Alegori Sara dan Hagar dalam Konteks Peristiwa Antiokhia
Seperti yang sudah diketahui secara luas, Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Galatia untuk menanggapi sebuah persoalan yang muncul di tengah-tengah komunitas Galatia. Para pengkhotbah Yahudi alternatif tentang Injil Kristus (meskipun mungkin mereka hanyalah orang Yahudi yang tidak mengikuti Kristus) meyakinkan orang-orang percaya dari bangsa-bangsa non-Yahudi bahwa mereka baru dapat diterima penuh ke dalam umat Allah jika mereka memenuhi syarat dengan berkomitmen terhadap Taurat dengan cara menjadi proselit. Hal ini mencakup hukum-hukum universal Allah maupun hukum-hukum yang khusus diberikan kepada bangsa Israel. Paulus dengan tegas menentang pandangan ini, menegaskan bahwa di masa lalu, orang-orang non-Yahudi, dan sekarang telah menjadi pengikut Kristus Yesus, telah diterima ke dalam umat Allah melalui iman kepada Mesias Yahudi.
Studi ini berfokus pada dua bagian penting: a) konfrontasi antara Paulus dan Petrus di Antiokhia (Gal 2:11–19), dan b) penafsiran alegoris Paulus yang menghubungkan Hagar, Taurat, dan Yerusalem masa kini yang berada dalam perbudakan—yang dikontraskan dengan Sara, kemerdekaan/ kebebasan, dan ibu kota surgawi Israel, yaitu Yerusalem Baru (Gal 4:21–30).
Panggilan Paulus dan Konsili Yerusalem
Untuk memahami inti dari peristiwa di Antiokhia, kita perlu melihat bagaimana Paulus sendiri memahami panggilannya. Ia merujuk pada wahyu ilahi dan menegaskan bahwa kerasulannya sepenuhnya independen. Segera setelah panggilannya (Kis 9:15–16), ia pergi ke Arab, bukan kepada para rasul (Gal 1:11–17). Baru setelah tiga tahun (Gal 1:17–18), dan kemudian setelah empat belas tahun berikutnya, Paulus datang ke Yerusalem untuk bertemu dengan para rasul utama (Gal 2:2, 9) guna membahas inti dari Injil yang diberitakannya. Ia datang bersama rekannya, Barnabas yang seorang Yahudi, dan Titus, seorang Yunani yang tidak bersunat (Gal 2:1–2).
Para rasul yang hadir (Petrus, Yohanes, dan Yakobus saudara Tuhan Yesus) mengakui pembagian panggilan Allah: Paulus diutus kepada bangsa-bangsa di luar perjanjian dengan Allah Israel, sedangkan Petrus kepada mereka yang sudah bersunat. Yang paling penting, kelompok otoritatif di Yerusalem ini tidak menuntut Titus untuk disunat (Gal 2:3–9).
Konfrontasi demi Kebenaran Injil di Antiokhia
Paulus menceritakan bagaimana ia menentang Rasul Petrus karena kesalahan serius: “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. (Gal 2:11–13).
Beberapa Orang dari Kalangan Yakobus
Paulus mengakui Yakobus sebagai salah satu pilar jemaat Yerusalem (Gal 2:9) dan menyatakan bahwa Yakobus menyetujui gaya penginjilannya kepada bangsa-bangsa non-Yahudi dalam pertemuan di Yerusalem (Gal 2:7–10). Lalu siapakah yang dimaksud dengan “beberapa orang dari kalangan Yakobus”? Peristiwa di Antiokhia menunjukkan bahwa tidak semua orang di kalangan Yakobus setuju dengan pendekatan Paulus (yang sepenuhnya logis), atau “dari kalangan Yakobus” hanyalah merujuk pada lokasi geografis (yaitu, Yudea, bukan diaspora). Perlu diingat, kita bahkan tidak dapat memastikan bahwa “beberapa orang dari kalangan Yakobus” benar-benar pengikut Yesus. Itu adalah asumsi, bukan fakta pasti.
