Topik Hangat

Berdoa dengan Kepala Tidak Bertudung

Peringatan dan disclaimer: Artikel ini hanya untuk orang dewasa. Artikel ini diberi peringkat “R+” dan sama sekali tidak mewakili konsensus para sarjana. Artikel ini didasarkan pada dua artikel jurnal akademik yang telah melalui proses peer-review: Martin, Troy. “Paul’s Argument from Nature for the Veil in 1 Corinthians 11:13–15: A Testicle Instead of a Head Covering.” Journal of Biblical Literature 123, no. 1 (2004): 75–84 dan “The Veil and the ΦΑΛΛΟΣ: A Note on the Translation of περιβόλαιον in 1 Corinthians 11:15.Novum Testamentum 58, no. 2 (2016): 139–50. Untuk pandangan yang berbeda, lihat Goodacre, Mark. “Does Peribolaion Mean ‘Testicle’ in 1 Corinthians 11:15? A Lexical and Exegetical Discussion.” Journal of Biblical Literature 130, no. 2 (Summer 2011): 391–96.

Teka-teki Kuno

Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus memuat salah satu bagian Perjanjian Baru yang paling membingungkan sekaligus sangat terikat pada budaya dan zaman tertentu. Kita baca:

3 Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan kepala dari Kristus ialah Allah.
4 Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya.
5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
6 Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya.
7 Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan gambaran dan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki.
8 Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki.
9 Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
10 Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.
11
Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan.
12 Sebab sama seperti perempuan berasal dari laki-laki, demikian pula laki-laki dilahirkan oleh perempuan; dan segala sesuatu berasal dari Allah.
13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?
14
Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,
15 tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang ? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.
16 Tetapi jika ada orang yang mau membantah, kami maupun Jemaat-jemaat Allah tidak mempunyai kebiasaan yang demikian. (1 Korintus 11:3–16, TB)

Selama berabad-abad, para teolog bergumul dengan cara Paulus membangun argumennya, yang didasarkan pada konsep kehormatan dan kehinaan, pada “alam” (φύσις, physis), dan juga pada pernyataan yang misterius, antara lain: “oleh karena para malaikat.” Namun akhir-akhir ini, ada terobosan dari karya ilmiah Profesor Troy W. Martin menunjukkan bahwa kunci untuk memahami bagian ini terletak pada konsensus medis Yunani-Romawi kuno yang terasa asing bagi kita.

Dengan menafsirkan argumen Paulus melalui lensa pemikiran ilmiah medis abad pertama (yang pada saat ini kita sebut pseudoscience), Profesor Troy W. Martin menjelaskan sebuah logika yang mungkin terdengar aneh bagi pembaca modern, tetapi sangat mudah dimengerti oleh jemaat Korintus pada zaman itu. Artikel ini akan meninjau argumen Martin bahwa “alam” dalam teks ini merujuk pada gagasan biologis pada masa itu, yang mengaitkan rambut dengan anatomi reproduksi, dan bahwa istilah “penudung” (περιβόλαιον, peribolaion) seharusnya dipahami sebagai metafora bagi “testis laki-laki.”

Isu Utama dalam 1 Korintus 11

Pokok perdebatan utama dalam uraian Paulus ini adalah apakah laki-laki dan perempuan seharusnya berdoa atau bernubuat dengan kepala bertudung atau tidak. Seorang laki-laki yang melakukan hal itu dengan kepala bertudung “menghina kepalanya,” sedangkan perempuan yang melakukannya tanpa bertudung “menghina kepalanya” dan dianggap seperti seseorang yang kepalanya dicukur (I Kor 11:4–6). Paulus mendasarkan perbedaan ini pada suatu mata rantai (“kepala dari tiap-tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah suaminya…”) dan terutama dengan mengacu pada “alam” (φύσις, physis):

“Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan, jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung (περιβόλαιον, peribolaion).” (1 Korintus 11:14–15)

Pada ayat 15 penafsiran menjadi sangat rumit. Jika rambut panjang diberikan kepada perempuan sebagai “penudung” (περιβόλαιον), mengapa Paulus berkali-kali menegaskan dalam bagian ini bahwa ia tetap harus memakai kerudung tambahan? Penafsiran seperti itu tampaknya menimbulkan kontradiksi. Pertanyaan retoris Paulus, “Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?” (11:13), juga menyiratkan bahwa jawabannya seharusnya jelas dari “alam” (φύσις). Lalu, konsep “alam” seperti apa yang membuat jawaban ini terasa begitu jelas?

Pergumulan penafsiran berpusat pada penggunaan kata “alam” (φύσις). Apakah kerudung ini berkaitan dengan simbol budaya, otoritas dalam pernikahan, atau tatanan yang dibuat? Namun jika demikian, mengapa argumen puncak Paulus justru bertumpu pada gagasan bahwa rambut panjang pada laki-laki adalah sesuatu yang memalukan? Ini menunjukkan bahwa ”alam” yang dianutnya bukanlah konvensi modern, melainkan pemahaman fisiologis abad pertama tentang tubuh manusia itu sendiri, menjadikan argumen biologis sebagai landasan yang tak terbantahkan.

