Menemukan El Shadai
Kejadian pasal 17 merupakan titik penting dalam alur kisah Kitab Kejadian. Pasal ini menjadi jalan masuk kepada perjanjian dengan YHWH dan mempersiapkan panggung bagi sukacita yang akan menyertai kelahiran Ishak. Namun sebelum janji ini digenapi, Abraham dan keluarganya harus melewati sebuah ambang—yang bersifat spiritual, simbolis, pribadi, dan fisik. Kisah dalam Kejadian 17 menyimpan sebuah wawasan penting yang hampir selalu terlewatkan dalam pembacaan kita. Namun sebelum kita membahasnya, ada beberapa pengantar yang perlu disampaikan.
Pewahyuan diri Allah sebagai El Shadai
Pasal ini dibuka dengan suatu teofani yang mendefinisikan ulang hakikat Allah. Sang Kudus menampakkan diri kepada Abram (Avram, אַבְרָם) dan memperkenalkan diri-Nya dengan sebuah nama baru: El Shadai (אֵל שַׁדָּי). Alkitab kita sering menerjemahkan istilah ini sebagai “Allah Yang Mahakuasa”—sebuah gelar yang menekankan kuasa mutlak, yang berasal dari akar kata shadad (שָׁדַד), yang berarti menghancurkan atau menaklukkan. Namun, bahasa Ibrani memungkinkan penterjemahan yang berbeda. Konsonan yang sama juga menunjuk pada shadayim (שָׁדַיִם), kata bahasa Ibrani untuk “payudara”— sebuah simbol kuno yang kuat tentang pemeliharaan dan kemampuan untuk menopang kehidupan manusia. Dengan demikian, pewahyuan diri Allah sebagai El Shadai menjadi kurang berkaitan dengan kekuatan yang dahsyat (“Allah Yang Mahakuasa”), melainkan lebih tentang Dia “Yang Maha Mencukupi”—Allah yang memelihara dan menopang, yang setia menggenapi janji-Nya sebagai seorang Bapa.
Identitas yang Baru
Dalam Kejadian 17, Allah menyatakan sebuah realita baru. Nama Abram, yang berarti “bapa yang ditinggikan” dari av אָב (“bapa”) dan ram רָם (“tinggi”), diubah menjadi Abraham, yang berarti “bapa segala bangsa,” dari av אָב (“bapa”) dan hamon הָמוֹן (“banyak” atau “kerumunan”).
Dalam sebuah pernyataan yang menakjubkan, Allah menyebutl hal-hal yang belum ada seolah-olah sudah ada. Abraham, yang pada usia sembilan puluh sembilan tahun masih belum memiliki anak, dirancang kembali sebagai nenek moyang banyak bangsa. Lebih dari itu, Yang Kudus menambahkan huruf Ibrani “hei” (ה) ke dalam nama Abram—sebuah huruf yang merupakan bagian dari Nama Allah, YHWH (יהוה). Huruf ini, yang melambangkan Allah dan kehidupan yang Ia berikan, diselipkan ke dalam nama “Abram” (אַבְרָם) sehingga menjadi “Abraham” (אַבְרָהָם).
Tanda Perjanjian
TUHAN (YHWH) menyatakan kepada Abraham bahwa tanda perjanjian antara Dia dengan Abraham dan keturunannya adalah sunat (brit milah, בְּרִית מִילָה). Dengan demikian, Allah mengambil organ prokreasi manusia—pusat kemampuan manusia untuk mengendalikan masa depan, membangun keturunan, dan menegakkan namanya—dan menandainya sebagai milik-Nya.
Ini adalah tanda yang diukir dalam daging (ot bavasar, אוֹת בַּבָּשָׂר): suatu tanda permanen, bukan sekadar tertulis di atas kertas atau diukir di batu, melainkan memiliki bobot yang jauh lebih besar. Tanda ini menjadi pengingat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi bahwa kapasitas penciptaan tertinggi manusia (melahirkan keturunan) harus tunduk kepada otoritas TUHAN.
Yang penting, perintah ini tidak hanya berlaku bagi Abraham. YHWH memerintahkan:
“Setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; … baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.” (Kejadian 17:10–12)
Perjanjian ini bukan hanya mencakup garis keturunan biologis, tetapi seluruh isi rumah tangga—seluruh komunitas yang hidup bersama Abraham. Setiap laki-laki, dari ahli waris hingga hamba, harus menerima tanda ini. Ini adalah suatu penyetaraan yang mendalam, yang menunjukkan bahwa menjadi milik Allah bukan semata-mata soal garis keturunan, tetapi masuk ke dalam keluarga iman.
Dalam Satu Hari
Apa yang terjadi selanjutnya menjadi bukti tertinggi dari iman Abraham. Pada hari itu yang sama, tanpa keraguan atau penundaan, Abraham mengambil Ismael dan semua laki-laki dalam rumahnya—baik yang lahir di rumahnya maupun yang dibelinya—dan “mengerat kulit khatan mereka” (Kejadian 17:23).
Ketaatannya bukan hanya menyeluruh, tetapi juga segera, tanpa mempertimbangkan risiko besar yang menyertainya.