Namun, kelompok di kalangan Yakobus mungkin percaya bahwa pada zaman akhir—yang mereka yakini mereka sedang hidup di zaman akhir—bangsa-bangsa non-Yahudi harus bergabung dengan bangsa Israel melalui proses proselit, seperti yang dinubuatkan para nabi (misalnya Yes 56:6–7). Tujuan mereka bukan menolak bangsa-bangsa non-Yahudi, melainkan memasukkan mereka dengan “tepat” ke dalam umat Allah secara eskatologis. Karena itu, kunjungan mereka kepada Petrus bukanlah sabotase terhadap keputusan Konsili Yerusalem, melainkan upaya memastikan keberhasilan komunitas campuran terbesar di Antiokhia di hadapan Allah dan orang-orang Yahudi diaspora. Para utusan yang mewakili kelompok orang-orang Yahudi yang lebih taat yang percaya kepada Yesus Kristus tampaknya menganggap khotbah Paulus kurang matang. Di bawah pengaruh mereka, Petrus menarik diri dari persekutuan makan bersama orang-orang non-Yahudi sebelumnya, yang kemudian memicu teguran keras dari seorang Farisi yang kita kenal sebagai Rasul Paulus.
Penolakan Petrus mencerminkan kekhawatiran umum di kalangan orang Yahudi saleh tentang kenajisan dalam ritual makan bersama dengan bangsa-bangsa non-Yahudi (bdk. Jub 22:16; Yudit 12:1–4; Tob 1:10–11; Dan 1:8). Sampai saat ini, partisipasi Petrus sebelumnya dalam jamuan makan bersama mantan orang non-Yahudi (Kisah Para Rasul 10:9–48; 11:1–18) tidak berarti bahwa ia melanggar hukum makanan dalam Perjanjian Lama, karena ia adalah rasul bagi orang-orang yang bersunat (Galatia 2:8). Sebaliknya, jamuan makan itu hanya menyajikan makanan yang diizinkan dan menjadi pernyataan teologis yang berani: bahwa di dalam Kristus Yesus, bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain di bumi dipersatukan dalam satu komunitas dengan makan bersama (bdk. Ef 2:11–22). Namun ketika Petrus—di bawah pengaruh “beberapa orang dari kalangan Yakobus” (Gal 2:12)—menarik diri dari perjamuan itu, Paulus menuduhnya munafik, melihat hal ini sebagai penyimpangan yang menyesatkan para pengikut Kristus lainnya dari kalangan Yahudi, termasuk Barnabas (Gal 2:13).
Pertanyaan Kunci
Kita membaca:
“Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi (Ἰουδαῖος ὑπάρχων), hidup (ζῇς) secara kafir (ἐθνικῶς) dan bukan secara Yahudi (καὶ οὐχὶ Ἰουδαϊκῶς), bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat (πῶς τὰ ἔθνη) untuk hidup secara Yahudi (ἀναγκάζεις ἰουδαΐζειν)?’” (Gal 2:14).
Frasa “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir…” (Gal 2:14) menjadi sangat penting.
Tiga Pendekatan Penafsiran
Literal: Petrus sementara menyimpang dari kebiasaan Yahudi (terutama dalam hal makanan) dan hidup seperti “orang non-Yahudi (kafir).” Namun, penafsiran ini kurang tepat, mengingat Petrus dikenal sebagai “rasul bagi orang bersunat” (Gal 2:8). Jika benar demikian, kredibilitasnya akan runtuh.
Kontekstual (terkait dengan makanan): Karena menolak untuk makan bersama orang kafir merupakan ciri perilaku sebagian besar orang Yahudi di Israel kuno dan diaspora, “hidup seperti orang kafir” bagi Petrus bisa berarti makan bersama semua orang, sementara “hidup seperti orang Yahudi” berarti mematuhi pemisahan tradisional. Oleh karena itu, penolakannya untuk makan bersama menjadi alasan untuk menuduhnya munafik. Kata Yunani yang digunakan, ὑπόκρισις (hypokrisis), sebenarnya berarti “bermain peran.” Seorang hypocrate adalah seorang aktor—seseorang yang memakai topeng dan memainkan peran yang bertentangan dengan dirinya yang sebenarnya. Tindakan ini bukanlah tindakan pribadi; tindakan itu ditunjukkan di depan umum untuk masyarakat. Tindakan ini membingungkan orang Yahudi lainnya, termasuk Barnabas, seorang sahabat yang terpercaya.
