{"id":8910,"date":"2025-07-17T06:45:03","date_gmt":"2025-07-17T03:45:03","guid":{"rendered":"https:\/\/drelisblog.com\/?p=8910"},"modified":"2025-10-16T14:52:04","modified_gmt":"2025-10-16T11:52:04","slug":"hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/","title":{"rendered":"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas"},"content":{"rendered":"<p><strong>Hidup yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas: Menafsirkan Ulang \u05d4\u05d1\u05dc (havel) dalam Kitab Pengkhotbah<\/strong><\/p>\n<p>Kitab Qohelet\u2014yang dalam tradisi Kristen dikenal sebagai Kitab Pengkhotbah\u2014dibuka dengan pernyataan yang mengejutkan dan menyedihkan : &#8220;Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.&#8221; (Pengkhotbah 1:2, seperti yang ditulis dalam terjemahan bahasa Inggris ASV, ESV, KJV, MEV, dan NRSV, menggunakan kata \u201cvanity\u201d\u00a0 yang berarti \u201csia-sia\u201d). Terjemahan bahasa Inggris ini berasal dari kata Ibrani \u05d4\u05d1\u05dc (hevel), yang muncul lima kali hanya dalam satu ayat, menunjukkan betapa pentingnya tema dalam kitab ini. Dalam bahasa Inggris modern, \u201cvanity\u201d berarti hal yang sia-sia atau tidak berguna, membuat beberapa penerjemah versi lain (misalnya CSB, NASB, NJPS) menerjemahkan \u05d4\u05d1\u05dc sebagai \u201cfutility\u201d (kesia-siaan) atau dalam Common English Bible, sebagai \u201cperfectly pointless\u201d (sangat tidak berarti) untuk frasa \u05d4\u05d1\u05dc\u05d9\u05dd \u05d4\u05d1\u05dc(havel havalim). Namun, terjemahan-terjemahan ini gagal menyampaikan makna inti dari kata Ibrani tersebut. Sebenarnya tidaklah tepat menerjemahkannya menjadi \u201ctidak berarti\u201d, \u05d4\u05d1\u05dc lebih tepat diterjemahkan sebagai \u201csetarikan nafas,\u201d yang menggambarkan betapa singkat dan fana kehidupan ini. Bagi Pengkhotbah, hidup bukanlah tanpa tujuan, tetapi hanya sementara seperti setarikan nafas yang cepat menghilang. Perspektif ini mengubah pandangan kita tentang pesan kitab ini, menonjolkan pentingnya penyembahan kepada Allah untuk memberi makna pada keberadaan manusia yang singkat.<\/p>\n<p>Terjemahan konvensional dari kata \u05d4\u05d1\u05dc sebagai \u201ckesia-siaan\u201d atau &#8220;hampa&#8221;, membuat kita menyangka bahwa Pengkhotbah memandang kehidupan ini pada dasarnya tidak berarti atau membingungkan. Contohnya, dalam versi Contemporary English Version, Pengkhotbah 1:2 diterjemahkan, \u201cNothing makes sense! Everything is nonsense.\u201d (\u201cTidak ada yang masuk akal! Semua omong kosong!\u201d) Namun, tafsiran seperti ini sebenarnya bertentangan dengan keseluruhan isi kitab ini. Pengkhotbah mengamati alam dengan jelas dan penuh prediksi: \u201cMatahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali\u201d (Pengkhotbah 1:5-6). Dunia ini jauh dari hal yang tidak masuk akal, justru sebenarnya dunia ini berjalan dalam pola yang teratur. Bagi Pengkhotbah, masalahnya bukanlah hidup ini tidak berarti tetapi yang dimaksud adalah hidup ini tidak bertahan lama. Matahari terbit dan terbenam dengan cepat, angin berputar dan berlalu. Manusia juga seperti itu, berada dalam dunia yang singkat saja: \u201cAngkatan yang satu pergi dan angkatan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada untuk selama-lamanya\u201d (Pengkhotbah 1:4). Kontras antara bumi yang abadi dan manusia yang cepat berlalu menunjukkan bahwa \u05d4\u05d1\u05dc adalah gambaran tentang betapa singkatnya hidup, seperti setarikan nafas saja.<\/p>\n<p>Penggunaan kata \u05d4\u05d1\u05dc di bagian lain dalam Alkitab Ibrani juga memperkuat pengertian bahwa hidup itu cepat berlalu. Dalam kitab Ayub, di tengah penderitaannya, dia meratap, \u201cAku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti hembusan nafas saja (\u05d4\u05d1\u05dc)\u201d (Ayub 7:16). Kitab Mazmur juga menggambarkan sentimen yang sama kepada Tuhan: &#8220;Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku, dan bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Sungguh, hanya bayangan yang berlalu! (\u05db\u05dc-\u05d4\u05d1\u05dc; kol-hevel)\u201d (Mazmur 39:6). Demikian juga Mazmur 144:4 menambahkan, \u201cManusia sama seperti angin (\u05d4\u05d1\u05dc); hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat (\u05db\u05e6\u05dc \u05e2\u05d5\u05d1\u05e8; ketsel \u2018over).\u201d Bacaan-bacaan ini berakar dari literatur Hikmat Israel, secara konsisten memakai kata \u05d4\u05d1\u05dc untuk menggambarkan betapa singkatnya hidup ini, sama dengan setarikan nafas yang menghilang dengan cepat. Hal ini menggambarkan keadaan manusia yang sementara, bukannya tanpa arti.<\/p>\n<p>Makna \u05d4\u05d1\u05dc sebagai \u201csetarikan nafas\u201d juga memperkaya pengertian kita akan cerita penting dalam Alkitab: kisah Kain dan Habel dalam kitab Kejadian. Dalam bahasa Ibrani, nama Habel adalah Hevel (\u05d4\u05d1\u05dc), sama persis dengan kata yang dipakai dalam Pengkhotbah. Memberi nama Habel yang\u00a0 berarti \u201csetarikan nafas,\u201d merupakan pertanda bahwa hidup Habel akan sangat singkat,\u00a0 karena tak lama setelah kemunculannya, dia langsung dibunuh oleh saudaranya sendiri, Kain: \u201c..Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.\u201d (Kejadian 4:8). Hidup Habel, seperti setarikan nafas, hilang dalam waktu singkat, sejalan dengan makna dari namanya. Hubungan ini semakin diperkuat dengan narasi yang membahas nama saudaranya \u00a0tersebut. Hawa menjelaskan tentang nama Kain dengan mengatakan, \u201cAku telah mendapat (\u05e7\u05e0\u05d9\u05ea\u05d9; qaniti) seorang anak laki-laki dengan pertolongan TUHAN\u201d (Kejadian 4:1),\u00a0 yang berhubungan dengan kata kerja Ibrani \u201cmemperoleh\u201d (\u05e7\u05e0\u05d4 ; qanah). Tapi tidak ada penjelasan untuk nama Habel (Kejadian 4:2). Bagi pembaca bahasa Ibrani, mereka langsung mengerti tanpa perlu dijelaskan; singkatnya kemunculan Habel dalam kisah itu \u2014 hanya dalam enam ayat\u2014menyiratkan makna \u05d4\u05d1\u05dc sebagai kehadiran yang cepat berlalu.<\/p>\n<p>Fokus Pengkhotbah pada singkatnya hidup benar-benar menggambarkan pengalaman hidup manusia. Seiring bertambahnya usia, kita merasa waktu berlalu semakin cepat, dengan hari dan tahun berlalu lebih cepat. Namun Pengkhotbah tidak menyamakan kefanaan ini dengan kehampaan. Justru sebaliknya, Pengkhotbah menekankan bahwa menyembah Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya akan memberikan tujuan hidup. Di bagian akhir kitabnya, Pengkhotbah memberi nasihat agar kita hidup dengan penuh kesadaran karena singkatnya hidup: \u201cBersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan (\u05d4\u05d1\u05dc)\u201d (Pengkhotbah 11:9-10). Masa muda yang singkat\u2014yang dilambangkan dengan \u201crambut hitam\u201d sebelum berubah menjadi abu-abu\u2014mendorong panggilan untuk mengarahkan hidup kepada Tuhan ketika masih ada waktu yang tersisa.<\/p>\n<p>Tema ini mencapai puncaknya dalam nasihat terakhir Pengkhotbah: \u201cIngatlah akan Penciptamu pada masa mudamu\u2026.\u00a0 Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang\u201d (Pengkhotbah 12:1,13). Hidup ini mungkin \u201ckesia-siaan dari segala kesia-siaan\u201d (\u05d4\u05d1\u05dc \u05d4\u05d1\u05dc\u05d9\u05dd), tapi bukan berarti tidak punya nilai. Dengan takut akan Allah dan hidup menurut perintah-Nya, manusia dapat menemukan tujuan dalam hidup yang singkat ini. Pesan Pengkhotbah bukan tentang keputusasaan, tetapi tentang urgensi, mendorong para pembaca untuk hidup benar dan memuliakan Tuhan, sang sumber hidup, selagi masih punya waktu yang terbatas ini.<\/p>\n<p>Dengan memahami \u05d4\u05d1\u05dc (havel) sebagai \u201csetarikan nafas\u201d bukan \u201ckesia-siaan,\u201d kita bisa melihat isi Pengkhotbah dengan cara pandang yang baru. Kitab ini tidak mengatakan bahwa hidup itu hampa, melainkan menyoroti betapa cepatnya hidup berlalu, mendorong kita untuk menggunakan kesempatan ini untuk hidup sesuai tujuan Allah. Pemahaman ini sesuai dengan pesan tradisi Hikmat yang lebih luas, yang mengakui kefanaan hidup sekaligus menegaskan pengabdian kepada Allah memberikan nilai yang abadi. Bagi pembaca jaman sekarang, pengertian ini bisa menantang pandangan pesimis terhadap kitab Pengkhotbah yang hanya melihat kefanaan. Sebaliknya, Pengkhotbah mengajak kita melihat kehidupan yang singkat sebagai panggilan untuk bertindak\u2014untuk hidup benar, menyembah Allah, dan menemukan makna dalam setiap momen yang kita jalani.<\/p>\n<p>Gambaran \u05d4\u05d1\u05dc sebagai \u2018setarikan nafas\u2019 juga cocok dengan cara kita memikirkan waktu sekarang ini. Seperti kabut pagi yang langsung lenyap saat matahari bersinar, hari-hari kita cepat berlalu, mendesak kita untuk memanfaatkan waktu dengan baik. Hikmat Pengkhotbah mengingatkan bahwa kita tidak dapat memperpanjang usia kita, tetapi kita dapat memperkaya kualitas hidup kita melalui iman dan ketaatan. Dengan memahami \u05d4\u05d1\u05dc sebagai simbol kefanaan dan bukan sesuatu yang tidak berguna, kita menemukan pesan yang penuh harapan: hidup ini, meskipun singkat, adalah anugerah berharga yang menjadi bermakna melalui hubungan kita dengan Allah.<\/p>\n<p>Sebagai penutup, kata Ibrani \u05d4\u05d1\u05dc dalam kitab Pengkhotbah, yang selama ini diterjemahkan sebagai \u201csia-sia\u201d, sebenarnya lebih tepat diartikan \u201csetarikan nafas,\u201d yang menggambarkan singkatnya hidup manusia. Pemahaman ini sejalan dengan pemakaian kata tersebut di berbagai bagian lain dalam Alkitab, dari keluhan Ayub hingga refleksi dalam Mazmur, serta hidup Habel yang singkat dalam Kitab Kejadian. Pengkhotbah tidak mengatakan bahwa hidup ini sia-sia, tetapi menekankan singkatnya hidup, karena itu kita didorong untuk hidup dengan tujuan, yaitu takut akan Allah dan mematuhi perintah-Nya. Bagi pembaca di zaman sekarang, dengan memahami kata \u05d4\u05d1\u05dc (havel) dengan benar, kita dapat mengubah pandangan kita terhadap kitab Pengkhotbah\u2014menjadikannya sebagai ajakan untuk menghargai waktu yang singkat, dan menemukan arti yang sejati melalui iman kepada Allah, hidup bagaikan setarikan nafas yang cepat berlalu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas: Menafsirkan Ulang \u05d4\u05d1\u05dc (havel) dalam Kitab Pengkhotbah Kitab Qohelet\u2014yang dalam tradisi Kristen dikenal sebagai Kitab Pengkhotbah\u2014dibuka dengan pernyataan yang mengejutkan dan menyedihkan : &#8220;Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.