Rambut sebagai Anatomi Reproduksi

Karena berbagai penjelasan para sarjana selama berabad-abad tetap terasa tidak memuaskan, mari kita mempertimbangkan alternatif lain yang, walaupun awalnya terdengar mengejutkan, ternyata membentuk argumen yang cukup konsisten pada akhirnya.

Profesor Troy Martin berpendapat bahwa pandangan medis kuno tentang fisiologi memberikan potongan teka-teki yang hilang. Ia menunjukkan bahwa dalam literatur medis Yunani-Romawi—khususnya karya Hippocrates dan Aristoteles—rambut (θρίξ, τρίχες, thrix, triches) dipahami sebagai struktur hidup yang berongga yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Perspektif kuno yang keliru, namun tetap ilmiah ini, lazim dua ribu tahun yang lalu, secara mengejutkan meyakini hal berikut:

Produksi dan penyimpanan sperma: Otak diyakini menghasilkan atau menyimpan sperma (σπέρμα, sperma).

Rambut sebagai saluran: Karena rambut dianggap berongga, ia berfungsi sebagai saluran bagi cairan reproduksi tersebut. Fungsi utamanya adalah menarik, menyalurkan, atau menahan sperma.

Perbedaan seksual: Dipercaya bahwa sperma turun dari otak ke seluruh tubuh selama masa pubertas. Pada laki-laki, sifat tubuh mereka yang “lebih panas” (φύσις, physis) menyebabkan sperma “berbuih keluar,” menghasilkan rambut tubuh dan memungkinkan keluarnya sperma. Rambut panjang pada laki-laki dianggap bermasalah karena akan menarik sperma ke arah kepala dan menjauhkannya dari alat kelamin, dengan demikian bertentangan dengan fungsi alaminya.

Fisik perempuan: Sebaliknya tubuh perempuan dirancang untuk menarik sperma ke dalam dan ke atas untuk pembuahan. Rambut panjang dianggap membantu “daya hisap” rahim. Karena itu rambut panjang tidak sekadar hiasan, tetapi dianggap berperan dalam reproduksi perempuan. Martin mengutip pseudo-Phocylides: “Long hair is not for men but for voluptuous women.”

Dalam kerangka fisiologi kuno yang digunakan Paulus ini, argumennya menjadi lebih jelas. Rambut panjang pada laki-laki dianggap “memalukan” karena bertentangan dengan φύσις (natur) mereka. Sebaliknya, bagi perempuan rambut panjang adalah “kemuliaannya” karena dianggap sesuai dengan natur biologisnya.

Martin juga menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, bentuk jamak περιβόλαια (peribolaia) dapat berarti “testis.” Karena itu 1 Korintus 11:15 dapat dibaca sebagai: “Rambutnya diberikan kepadanya sebagai pengganti testis [sebuah περιβόλαιον].” Dengan kata lain, rambut perempuan memiliki fungsi prokreasi yang sepadan dengan organ reproduksi laki-laki, seolah-olah menjadi perpanjangan dari alat kelaminnya.

Menjelaskan Perintah Praktis

Pada dasarnya Paulus bertanya kepada jemaat Korintus: “Pertimbangkanlah sendiri: patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan alat kelaminnya terbuka?” (bdk. 11:13). Jawabannya, berdasarkan kebiasaan religius Yahudi yang melarang menampakan alat kelamin dalam ibadah, hal itu akan ditolak dengan tegas. Karena itu, dalam ibadah, rambut perempuan—yang dalam kerangka fisiologi kuno dianggap berkaitan dengan organ seksual—harus ditutupi dengan kerudung. TKerdung tersebut bukan sekadar aksesori, melainkan pakaian kesopanan yang dianggap perlu karena makna fisiologis rambut menurut pemahaman saat itu.

“Oleh karena Para Malaikat”

Penjelasan ini juga membantu memahami kalimat paling misterius dalam bagian ini: “Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat.”(1 Korintus 11:10)

Pernyataan ini kemungkinan besar berkaitan dengan kisah dalam Kejadian 6. Di sana makhluk surgawi (“anak-anak Allah”) melihat perempuan manusia, berhubungan dengan mereka, dan melahirkan keturunan raksasa. Kita membaca:

הַנְּפִלִ֞ים הָי֣וּ בָאָ֘רֶץ֮ בַּיָּמִ֣ים הָהֵם֒ וְגַ֣ם אַֽחֲרֵי־כֵ֗ן אֲשֶׁ֨ר יָבֹ֜אוּ בְּנֵ֤י הָֽאֱלֹהִים֙ אֶל־בְּנ֣וֹת הָֽאָדָ֔ם וְיָלְד֖וּ לָהֶ֑ם הֵ֧מָּה הַגִּבֹּרִ֛ים אֲשֶׁ֥ר מֵעוֹלָ֖ם אַנְשֵׁ֥י הַשֵּֽׁם׃

“Pada waktu itu orang-orang raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika anak-anak Allah menghampiri anak-anak perempuan manusia, dan perempuan-perempuan itu melahirkan anak bagi mereka.”(Kejadian 6:4, TB)

Teks Bahasa Ibrani ini dapat dipahami dengan dua cara: sebagai peristiwa yang terjadi hanya sekali saja pada masa lampau, atau sebagai peristiwa yang kemungkinan berkelanjutan, bermakna  “kapan pun” bukan “kapan”. Paulus mengetahui hal ini dengan baik, ia juga mengenal tradisi seperti kitab 1 Henokh, yang menguraikan dan berupaya mengisi “celah” dalam narasi Kejadian mengenai pemberontakan surgawi dalam Kejadian 6:1-4.

