Taurat

Dasar Alkitabiah tentang Ketidaktaatan Sipil

Salah satu kisah paling menarik dalam Alkitab Ibrani adalah tentang pembangkangan dua orang bidan terhadap perintah kejam untuk membunuh bayi laki-laki orang Ibrani yang lahir di Mesir. Peristiwa ini kemungkinan terjadi pada masa pemerintahan Firaun Ramses II (sekitar 1279–1213 SM) atau Merneptah (sekitar 1213–1203 SM), yang dipercaya sebagai Firaun pada masa Keluaran.

Kejahatan Dilepaskan

Firaun Mesir yang baru memutuskan untuk mengambil tindakan brutal guna menekan laju kelahiran bangsa Israel yang semakin tidak terkendali. Ketakutannya dapat dimengerti, tetapi kekejamannya tidak dapat dibenarkan dalam bentuk apa pun.

Kita membaca demikian:

15“Raja Mesir juga memerintahkan kepada bidan-bidan yang menolong perempuan Ibrani, seorang bernama Sifra dan yang lain bernama Pua, katanya: 16‘Apabila kamu menolong perempuan Ibrani pada waktu bersalin, kamu harus memperhatikan waktu anak itu lahir :  jika anak laki-laki, kamu harus membunuhnya, tetapi jika anak perempuan, bolehlah ia hidup.” (Kel. 1:15–16, TB)

Sekilas maknanya tampak jelas, tetapi dalam bahasa Ibrani sebenarnya tidak sesederhana itu. Karena itu, para penafsir Yahudi selama berabad-abad berbeda pendapat mengenai apakah bidan-bidan ini adalah orang Israel (“bidan Ibrani”) atau bagian dari elit medis Mesir yang bertugas menangani kelahiran budak Ibrani.

Hal ini mungkin terjadi karena teks Ibrani asli ditulis tanpa vokal—hanya terdiri dari 22 huruf konsonan. Teks Ibrani tersebut muncul sebagai: למילדת העברית, sementara dalam Teks Masoret menjadi: לַמְיַלְּדֹת הָעִבְרִיֹּת. Para penyusun Teks Masoretik disebut Masoret, yaitu para ahli Taurat Yahudi dan sarjana yang hidup antara abad ke-6 hingga ke-10 M. Mereka menstandarkan Alkitab Ibrani dengan menambahkan tanda vokal (niqqud), aksen (tanda kantilasi/intonasi), dan penanda lainnya untuk memastikan pelafalan dan pembacaan yang tepat. Hasil pekerjaan mereka adalah Teks Masoret (MT), yang hingga kini menjadi teks Ibrani otoritatif dalam Alkitab Yahudi.

Lewati paragraf ini jika Anda tidak menyukai tata bahasa—tetapi jika Anda bertahan, Anda akan mendapatkan wawasan berharga: Dalam Keluaran 1:15, frasa Ibrani yang menggambarkan bidan Sifra dan Pua ditulis dalam Teks Masoret sebagai לַמְיַלְּדֹת הָעִבְרִיֹּת, yang berarti “kepada bidan-bidan Ibrani.” Vokalisasi ini menggunakan vokal patach (bunyi “a” pendek) di bawah huruf lamed (לַ), sehingga kata “Ibrani” (עִבְרִיֹּת) berfungsi sebagai kata sifat yang menjelaskan “bidan,” menunjukkan bahwa mereka adalah orang Ibrani secara etnis. Namun, seperti disebutkan sebelumnya, teks asli tidak memiliki vokal. Karena itu, sangat mungkin ada pembacaan alternatif seperti לִמְיַלְּדֹת הָעִבְרִיֹּת, dengan vokal chirik (bunyi “i” pendek) di bawah lamed (לִ). Dalam pembacaan ini, frasa tersebut menjadi konstruksi kepemilikan: “kepada bidan-bidan dari perempuan Ibrani,” yang mengisyaratkan bahwa para bidan itu bukan orang Ibrani, melainkan profesional Mesir yang bekerja di tengah komunitas Ibrani.

