Perselisihan Mikhael Mengenai Tubuh Musa
Dalam salah satu tulisan dalam Perjanjian Baru yang paling penuh misteri—yaitu kitab Yudas yang hanya terdiri dari satu pasal—kita membaca:
“Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’” (Yud 1:9)
Rujukan tentang Mikhael yang berselisih dengan Iblis mengenai tubuh Musa sering membingungkan para pembaca Alkitab maupun para sarjana terutama karena tidak ada bagian dalam Perjanjian Lama kanonik yang memberikan konteks langsung tentang peristiwa ini. Sebuah tulisan Yahudi apokrifa dari abad pertama yang berjudul Assumption of Moses atau Testament of Moses menggambarkan pesan-pesan terakhir Musa serta rincian tentang kematiannya. Dalam Yudas 1:9, penghulu malaikat Mikhael berselisih dengan Iblis mengenai tubuh Musa dan menolak mengucapkan kata-kata penghujatan. Peristiwa ini tidak memiliki paralel langsung dalam Kitab Suci kanonik, tetapi sangat mirip dengan bagian akhir yang hilang atau tradisi varian dari Assumption of Moses yang dilaporkan oleh penulis kuno seperti Gelasius dan Origenes. Hal ini menunjukkan bukti kuat bahwa surat Yudas secara langsung merujuk pada teks tersebut, sama seperti ketika ia merujuk ke kitab 1 Henokh (Yud 1:14–15 dan 1 Henokh 1, 2, 9).
Tatanan yang Ditetapkan Allah
Banyak terjemahan Alkitab modern mengaburkan satu teks penting dalam Ulangan 32:8, sehingga hubungan dengan Yudas 1:8–9 mudah terlewatkan.
Dalam terjemahan yang sangat umum digunakan seperti KJV, NIV, dan NASB (yang mengikuti Teks Masoret Ibrani abad pertengahan), Ulangan 32 berbunyi:
“Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa,
ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia,
maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa
menurut bilangan anak-anak Israel.” (Ul 32:8 TB)
Namun beberapa terjemahan yang lebih baru berusaha memulihkan rumusan kata-kata bahasa Ibrani yang asli, yang didukung oleh manuskrip yang jauh lebih kuno. Misalnya, kita baca:
“He fixed the borders of the peoples according to the number of the sons of God.” (ESV, NRSV) -(“Ia menetapkan batas-batas bangsa-bangsa menurut jumlah anak-anak Allah.”)
“He set up the boundaries of the peoples after the number of the divine beings.” (NABRE) (“Ia menetapkan batas-batas bangsa-bangsa menurut jumlah makhluk-makhluk ilahi.”)
“He set the boundaries of the peoples, according to the number of the heavenly assembly.” (NET) (“Ia menetapkan batas-batas bangsa-bangsa menurut jumlah sidang surgawi.”)
Seperti yang ditunjukkan oleh susunan di atas, terjemahan-terjemahan terbaru (ESV, NRSV, NET, NABRE) mengembalikan pada bacaan asli yang terdapat dalam saksi-saksi tertua yang masih ada—Gulungan Laut Mati (DSS, abad kedua–pertama SM) dan Septuaginta (LXX, abad ketiga SM)—sementara Teks Masoret (MT, abad kesembilan–kesepuluh M) dan Pentateukh Samaria (SP, abad kesebelas M) membuktikan bacaan alternatif yang lebih baru (“anak-anak Israel”).
Pembacaan yang lebih tua (“anak-anak Allah”) sebenarnya sangat masuk akal. Sebagai hukuman atas pembangunan Menara Babel (Kej 11), tujuh puluh bangsa dunia (Kej 10) diserakkan ke seluruh bumi dan ditempatkan di bawah otoritas para “anak-anak Allah”, sementara YHWH mempertahankan Israel sebagai milik-Nya sendiri (Ul 32:9)
Para penyalin Yahudi di kemudian hari kemungkinan mengubah teks ini untuk melindungi monoteisme di tengah pengaruh politeistik di sekitarnya—terutama mitos seperti tradisi Ugarit tentang tujuh puluh “anak-anak El” dalam majelis ilahi yang sejalan dengan Mazmur 82:1 (“Allah berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah Ia menghakimi.”) Sulit memastikan kapan perubahan ini terjadi, tetapi kemungkinan berlangsung antara abad ke-3 SM (Septuaginta) dan abad ke-9 M (Teks Masoret). Singkatnya, dengan mengganti “anak-anak Allah” menjadi “anak-anak Israel,” para penyalin berhasil mengaitkan ketujuh puluh bangsa (Kejadian 10) dengan tujuh puluh keturunan Yakub yang masuk ke Mesir (Kejadian 46), menciptakan penafsiran yang lebih aman secara teologis, tafsiran monoteistik yang menyelaraskan ayat tersebut dengan pemilihan unik Israel dan tidak terdeteksi selama berabad-abad.