Pada zaman Paulus, pandangan medis dan budaya sangat menekankan bahwa rambut perempuan berkaitan dengan seksualitasnya dan rambut yang tidak tertutup dianggap tidak pantas dilihat semua orang. Namun nampaknya Paulus sangat khawatir tentang para malaikat. Dalam konteks ibadah yang dipenuhi oleh makhluk spiritual (“malaikat”), membiarkan rambut perempuan yang tidak tertutup dianggap berisiko mengulangi pelanggaran kuno yang menyebabkan kekacauan besar dalam dunia Alkitab (Kej. 6:4–6). Kerudung menjadi tanda otoritas suami manusia yang membatasi pelanggaran malaikat tersebut; Hal itu secara tepat mengandung dan melindungi seksualitas manusia dari gangguan spiritual tersebut.

Kesimpulan

Argumen Paulus dalam 1 Korintus 11 ditulis untuk sebuah jemaat tertentu yang sedang bergumul dengan ibadah, budaya kesopanan, dan pemahaman ilmiah pada zaman mereka. Dengan memanfaatkan konsensus medis Yunani-Romawi yang berlaku—yang memandang rambut sebagai perpanjangan dari sistem reproduksi—Paulus memberikan alasan fisiologis untuk penggunaan kerudung kepala yang terasa sangat meyakinkan bagi pendengar aslinya. Kerudung berfungsi sebagai pakaian yang sopan yang diperlukan agar ibadah berlangsung “dengan sopan dan teratur.” Selain itu, pernyataan misterius “oleh karena para malaikat” mengaitkan praktik ini dengan narasi teologis yang kuat: mencegah terulangnya pelanggaran malaikat dalam Kejadian 6, ketika batas antara dunia spiritual dan dunia manusia dilanggar secara tragis.

Namun rekonstruksi historis ini menimbulkan dua pertanyaan penting bagi pembaca modern, seperti yang disoroti dalam tanggapan di atas. Pertama, jika kita menyimpulkan bahwa dasar medis kuno tersebut sudah usang dan bahwa perintah khusus tentang kerudung bersifat budaya, apakah itu berarti kita juga menolak gagasan bahwa para malaikat hadir dalam ibadah? Kedua, apakah pandangan dunia modern membuat kita mengabaikan realitas metafisik yang dahulu dianggap nyata oleh orang-orang kuno—yaitu keberadaan dan aktivitas makhluk spiritual yang tidak terlihat?

Ini bukan sekadar pertanyaan-pertanyaan akademis. Mereka menyentuh inti dari cara kita menerapkan Kitab Suci. Prinsip dari argumen Paulus yang bertahan lama adalah panggilan untuk menghormati Allah dan menjaga ketertiban dalam ibadah bersama. Prinsip ini harus diwujudkan kembali dalam setiap konteks budaya. Bagi jemaat Paulus, itu berarti memakai kerudung. Bagi kita, mungkin maknanya berbeda. Namun gagasan teologis yang mendasarinya—bahwa ibadah kita berlangsung di dalam kosmos yang dipenuhi realitas spiritual, termasuk para malaikat—tetap menjadi tema yang konsisten dalam Alkitab. Apakah dan bagaimana peringatan “karena para malaikat” diterjemahkan saat ini adalah masalah yang membutuhkan pertimbangan teologis. Hal ini menantang kita untuk mempertimbangkan apakah penerapan kita terhadap teks-teks Alkitab, dalam mengkontekstualisasikan praktik-praktik kuno dengan benar, terkadang berisiko mengoreksi secara berlebihan dan mengabaikan kebenaran spiritual yang abadi tentang hakikat realitas itu sendiri.

Karena itu, tugas kita berlipat ganda. Di satu sisi, kita harus memahami bagian seperti 1 Korintus 11 dalam kerangka sejarah abad pertama, tidak menerapkannya secara harfiah tanpa mempertimbangkan konteksnya. Di sisi lain, kita juga harus tetap rendah hati secara teologis, terbuka pada kemungkinan bahwa orang-orang zaman dahulu lebih memahami dimensi-dimensi eksistensi spiritual yang mungkin tersembunyikan oleh konteks kita saat ini. Tujuannya bukan untuk menghidupkan kembali kewajiban memakai kerudung, melainkan menumbuhkan sikap hormat dalam ibadah—sikap yang dapat dipahami oleh dunia modern, namun tetap setia pada kesaksian Alkitab tentang tatanan yang diciptakan yang mencakup realitas yang terlihat dan yang tidak terlihat.

Leave a Reply

Limit 150 words

Comments (0)

No comments yet.