Teologis (M. Nanos, Paul within Judaism): Penekanannya bukan pada perilaku Petrus sehari-hari, melainkan pada realita teologis “hidup bersama Allah.” Menurut pandangan ini baik orang Yahudi (seperti Petrus, Barnabas, Paulus dan Yakobus) maupun perwakilan bangsa-bangsa non-Yahudi di dunia memperoleh “hidup bersama Allah” (ζῇς) dengan cara yang sama—melalui iman kepada Kristus Yesus, terlepas dari kepatuhan terhadap ketentuan khusus Israel (“pelaksanaan hukum”). Dengan demikian, pernyataan Paulus dapat dipahami sebagai berikut : “Jika kamu, sebagai seorang Yahudi, memperoleh hidup di hadapan Allah dengan cara yang sama seperti orang non-Yahudi (yaitu, melalui iman), dan bukan semata-mata dengan cara Yahudi (melalui ketaatan pada ketentuan-ketentuan khusus Israel), lalu apa gunanya memaksa orang non-Yahudi untuk mengikuti ritual dan kebiasaan orang Yahudi?”
Pernyataan selanjutnya menegaskan dua opsi terakhir: “Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain. Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:15–16a).
Selanjutnya, Paulus menegur jemaat Galatia karena menyimpang dari kebenaran (Gal 3:1). Ia mengingatkan bahwa mereka telah menerima a) Roh Kudus, dan b) melihat mukjizat yang dilakukan di antara mereka oleh Allah Israel, dengan beriman, yaitu, bahkan sebelum mereka berada di bawah pengaruh “orang-orang tertentu dari kalangan Yakobus” (Gal 3:2–5). Bagi Paulus, semuanya jelas: Abraham dibenarkan karena iman, dan sunat muncul kemudian (Gal 3:6–9). Oleh karena itu, bagi jemaat Galatia, iman lah—bukan ketaatan pada hukum khusus bangsa Israel, sebagaimana dalam kisah Abraham (Kej 15:6) – sekali lagi menjadi jalan pembenaran di hadapan Allah. Karena itu pula, meskipun tetap ada perbedaan antara Yahudi dan Yunani, laki-laki dan perempuan, dan seterusnya, semua hirarki dan keutamaan telah dihapuskan di dalam Kristus. Semua orang percaya, baik dari “Yahudi” maupun dari “bangsa-bangsa lain,” adalah anak-anak Abraham dan ahli waris janji yang sama (Gal 3:25–29).
Alegori Hagar dan Sara
Kita membaca:
“Bukankah ada tertulis, bahwa Abraham mempunyai dua anak: seorang dari perempuan yang menjadi hambanya dan seorang dari perempuan yang merdeka? Tetapi anak dari perempuan yang menjadi hambanya itu diperanakkan menurut daging dan anak dari perempuan yang merdeka itu oleh karena janji” (Gal 4:22–23).
Ini adalah rujukan singkat ke salah satu kisah mendasar dalam Taurat—tentang Sara dan Hagar. Selanjutnya, Paulus menyampaikan salah satu argumennya yang paling kompleks, terutama jika dibaca di luar kerangka “teologi penggantian”:
“Ini adalah suatu kiasan (ἀλληγορούμενα). Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar – Hagar ialah gunung Sinai di tanah Arab – dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang, karena ia hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya…” (Gal 4:24–25).