Kematian Musa
Menurut Ulangan 34:1–6, Musa meninggal di Gunung Nebo di tanah Moab, “di lembah yang berhadapan dengan Bet-Peor.”
1 “Kemudian naiklah Musa dari dataran Moab ke gunung Nebo,yakni ke atas puncak Pisga, yang di tentangan Yerikho, lalu TUHAN memperlihatkan kepadanya seluruh negeri itu…4 Dan berfirmanlah TUHAN kepadanya: ‘Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub… Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana.’ 5 Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. 6 Dan dikuburkan-Nya lah dIa di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.” (Ul 34:1–6)
Lokasi ini bukan kebetulan: Bet-Peor berarti “Rumah Peor,” yang merupakan pusat penyembahan dewa Kanaan Baal-Peor. Selain itu, dalam pandangan Israel kuno, seluruh padang gurun sering dipandang sebagai wilayah yang kacau penuh dengan bahaya, roh-roh jahat, dan kematian—hal yang sangat berlawanan dengan tanah yang dihuni yang memberi kehidupan dan keteraturan. Tidak mengherankan jika Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun (Mat 4:1). Memang hal-hal baik juga dapat terjadi di padang gurun, tetapi biasanya terjadi bukan karena padang gurun itu sendiri.
Menariknya, kalimat “dikuburkan-Nya lah dIa” (Ul 34:6a) mungkin Tuhan yang menguburkannya tetapi mungkin juga tidak, seperti yang lazim dipikirkan; mungkin saja Mikhael yang melakukan penguburan itu, yang mungkin berhubungan dengan Yudas 1:9. Hipotesis modern menarik lainnya—yang dikemukakan oleh Michael Heiser dan diikuti di sini—menyatakan bahwa penguburan Musa “di lembah di tanah Moab, di seberang Bet-peor” (Ulangan 34:6) mungkin telah memberi iblis argumen territorial yang masuk akal. Karena Bet-peor adalah pusat penyembahan Baal Peor, dewa Kanaan, dan terletak di luar batas wilayah warisan Israel (Taman Eden Baru), secara teoritis tempat itu berada dibawah otoritas yang diberikan kepada salah satu “anak-anak Allah” yang telah memberontak.
Lebih dari Satu allah
Bangsa-bangsa kuno tidak mendefinisikan keilahian seperti kita sekarang ini. Bagi pembaca modern, Allah biasanya digambarkan mahakuasa, mahatahu, dan mahahadir. Namun bagi orang kuno, keilahian berkaitan dengan tempat tinggal: manusia berasal dari bumi, sedangkan makhluk ilahi berasal dari dunia surgawi atau spiritual.
Kita melihat konsep ini dalam Kitab Suci:
“Allah berdiri dalam sidang ilahi; di antara para allah Ia menghakimi.” (Mzm 82:1)
“Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.” (Ayub 1:6)
“Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar dan Tuhan kita itu melebihi segala allah.” (Mzm 135:5)
Alkitab juga menyatakan keberadaan makhluk surgawi yang sangat kuat yang memiliki otoritas besar dan sering dikaitkan dengan wilayah tertentu. Misalnya dalam Daniel 10, seorang makhluk surgawi yang perkasa (kemungkinan malaikat Gabriel) menjelaskan kepada Daniel mengapa dia butuh waktu begitu lama untuk datang:
12 “Janganlah takut, Daniel… sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian… aku datang oleh karena perkataanmu itu. 13 Pemimpin orang kerajaan Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku…” (Daniel 10:12–13)
Bagi yang bertanya tentang keesaan Allah, yang dikenal dalam Shema: (“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!” Ul 6:4), pertimbangkan hal ini: Shema mengajarkan bahwa meskipun makhluk ilahi lain mungkin ada, hanya YHWH yang boleh disembah dan ditaati oleh Israel. Bagi Israel, tidak ada allah lain.
