Apakah Allah Menciptakan Perempuan dari Sebuah Tulang Rusuk?
Segera setelah Tuhan memerintahkan manusia itu untuk bebas makan dari setiap pohon di taman dan melarangnya makan dari Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat (Kej. 2:16–17), Tuhan memberikan penilaian-Nya tentang manusia:
“TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja (לֹא-טוֹב הֱיוֹת הָאָדָם לְבַדּוֹ). Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia (אֶעֱשֶׂה-לּוֹ עֵזֶר, כְּנֶגְדּוֹ).’” (Kej. 2:18)
Satu per satu, binatang-binatang dibawa ke hadapan manusia itu, dan ia memberi nama kepada masing-masing, menjalankan otoritas yang diberikan Allah atas ciptaan. Namun, penilaian awal Allah terbukti benar:
“…tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia (וּלְאָדָם, לֹא-מָצָא עֵזֶר כְּנֶגְדּוֹ).” (Kej. 2:20)
Siapakah Ezer KeNegdo?
Diantara terjemahan modern, NASB/NIV menterjemahkan frasa Ibrani עֵזֶר כְּנֶגְדּוֹ (ezer kenegdo) sebagai “penolong yang sepadan dengan dia.” Terjemahan NET memberikan nuansa yang sedikit berbeda: “seorang pendamping yang sesuai dengannya,” sementara KJV menyebutnya “an help meet for him.” Namun, ada beberapa nuansa penting yang hanya bisa terlihat dalam bahasa Ibrani.
Pertama, kata עֵזֶר (ezer) muncul dua puluh satu kali dalam Alkitab Ibrani, dan hampir selalu merujuk kepada Allah sendiri sebagai penolong Israel dalam konteks pembebasan (Kel. 18:4; Ul. 33:7; Mzm. 33:20; 70:6). Meskipun tidak diragukan lagi bahwa dalam hubungan pernikahan seorang pria adalah kepala perjanjian, sebutan perempuan sebagai ezer sama sekali tidak menyiratkan makna yang lebih rendah. Sebaliknya, istilah ini mengandung makna kekuatan, komitmen, dan kesiapan untuk bertindak menyelamatkan pasangannya dengan segala risiko.
Kedua, כְּנֶגְדּוֹ (kenegdo) berasal dari akar kata נֶגֶד (neged), yang berarti “berhadapan dengan, di depan, sesuai dengan, berlawanan.” Awalan כְּ (ke-, “seperti”) menunjukkan kesamaan, sementara bentuk katanya mengandung ide konfrontasi atau korespondensi. Maka, frasa ini bersifat dinamis: perempuan adalah “penolong yang berhadapan/berseberangan dengannya” atau “kekuatan yang sepadan dengannya.” Ia setara dalam hakikat (keduanya adalah אָדָם, adam, manusia), namun berdiri berhadapan dalam kepribadian. Ketegangan ini disengaja: ia setara sekaligus berbeda, sama namun juga “yang lain.” Terjemahan “sepadan” dalam bahasa Indonesia sering mengurangi kedalaman arti ini menjadi sekadar kecocokan, padahal bahasa Ibrani menghadirkan gambaran seperti cermin—yang tidak hanya memantulkan, tetapi juga menantang.
Tulang Rusuk atau Sisi?
Kita tidak dapat memastikan apakah pembaca asli membayangkan suatu operasi ilahi secara harfiah atau memahami kisah ini sebagai kebenaran puitis (ingat, pendekatan ilmiah baru ada pada zaman kita, bukan pada zaman mereka). Dalam Kitab Kejadian, penciptaan הָאָדָם (adam, manusia) berasal dari אֲדָמָה (adamah, tanah), dan אִשָּׁה (isha, perempuan) berasal dari אִישׁ (ish, laki-laki). Hubungan keduanya sangat jelas.
Kemudian kita membaca:
“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging (וַיִּקַּח, אַחַת מִצַּלְעֹתָיו, וַיִּסְגֹּר בָּשָׂר, תַּחְתֶּנָּה).” (Kej. 2:21)
Kata benda yang biasanya diterjemahkan sebagai “tulang rusuk” adalah צֵלָע (tzela). Kata ini muncul sekitar 41 kali dalam Alkitab Ibrani, tetapi hanya di sini (Kejadian 2 : 21-22) digunakan untuk bagian tubuh manusia. 30 dari 41 kasus, kata ini diartikan “sisi” (tentang bahtera, misalnya, Keluaran 25:12; Keluaran 25:14; Keluaran 37:3; Keluaran 37:5; tentang tabernakel, misalnya, Keluaran 26:20; Keluaran 26:26–27; Keluaran 36:25; Keluaran 36:31–32; tentang sebuah bukit, 2 Samuel 16:13), dalam 5 kasus, artinya papan/balok (kayu atau arsitektur, 1 Raja-raja 6:15–16; 1 Raja-raja 7:3), dan dalam 3 kasus artinya kamar samping/ruangan samping (1 Raja-raja 6:5–6; Yehezkiel 41:5–9).