Meskipun Gunung Sion memiliki peran yang besar dalam sejarah perjanjian, Gunung Sinai menempati posisi khusus dalam sejarah awal Israel. Menariknya, kata Ibrani kuno untuk “gunung” dengan artikel tertentu—הָהָר (ha-har)—memiliki kemiripan fonetik dengan nama הָגָר (Hagar). Kaitan bunyi ini mungkin secara tidak sadar mendorong Paulus untuk secara alegoris mengaitkan perjanjian Sinai dengan Hagar, hamba Sara. Namun, kemiripan ini juga bisa saja kebetulan. Jelas, tidak masuk akal untuk mengharapkan jemaat Galatia yang berbahasa Yunani memahami pesan ini tanpa mengenal bahasa Ibrani kuno.
Masalah Penafsiran
Dari sudut pandang Kristen tradisional, memahami “pikiran Paulus” tidaklah sulit: Yudaisme, sebagaimana dinyatakan dalam Hukum Musa, dianggap telah memenuhi fungsinya. Namun, membaca surat tersebut dalam konteks Yahudi abad ke-1 (yang merupakan satu-satunya pendekatan yang bertanggung jawab) mengharuskan kita untuk menyelaraskan pernyataan Paulus yang tajam dalam Surat kepada Jemaat Galatia dengan dua fakta: a) identifikasi dirinya yang tetap sebagai seorang Farisi dan anak seorang Farisi bahkan setelah pertobatannya kepada Kristus (Kis 23:6; Flp 3:5), dan b) sanggahannya secara terbuka terhadap tuduhan bahwa ia mengajar orang-orang Kristen Yahudi di diaspora untuk meninggalkan Hukum Musa, mengabaikan sunat, atau meninggalkan adat istiadat nenek moyang (Kis 21:20–24).
Makna Metafora Paulus
Dalam alegorinya, Paulus mengaitkan Hagar dengan Hukum Musa—sebagai penuntun sementara, baik dan diperlukan, tetapi menurut rancangan Allah, tidak mampu memberikan keselamatan. Paulus, yang tetap menghargai dan mengasihi Taurat, yakin bahwa hukum itu selalu memiliki fungsi lain yang sangat penting dan bermanfaat. Ia tidak menyangkali makna, kekudusan, dan kegunaan Taurat yang tetap berlaku. Namun, meskipun ia tetap sadar akan identitasnya sebagai seorang Farisi, ia menegaskan bahwa fungsi pendidikan Taurat telah mencapai tujuan dan penggenapannya di dalam Kristus.
Identifikasi Paulus tentang Hagar dengan “Yerusalem sekarang,” yang “hidup dalam perhambaan dengan anak-anaknya,” merupakan bagian yang paling sulit dipahami dalam alegori ini. Pernyataan ini secara alegoris menghubungkan Gunung Sinai (dan perjanjian di sana) dengan Yerusalem masa kini yang, menurut Paulus, berada dalam perhambaan. Bagaimana kita memahaminya?
Perhambaan sebagai Perlindungan
Selain kemungkinan merujuk pada penjajahan Romawi, untuk memahami metafora ini, kita perlu mengerti arti perbudakan dalam dunia Romawi pada zaman Paulus. Paulus menggunakan konsep ini terutama secara retoris, tanpa konotasi moral negatif seperti yang kita pahami saat ini. Perbudakan adalah bagian mendasar dari tatanan sosial. Banyak budak (meskipun tidak semua) berfungsi sebagai pengelola rumah tangga dan orang yang mendidik anak-anak—παιδαγωγός (paidagogos), istilah yang juga digunakan Paulus dalam Gal 3:24–25. Peran ini menunjukkan status yang tinggi dalam keluarga terpandang dan memiliki tanggung jawab yang besar. Namun demikian, betapapun besar hak istimewa seorang budak, Ia tetap sepenuhnya berada di bawah wewenang dan pengawasan kepala rumah tangga sampai saat pembebasan. Inilah makna utama dari istilah “perbudakan” (δουλεία) dalam alegori Paulus: ketundukan, pengawasan sementara, dan kehidupan yang dikendalikan.