Jawaban Mikhael yang Penuh Kuasa
Dalam peristiwa ini, argumen Iblis mungkin terdengar seperti ini: “Musa telah berdosa, dan upah dosa adalah maut. Ia mati di wilayahku—di daerah yang berada di bawah yurisdiksi ilah tertentu (Baal-Peor) yang termasuk dalam koalisi pemberontakan ku. Maka dari itu tubuhnya adalah milikku dan milik penguasa-penguasa wilayah ini. Engkau, Mikhael, tidak berhak mengambilnya. Aturan yurisdiksi kosmik berada di pihakku.” Dengan demikian, perselisihan ini bukan sekadar konflik pribadi antara dua makhluk surgawi, tetapi tantangan langsung terhadap kedaulatan teritorial kosmis.
Jawaban Mikhael: “Kiranya Tuhan menghardik engkau!” (Κύριος ἐπιτιμήσαι σοι) adalah langkah hukum yang sangat cerdas dan kuat. Ia menghindari perdebatan tentang rincian klaim wilayah itu, karena hal itu secara tidak langsung akan mengakui otoritas Iblis atas tempat tersebut.
“TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya.” (Mzm 135:6)
Dengan memanggil YHWH secara langsung, Mikhael mengajukan otoritas tertinggi Allah atas semua wilayah dan kuasa. Hardikan itu adalah perintah kedaulatan yang membungkam setiap makhluk yang lebih rendah. Itu menyatakan bahwa pemerintahan YHWH tidak dibatasi oleh batas-batas yang dibuat oleh kuasa spiritual yang telah jatuh. Bahkan alam maut dan kekuasaan iblis tetap berada di bawah kehendak-Nya.
Ketika Mikhael berhasil mengambil tubuh Musa, hal itu menandai penataan ulang kosmis yang mendalam. Tindakan ini menunjukkan bahwa kuasa YHWH melampaui yurisdiksi spiritual kuno, kuasa “anak-anak Allah” yang jatuh menjadi tidak berdaya dan peristiwa ini menubuatkan kemenangan Mesias Yahudi atas dosa dan maut, dan juga atas kerajaan-kerajaan dan penguasa-penguasa ini:
“Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” (Kol 2:15)
Kesimpulan
Saudara-saudari yang terkasih, jika malam ini Anda merasa lelah—jika dosa masih melekat seperti kain kafan, jika masih ada sakit penyakit, jika kesedihan menekan dada Anda, jika Iblis berbisik bahwa kegagalan Anda membuat Anda kehilangan bagian dalam warisan Allah—dengarkan gema dari sebuah pertempuran kuno.
Dahulu, di lembah Moab yang dipenuhi bayang-bayang kematian dan Baal yang terlupakan, Iblis secara sah mengklaim tubuh Musa: “Dia berdosa. Dia mati di wilayahku. Dia milikku.” Namun Mikhael menolak untuk membantah tuduhan itu, bernegosiasi dengan kegelapan, atau menyerahkan sejengkal pun wilayah yang diklaimnya. Ia memandang kepada otoritas yang jauh lebih tinggi dan menggelegar dengan satu-satunya putusan yang menentukan: “Kiranya Tuhan menghardik engkau!”
Suara yang sama masih menghancurkan setiap tuduhan sampai hari ini. Ketika dosa menuduh, ketika penderitaan membuat Anda merasa sendirian, ketika penguasa kegelapan berbisik bahwa Anda masih miliknya—angkatlah pandangan Anda seperti Mikhael dan katakan: “Kiranya Tuhan menghardik engkau!” Sebab Dia yang menghardik Iblis atas tubuh orang berdosa telah mengalahkannya di kayu salib dan Dia tidak akan menyerahkan Anda. Tubuh Anda, jiwa Anda, masa depan Anda—setiap bagian dari diri Anda—adalah milik Kristus yang bangkit, yang telah melucuti kuasa-kuasa kegelapan dan mempermalukan mereka di hadapan seluruh ciptaan.
Kuatkanlah hatimu. Perselisihan itu sudah selesai. Putusannya sudah final. Tuhan telah menghardiknya—dan Anda adalah milik-Nya.
Comments (0)
No comments yet.