Mengapa waktu ini penting? Karena dengan menyunat semua laki-laki di rumahnya dalam satu hari, Abraham membuat seluruh perkemahannya menjadi tidak berdaya, sepenuhnya mempercayakan keselamatan mereka kepada TUHAN (YHWH), yang juga dikenal sebagai El Shadai. Ia mengingat janji Allah sebelumnya (Kej. 15:1). Kita membaca :
“Janganlah takut, Abram (אַל־תִּירָ֣א אַבְרָ֗ם), Akulah perisaimu (אָנֹכִי֙ מָגֵ֣ן לָ֔ךְ); upahmu akan sangat besar (שְׂכָרְךָ֖ הַרְבֵּ֥ה).” (Kej. 15:1)
Jelas bahwa Abraham pasti mengingat janji ini ketika ia mempertimbangkan bahaya besar yang akan dihadapi seluruh keluarganya di lingkungan yang penuh permusuhan di Timur Tengah kuno.
Untuk memahami bahaya ini, kita dapat melihat kisah tragis Dina dalam Kejadian 34. Setelah Sikhem, seorang pangeran Hewi, memperkosa putri Yakub, ia berusaha menikahinya. Saudara-saudaranya, Simeon dan Lewi, menanggapi dengan tipu daya yang licik. Mereka bersikeras bahwa perkawinan campur hanya dapat terjadi jika setiap laki-laki di kota milik Sikhem menjalani sunat.
Hemor dan Sikhem membujuk penduduk kota mereka untuk patuh. Tetapi pada hari ketiga, ketika para pria “menderita kesakitan” (Kejadian 34:25)—dalam keadaan paling rentan dan tidak berdaya secara fisik—Simeon dan Lewi menyerbu kota dan membantai setiap laki-laki.
Kembali kepada kisah kita, Abraham—seorang pejuang yang berpengalaman dan bijaksana, pasti memahami risiko ini. Ia baru saja memimpin 318 orang terlatih untuk menyelamatkan Lot dan keluarganya dari penculikan, yang menunjukkan kemampuan strategisnya (Kejadian 14). Ia sangat menyadari bahwa pasukan tempur yang terdiri dari orang-orang yang tidak berdaya sama sekali tidak akan membantu.
Dengan memerintahkan sunat massal dalam satu hari, Abraham bukan sekadar melakukan ritual; ia mentaati Allah dengan mengorbankan keamanan pribadi dan komunitasnya. Ia tahu bahwa sampai dua minggu berikutnya, setiap prajurit akan lumpuh, sehingga kawanan ternak, kekayaan, dan keluarga di perkemahan akan benar-benar tak berdaya melawan tetangga yang dendam atau pengembara yang lewat. Pada saat kerentanan yang total itu, dia menyerahkan seluruh masa depannya—kekayaannya, keluarganya, dan bahkan hidupnya sendiri—ke tangan El Shadai, Yang Maha Mencukupi.
Dari Abraham sampai Kristus
Momen kerentanan total Abraham ini mencapai puncaknya dalam pelayanan dan kematian Yesus. Sama seperti Abraham yang menjadikan seluruh keluarganya tak berdaya, mengandalkan perlindungan El Shadai, Yesus kemudian akan menanggalkan hak istimewa dan kuasa ilahi-Nya, menjadikan diri-Nya benar-benar rentan di atas salib Romawi. Kesamaan ini semakin dalam ketika kita mendengar kata-kata Yesus di salib: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (Lukas 23:46) Ini bukan sekadar kata-kata penyerahan, tetapi pernyataan iman yang mendalam—iman yang sama seperti yang ditunjukkan Abraham ketika dia menyerahkan seluruh keselamatan perkemahannya ke tangan Tuhan. Abraham menyerahkan kemampuannya untuk melindungi keluarganya melalui kekuatan militer, Yesus menyerahkan nyawa-Nya sendiri, mempercayakan Bapa untuk menerima pengorbanan-Nya bagi dunia dan untuk membangkitkan-Nya dalam tiga hari. Dengan kata lain, sebagaimana ketaatan Abraham pada hari itu membuka jalan bagi lahirnya bangsa Israel sebagai sebuah keluarga, penyerahan diri total Yesus di kayu salib membuka jalan bagi seluruh ciptaan baru (Wahyu 21:5).
Kesimpulan
Inilah inti dari iman kita di zaman modern. Kita sering tergoda untuk membangun keamanan kita sendiri—baik melalui perencanaan strategis, jaringan pengaman keuangan, atau kemampuan pribadi. Namun Allah tetap memanggil kita masuk ke dalam ruang kelemahan yang kudus, di mana kita melepaskan kemandirian kita dan mempercayakan hal-hal yang tidak dapat kita kendalikan kepada-Nya. Justru di dalam penyerahan itulah kuasa-Nya dinyatakan.
Kita tidak dipanggil untuk menyusun strategi demi keselamatan, tetapi cukup dengan percaya kepada El Shadai—Yang Maha Mencukupi— sehingga kita berani menunjukkan kelemahan kita terhadap janji dan kuasa-Nya. Inilah jalan yang ditempuh Abraham, jalan yang disempurnakan Yesus, dan jalan yang harus kita tempuh.
Comments (0)
No comments yet.