&#8221; (Pengkhotbah 1:2, seperti yang ditulis dalam terjemahan bahasa Inggris ASV, ESV, KJV, MEV, dan NRSV, menggunakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":179,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"footnotes":""},"categories":[418],"tags":[],"class_list":{"0":"post-8910","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-hebrew-id"},"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO Premium plugin v26.3 (Yoast SEO v26.6) - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas - Jewish Studies for Christians<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"noindex, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/\"},\"author\":{\"name\":\"Tammy Yu\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\"},\"headline\":\"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas\",\"datePublished\":\"2025-07-17T03:45:03+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-16T11:52:04+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/\"},\"wordCount\":1219,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"articleSection\":[\"Ibrani\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/\",\"name\":\"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas - Jewish Studies for Christians\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-07-17T03:45:03+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-16T11:52:04+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/\",\"name\":\"Dr Eli's Blog\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":[\"Person\",\"Organization\"],\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98\",\"name\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png\",\"width\":2560,\"height\":470,\"caption\":\"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel\"},\"logo\":{\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/drelisblog.com\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b\",\"name\":\"Tammy Yu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g\",\"caption\":\"Tammy Yu\"},\"url\":\"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO Premium plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas - Jewish Studies for Christians","robots":{"index":"noindex","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/"},"author":{"name":"Tammy Yu","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b"},"headline":"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas","datePublished":"2025-07-17T03:45:03+00:00","dateModified":"2025-10-16T11:52:04+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/"},"wordCount":1219,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"articleSection":["Ibrani"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/","name":"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas - Jewish Studies for Christians","isPartOf":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website"},"datePublished":"2025-07-17T03:45:03+00:00","dateModified":"2025-10-16T11:52:04+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/hidup-yang-singkat-bagaikan-setarikan-nafas\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Hidup Yang Singkat Bagaikan Setarikan Nafas"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#website","url":"https:\/\/drelisblog.com\/","name":"Dr Eli's Blog","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/drelisblog.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":["Person","Organization"],"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/60f4a0c10ba754b71c7dc2ab8234ec98","name":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","contentUrl":"https:\/\/drelisblog.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/logo-scaled.png","width":2560,"height":470,"caption":"Dr. Eli (Eliyahu) Lizorkin-Girzhel"},"logo":{"@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/drelisblog.com"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/65967c618c60ee1a00a667e58a9bf13b","name":"Tammy Yu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/drelisblog.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a5ca6481910b7994f2527527005a5863e7c45d66c24c8447760cfdca70cd60e7?s=96&d=identicon&r=g","caption":"Tammy Yu"},"url":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/author\/tammyyulianto\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/179"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8910"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8910\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/drelisblog.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}