Pada abad ke-4, Bapa Gereja Latin, Hieronimus (Jerome), dalam Vulgata Latin (sekitar 405 M), menterjemahkan kata Yunani πλευρά sebagai costa, yang dalam bahasa Latin terutama berarti “tulang rusuk,” atau “sisi.” (namun penggunaan kata “sisi” kurang umum). Dengan kata lain, dalam Septuaginta Yahudi-Yunani, “sisi” adalah kata utama dan “tulang rusuk” adalah kata sekunder, tetapi dalam Vulgata Latin karya Jerome, tanpa disengaja, “tulang rusuk” menjadi kata utama dan “sisi” menjadi kata sekunder. Lewat Vulgata, kata “tulang rusuk” masuk ke dalam King James Version dan diikuti oleh banyak terjemahan lainnya selama berabad-abad tanpa tantangan. Meskipun sebagian besar terjemahan Alkitab mengikuti penggunaan kata “tulang rusuk” dalam KJV, sejumlah terjemahan lain baru-baru ini mengembalikan penggunaan bahasa Ibrani Alkitab yang dominan sebagai “sisi” atau “salah satu sisinya,” termasuk Common English Bible (CEB), International Standard Version (ISV), Lexham English Bible (LEB), dan Jubilee Bible (JUB).
Pemilihan kata צֵלָע (tzela) kemungkinan besar menunjuk pada sisi dari suatu struktur yang simetris, yang menyiratkan bahwa Adam dalam kisah Kejadian dapat dipahami sebagai “terbagi” menjadi dua bagian. (Hal ini akan menjadi sangat penting kemudian.)
Selanjutnya kita membaca:
“Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” (Kej. 2:22)
Kata kerja בָּנָה (bana, “membangun”) biasanya digunakan untuk membangun rumah atau mezbah (Kej. 8:20; 1 Raj. 6:1), bukan untuk penciptaan biologis (yang menggunakan kata lain, יָצַר yatzar, seperti dalam ayat 19 untuk binatang). Pilihan kata ini menunjukkan bahwa Allah “membangun” perempuan sebagai suatu struktur yang kokoh dan indah.
Satu Daging
Sebagai respons terhadap penciptaan perempuan, manusia itu bersukacita karena akhirnya menemukan ezer kenegdo. Kita membaca:
“Inilah dia, tulang dari tulangku (זֹאת עֶצֶם מֵעֲצָמַי)
dan daging dari dagingku (וּבָשָׂר מִבְּשָׂרִי);
ia akan dinamai perempuan (לְזֹאת יִקָּרֵא אִשָּׁה),
sebab ia diambil dari laki-laki (כִּי מֵאִישׁ לֻקֳחָה־זֹּאת).” (Kej. 2:23)
Terjemahan Alkitab menangkap makna dasarnya, tetapi sering kehilangan keindahan bunyi aslinya. Kata אִישׁ (ish) dan אִשָּׁה (isha) memiliki konsonan yang sama (אש), hanya berbeda pada vokal dan akhiran feminin. Dalam bahasa Ibrani, nama-nama ini menyatakan asal-usul dan kedekatan: perempuan adalah “yang berasal dari laki-laki.”
Frasa זֹאת הַפַּעַם (zot hapa’am, “akhirnya”) menyatakan penggenapan yang telah lama dinantikan setelah semua binatang tidak memberikan כְּנֶגְדּוֹ (kenegdo) yang sesuai.
Selanjutnya kita membaca:
“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya (עַל־כֵּן יַעֲזָב־אִישׁ אֶת־אָבִיו וְאֶת־אִמּוֹ וְדָבַק בְּאִשְׁתּוֹ), sehingga keduanya menjadi satu daging (וְהָיוּ לְבָשָׂר אֶחָד).” (Kej. 2:24)
Kata “meninggalkan” (יַעֲזָב, ya‘azov) menuntut pemutusan yang radikal dari ikatan orang tua, suatu pembalikan dari norma kuno di mana seorang suami lebih sering bersumpah setia kepada orang tuanya daripada kepada istrinya. Kata “bersatu” (דָבַק, davaq)—yang digunakan untuk komitmen perjanjian tertinggi (Ul. 10:20)—mengangkat pernikahan menjadi ikatan yang kudus. “Satu daging” (בָּשָׂר אֶחָד, basar eḥad) bukan hanya menunjuk pada hubungan seksual, tetapi pada penyatuan kembali manusia, membalikkan “pemisahan” manusia dalam penciptaan perempuan (Kej. 2:21). Adam, yang kehilangan separuh dirinya menjadi hanya separuh dari dirinya yang semula; ia membutuhkan wanita—yang dibentuk dari separuh dirinya—untuk menjadi utuh (satu daging) sekali lagi. Dalam Efesus kita membaca:
“Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Efesus 5 :28-31)
Menerjemahkan צֵלָע (tzela) sebagai “sisi” daripada “tulang rusuk” mungkin tidak membuat kisah Kejadian 2 lebih mudah dijelaskan kepada orang di luar iman, tetapi jelas membuatnya jauh lebih indah, konsisten, dan bermakna.
Kesimpulan
Pada awal penciptaan, Allah menuliskan kebenaran kekal dalam jiwa manusia: kita tidak diciptakan untuk kesendirian. Dari sisi manusia itu sendiri, Ia membentuk perempuan sebagai ezer kenegdo yang kuat—jawaban ilahi terhadap kesepian. Dia bukanlah sekadar pelengkap, melainkan mahakarya ilahi yang penuh kekuatan dan kesesuaian yang sempurna: seorang pasangan yang mencerminkan sekaligus menantang, seorang penolong yang melengkapi.
Namun bisikan Eden tidak berhenti pada pernikahan. Setiap ish dan ishah—baik janda, duda, bercerai, maupun lajang—tetap merupakan bagian dari suatu keutuhan yang lebih besar, yang merindukan pemulihan dalam komunitas perjanjian. Seperti cermin di tangan Allah, kita berdiri sebagai kenegdo: berhadapan namun sejiwa, terpisah dari kesatuan awal, tetapi dipanggil kembali kepada ikatan kudus yang memulihkan rasa memiliki.
Comments (0)
No comments yet.