Paulus tidak memandang Yerusalem saat ini dan anak-anaknya “dalam perbudakan” sepenuhnya secara negatif, seperti yang kita pikirkan. Perjanjian Sinai, sebagai pemberian Allah yang kudus dan baik, berfungsi sebagai penuntun, pengurus dan pelindung. Tidak lagi “berada di bawah hukum” berarti hidup dalam kebebasan penuh sebagai ahli waris yang dewasa. Dari sudut pandang Paulus, di zaman mesianik bagi semua orang percaya, baik “Yahudi” maupun “bukan Yahudi,” perlindungan ini telah mencapai tujuan yang baik, memang dimaksudkan, dan telah lama dinantikan (τέλος, telos).
Yerusalem Surgawi Itu Merdeka
Dengan latar ini, Paulus melanjutkan:
“Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita (ἥτις ἐστὶν μήτηρ ἡμῶν). Karena ada tertulis: ‘Bersukacitalah, hai si mandul yang tidak pernah melahirkan ! Bergembira dan bersorak-sorailah, hai engkau yang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak dari pada yang bersuami’” (Gal 4:26–27).
Galatia 4:27 adalah kutipan langsung dari Yesaya 54:1, di mana nabi Yesaya berbicara kepada Yerusalem pada zamannya—kota yang hancur setelah pembuangan Babel—dan membandingkannya dengan perempuan mandul dan janda. Allah menyatakan harapan yang paradoks: justru yang “mandul” dan “ditinggalkan” ini akan memiliki lebih banyak anak (penduduk) di masa depan daripada kota yang makmur. Ini adalah metafora untuk pemulihan yang akan datang.
Gambaran tentang ibu yang ditinggalkan tetapi kelak akan berbuah tidak hanya menunjuk pada pemulihan Yerusalem yang akan datang, tetapi juga secara alegoris mengidentifikasinya dengan Sara, ibu leluhur umat Allah, yang keturunannya juga lahir karena janji, bertentangan dengan tatanan alam. Dengan demikian, bagi Paulus, bukan Yerusalem sekarang, melainkan Yerusalem masa depan—“Yerusalem surgawi”—yaitu ibu rohani semua orang percaya yang dilahirkan merdeka.
Untuk memahami Galatia 4 dengan tepat, penting juga melihat Roma 9–11. Dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menyatakan duka citanya atas Israel, sekaligus menegaskan kesetiaan Allah terhadap janji-Nya. Hal ini tidak dapat ditafsirkan bahwa alegori Hagar dan Sara sebagai penolakan total terhadap Israel. Paulus tidak sedang membandingkan bangsa-bangsa, melainkan dua prinsip: warisan “menurut daging” (melalui hukum dan garis keturunan) dan “menurut Roh” (melalui iman). Yerusalem sekarang mencerminkan jalan yang tidak sempurna yang dipilih oleh lawan-lawan Paulus, namun keberadaannya tidak menutup masa depan bagi Israel—tema ini dikaji Paulus secara mendalam di bagian selanjutnya.
Anak-Anak Janji
Saat berbicara kepada para pengikut Kristus di Galatia, yang dulunya adalah orang-orang kafir, Paulus memberi tahu mereka sebuah fakta yang mencengangkan: “Dan kamu, saudara- saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji” (Gal 4:28). Artinya, pemulihan Yerusalem masa depan berkaitan langsung dengan masuknya bangsa-bangsa lain di bumi ke dalam iman kepada Allah Israel melalui Yang Diurapi-Nya, Raja Yesus.
Dalam Konsili Yerusalem, rasul Yakobus, menyampaikan argumen penting dengan mengutip nubuat Amos (Am 9:11–12), menegaskan bahwa pertobatan bangsa-bangsa non-Yahudi adalah penggenapan janji Allah (Kis 15:13–18). Allah sedang memulihkan “kemah Daud yang telah jatuh,” dan masuknya bangsa-bangsa non-Yahudi adalah tanda dari pemulihan eskatologis ini.