Salah satu argumen bahwa bidan-bidan ini adalah orang Ibrani adalah karena nama mereka bukan nama Mesir, melainkan memiliki arti yang jelas dalam bahasa Ibrani. Sifra berarti “indah” atau “peningkatan,” sedangkan Pua berarti “berseru” atau “bercahaya.” Mereka mungkin direkrut dari komunitas Israel untuk bekerja di istana Mesir sebagai penghubung. Namun, nama Ibrani ini juga bisa jadi hanya nama kerja mereka, bukan nama asli Mesir mereka. Argumen utama bahwa mereka adalah orang Mesir adalah tidak masuk akal secara logika apabila Firaun berbicara langsung dengan budak Ibrani dan mengharapkan mereka membunuh banyak anak-anak Israel (sulit menentukan mana yang lebih tidak masuk akal!).

Pertimbangan lain adalah tidak mungkin secara matematika bahwa hanya dua bidan dapat melakukan tugas tersebut. Berdasarkan perhitungan kasar, dibutuhkan sekitar 1.000–3.000 bidan untuk melayani sekitar 600.000 perempuan Israel yang aktif melahirkan menurut catatan Alkitab. Pada saat keluar dari Mesir, jumlah orang Israel diperkirakan mencapai satu hingga tiga juta jiwa, berdasarkan catatan 600.000 laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak (Kel. 12:37). Oleh karena itu, sangat mungkin bahwa Sifra dan Pua adalah semacam sekretaris medis atau pengawas dalam birokrasi Firaun. Gagasan bahwa Sifra dan Pua adalah pengawas sejalan dengan birokrasi Mesir, yang mempekerjakan banyak pejabat untuk mengelola tenaga kerja dan sumber daya.

Pemberontakan Iman

Entah mereka orang Ibrani atau Mesir, para bidan ini tidak menaati perintah tersebut dan bahkan memberikan alasan yang tidak sepenuhnya benar.

17“Tetapi bidan-bidan itu takut akan Allah dan tidak melakukan seperti yang dikatakan raja Mesir kepada mereka, dan membiarkan bayi-bayi itu. 18 Lalu raja Mesir memanggil bidan-bidan itu dan bertanya kepada mereka: ‘Mengapakah kamu berbuat demikian membiarkan hidup bayi-bayi itu?’ 19 Jawab bidan-bidan itu kepada Firaun: ‘Sebab perempuan Ibrani tidak sama dengan perempuan Mesir; melainkan mereka kuat : sebelum bidan datang, mereka telah bersalin.’” (Kel. 1:17–19, TB)

Alasan mereka kepada Firaun—bahwa perempuan Ibrani “kuat” (chayot, dari akar ח-י-ה, ch-y-h, “hidup” atau “binatang”)—dapat dipahami sebagai perbandingan dengan binatang liar yang melahirkan dengan cepat tanpa bantuan, sebuah permainan kata yang cerdas antara vitalitas dan kerapuhan manusia.

Jika para bidan ini memang orang Ibrani, semuanya terasa masuk akal. Namun, apakah penafsiran ini tetap masuk akal jika mereka adalah orang Mesir? Jawabannya: ya. Mengapa demikian ?

Meskipun istilah Ibrani אֱלֹהִים (Elohim) dapat berarti “Allah” atau “allah-allah/dewa-dewa,” dalam konteks ini digunakan dengan artikel definite (הָאֱלֹהִים, ha-Elohim, “Allah itu”), yang membatasi maknanya pada Allah Israel atau salah satu dewa Mesir. Dalam kepercayaan Mesir, terdapat setidaknya tiga dewa yang berkaitan dengan perlindungan perempuan hamil dan anak-anak yang belum lahir : Amun-Ra, dewa utama Mesir, dikaitkan dengan persalinan di antara peran lainnya; Isis, dewi keibuan, dipuja sebagai pelindung wanita dan anak-anak; dan Hathor, dewi lain yang terkait erat dengan persalinan. Masuk akal jika bidan-bidan Mesir itu takut kepada dewa-dewa mereka sendiri. Dengan demikian, istilah “Allah itu” dalam Keluaran 1:17 bisa merujuk kepada Allah orang Ibrani atau dewa orang Mesir yang menentang penghancuran kehidupan manusia dalam skala besar di Mesir.

