang tajam dan jenaka oleh Yesus untuk mengungkap penundaan pria itu. Calon murid itu mengklaim adanya urgensi\u2014&#8221;Biarlah aku pergi dan menguburkan ayahku terlebih dahulu&#8221;\u2014namun penguburan kedua (ossilegium) tidak akan terjadi selama berbulan-bulan, setelah pembusukan sempurna. Makam keluarga biasanya berisi beberapa jenazah dalam berbagai tahap: beberapa baru saja dimakamkan, masih utuh; yang lain sudah tinggal tulang belulang di dalam osuarium atau ceruk.<\/p>\n<p>Yesus menjawab, pada intinya: \u201cBiarlah orang mati (tulang-tulang kering orang yang telah meninggal sebelumnya yang sudah ada di dalam kubur) \u2018menguburkan\u2019 orang mati mereka sendiri (menangani sisa-sisa orang yang masih membusuk, seperti ayah mu). Kamu telah memenuhi penguburan utama\u2014jangan menunda kewajiban di masa depan ini dan ikuti Aku sekarang.\u201d<\/p>\n<p>Tafsiran ini menekankan hal yang tidak masuk akal: secara harfiah, jenazah tidak dapat\u00a0 menguburkan siapa pun, sehingga menyoroti tidak pentingnya alasan-alasan tersebut dibandingkan dengan tuntutan Kerajaan Allah yang mendesak. Seperti yang terlihat dalam bukti arkeologis dari makam-makam di daerah Yerusalem dan tercermin dalam sumber-sumber seperti Traktat Semahot, beberapa generasi berada di dalam gua-gua ini, membuat permainan kata-kata Yesus sejalan dengan budaya dan sangat bermakna.<\/p>\n<p>Meskipun penjelasan penguburan kedua sangat sesuai dengan bukti arkeologis, banyak sarjana melihat &#8216;kuburkan ayahku&#8217; sebagai ungkapan untuk menunggu kematian ayah yang masih hidup, sehingga permintaan tersebut merupakan penundaan jangka panjang. Penting untuk diingat bahwa penguburan utama harus dilakukan dengan segera (pada hari yang sama atau hari berikutnya), jadi jika sang ayah baru saja meninggal, pria itu tidak mungkin mendekati Yesus dengan santai untuk berbicara. Pengamatan ini mendukung kemungkinan bahwa sang ayah belum meninggal sama sekali (menurut mayoritas penelitian modern) atau penguburan kedua yang dimaksud (menurut minoritas penelitian modern).<\/p>\n<p><strong>Kesimpulan<\/strong><\/p>\n<p>Berbagai terjemahan membantu menyelesaikan konflik ini dengan perintah yang jelas untuk menghormati orang tua, menegaskan urgensi panggilan Yesus, dan salah satunya bahkan sesuai dengan kebiasaan orang Yahudi abad pertama yang ditemukan oleh arkeologi. Interpretasi ini menunjukkan bahwa Yesus bukanlah sosok yang tidak masuk akal, keras, atau mengabaikan kewajiban keluarga, tetapi Ia adalah orang yang sangat memahami konteks budaya dan secara tepat menantang manusia untuk menyelaraskan antara tindakan dengan kata-katanya.<\/p>\n<p>Jika dilihat melalui sudut pandang praktik orang Yahudi abad pertama, percakapan yang terkenal ini bukan lagi sebuah konflik moral yang membingungkan melainkan sebuah wahyu tentang prioritas Allah. Permintaan pria itu bukanlah tentang dukacita yang mendesak, tetapi tentang penundaan menjadi murid selama setahun atau lebih\u2014sampai upacara penguburan kedua selesai. Oleh karena itu, jawaban Yesus bukanlah menentang kewajiban berbakti kepada orang tua, tetapi memusatkan kembali kesetiaan secara radikal dalam terang Kerajaan yang akan datang.<\/p>\n<p>Kata-kata-Nya menyentuh inti pergumulan setiap murid: kecenderungan untuk menempatkan panggilan Tuhan menurut waktu kita sendiri, untuk mengabaikan pekerjaan Roh yang mendesak dengan lebih mementingkan ritme kewajiban warisan yang sebenarnya dapat diatur. Yesus mengungkapkan bahwa hal ini bukan sebagai kesalehan, tetapi sebagai penundaan\u2014suatu bentuk kematian rohani.<\/p>\n<p>Dewasa ini, panggilan Kristus tetap memiliki urgensi yang tak henti-hentinya. &#8220;Penguburan kedua&#8221; kita\u2014menyelesaikan proyek ini, mencapai momentum penting, menunggu waktu yang lebih tepat\u2014seringkali hanyalah alasan yang terlihat baik. Kerajaan Allah tidak akan menunggu kalender kita kosong. Sang Raja menuntut agar kita mengatur ulang jadwal kita untuk-Nya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cBiarkan aku pergi dahulu untuk menguburkan ayahku.\u201d Permintaan dari seorang calon murid ini, dan jawaban Yesus yang mengejutkan\u2014\u201cIkutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka\u201d\u2014telah mengusik para pembaca selama dua ribu tahun. Sepintas, perkataan ini tampak mempertentangkan urgensi pemuridan dengan perintah mendasar untuk menghormati orang tua. Namun, wawasan dari praktik penguburan Yahudi abad [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":15050,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[417],"tags":[],"class_list":{"0":"post-16833","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-gospels-id"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v26.6) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka\",\"datePublished\":\"2026-04-06T10:22:42+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/\"},\"wordCount\":1780,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif\",\"articleSection\":[\"Injil\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/\",\"name\":\"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif\",\"datePublished\":\"2026-04-06T10:22:42+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif\",\"width\":320,\"height\":242},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/drelisblog.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka","datePublished":"2026-04-06T10:22:42+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/"},"wordCount":1780,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif","articleSection":["Injil"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/","name":"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif","datePublished":"2026-04-06T10:22:42+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#primaryimage","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/dvoenov.gif","width":320,"height":242},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/biarlah-orang-mati-menguburkan-orang-mati-mereka\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Biarlah Orang Mati Menguburkan Orang Mati Mereka"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/drelisblog.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16833","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16833"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16833\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15050"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16833"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16833"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16833"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}