Meskipun “Allah” (הָאֱלֹהִים, ha-Elohim) dapat merujuk kepada “TUHAN/YHVH” (יהוה), akan menjadi hal yang tidak biasa jika teks tersebut tidak secara eksplisit menyatakan bahwa “para bidan takut kepada TUHAN” (Allah orang Ibrani). Tidak adanya nama YHVH mengarah pada pemahaman bahwa yang dimaksud bukan Allah Israel, melainkan salah satu dewa Mesir.

Tidak mungkin untuk memastikan secara mutlak mana penafsiran teks Ibrani kuno yang asli. Para bidan itu bisa saja orang Ibrani atau orang Mesir, atau bahkan orang Mesir yang takut akan Allah Israel. Ambiguitas ini mungkin disengaja, agar pembaca merenungkan berbagai kemungkinan—sebuah ciri khas yang sering ditemukan dan sering disengaja dalam Alkitab Ibrani.

Kegagalan Kejahatan

Dalam Keluaran 1:15–20, Sifra dan Pua menjadi teladan keberanian moral yang mengalahkan kejahatan tirani. Mereka menolak perintah Firaun untuk membunuh bayi laki-laki Ibrani (Kel. 1:16), karena mereka lebih takut akan Allah daripada manusia, dan menyelamatkan banyak nyawa walau tidak sepenuhnya jujur (Kel. 1:19). Tindakan ketidaktaatan sipil mereka, yang berakar pada penghormatan terhadap kehidupan, menggagalkan rencana genosida Firaun. Allah memberkati kesetiaan mereka dengan rumah tangga yang langgeng (Kel. 1:21), sementara bangsa Israel terus bertambah banyak dan menjadi “sangat kuat” meskipun mengalami penindasan (Kel. 1:20). Anugerah ilahi ini menekankan kebenaran yang mendalam: kejahatan, meskipun dahsyat, pada akhirnya tidak berdaya melawan mereka yang hidup selaras dengan tatanan moral Tuhan. Perintah Firaun selanjutnya untuk menenggelamkan semua bayi laki-laki Ibrani (Kel. 1:22) menunjukkan keputusasaannya dan pengakuan bahwa rencana sebelumnya gagal karena keberanian para bidan. Tindakan Sifra dan Pua menunjukkan bahwa tipu daya yang berani, apabila digunakan untuk menyelamatkan nyawa, berjalan selaras dengan keadilan Allah.

Kesimpulan

Kisah Sifra dan Pua menjadi kesaksian abadi tentang kuasa ketidaktaatan sipil yang berakar pada keyakinan moral. Entah mereka orang Ibrani atau Mesir, bidan-bidan ini menolak perintah tirani dan memilih untuk menghormati kekudusan hidup di atas tuntutan penguasa yang lalim. Keberanian mereka—yang lahir dari rasa takut akan Allah, entah Allah Israel atau dewa dalam tradisi mereka—menunjukkan bahwa kebenaran sejati melampaui batas budaya, etnis, bahkan agama. Dengan menyelamatkan bayi-bayi Ibrani, mereka bukan saja menyelamatkan nyawa, tetapi juga menjaga keberlangsungan bangsa Israel dan garis keturunan Yehuda, yang kelak akan melahirkan Kristus untuk dunia, Sang Juruselamat dan Raja. Kisah ini menantang kita hari ini tentang bagaimana kita merespons ketidakadilan. Tindakan para bidan ini mengingatkan bahwa bahkan di hadapan kekuasaan yang besar, tindakan membangkang yang didasarkan pada iman dan moral yang jelas dapat meruntuhkan rencana kejahatan. Biarlah kisah ini menyalakan keberanian dalam diri Anda. Berdirilah teguh melawan ketidakadilan, pegang kebenaran sebagai perisai, dan bertindaklah dengan keberanian iman. Maukah Anda, seperti Sifra dan Pua, berani menentang “Firaun-Firaun” masa kini demi melindungi kehidupan? Kuatkanlah hati Anda—dan ubahlah dunia.

Leave a Reply

Limit 150 words

Comments (0)

No comments yet.