Rasul Paulus dalam Suratnya kepada Jemaat Galatia memberikan penafsiran teologis yang mendalam mengenai fakta ini. Ia menegaskan bahwa orang percaya dari bangsa-bangsa non-Yahudi bukanlah “anggota kelas dua,” tetapi seperti Ishak, adalah “anak-anak janji” sepenuhnya (Gal 4:28). Dengan demikian, kerajaan Daud yang dipulihkan melalui Mesias Yesus mengambil bentuk rohani baru—“Yerusalem surgawi” (Gal 4:26). Umat Allah yang baru ini terdiri dari para ahli waris Abraham yang merdeka, dipersatukan bukan oleh hukum, tetapi oleh iman kepada janji.
Pertentangan
Dalam bagian yang penting (Gal 4:28–31), Paulus menggunakan kisah Abraham untuk membangun kontras yang tajam. Ia mengidentifikasikan orang percaya dari bangsa-bangsa non Yahudi—yang menerima Injil kebebasan—dengan Ishak, pewaris yang lahir sebagai orang merdeka, “lahir dari Roh.” Sebaliknya, mereka yang menuntut sunat dan pelaksanaan Taurat sebagai syarat perjanjian disamakan dengan Ismael, yang “lahir menurut daging.” Merujuk pada Kejadian 21:10 (“Usirlah hamba perempuan itu dan anaknya…”), penulis menafsirkan ayat tersebut bukan sebagai penolakkan Yudaisme sebagai agama, tetapi sebagai argumen polemik untuk membela kesetiaan misinya di antara bangsa-bangsa non-Yahudi untuk menghadapi berbagai penafsiran Injil yang berbeda dari orang-orang Yahudi. Kesimpulan rasul itu tegas: “Karena itu, saudara-saudara, kita bukanlah anak-anak hamba perempuan, melainkan anak-anak perempuan merdeka” (Galatia 4:31).
Kesimpulan
Maka dari itu, bagi Paulus, sangat penting untuk menegaskan hal berikut: di dalam Kristus, semua orang percaya—baik Yahudi maupun non-Yahudi—menjadi anak-anak dari perempuan merdeka, yaitu Yerusalem surgawi, kota Allah yang akan datang (Gal 4:26, 31). Kebebasan dan warisan eskatologis ini tidak diperoleh melalui “pelaksanaan hukum Taurat” (meskipun pelaksanaannya tidak dilarang, bdk. Rm 14:5–6), melainkan semata-mata melalui janji, oleh iman—seperti Abraham yang dibenarkan sebelum hukum Taurat diberikan dan sebelum ia disunat.
Peraturan-peraturan ritual dalam perjanjian Musa tetap memiliki arti penting sebagai penanda identitas sejarah bangsa Israel. Namun, dalam realita baru yang datang melalui Mesias dan pencurahan Roh Kudus (Kis 10:44–48), tanda-tanda ini tidak lagi menjadi syarat bagi bangsa-bangsa non-Yahudi yang percaya. Hal-hal tersebut bukanlah syarat mutlak untuk masuk ke dalam perjanjian dengan Allah atau tinggal di dalamnya (Gal 3:28–29; 4:1–7). Dengan demikian, umat Allah yang baru dan universal tidak dibangun atas dasar identitas etnis atau budaya, melainkan atas dasar iman—iman yang di dalam Kristus mempersatukan semua orang dan menjadikan mereka ahli waris penuh dari janji kepada Abraham (Gal 3:14, 29).
Kesimpulan praktis dari posisi teologis ini adalah sebagai berikut: pemikiran Paulus tidak melarang orang Kristen dari bangsa-bangsa non-Yahudi untuk mempelajari Taurat dengan penuh hormat, merayakan hari-hari raya Yahudi, atau memelihara Sabat sebagai praktik rohani. Namun, ia dengan tegas menolak gagasan bahwa “perbuatan-perbuatan” tersebut diperlukan untuk “memperoleh atau mempertahankan status benar di hadapan Allah” (Gal 2:15–16; 5:1). Status mereka telah diteguhkan melalui anugerah oleh iman, melalui karunia Roh Kudus, sehingga mereka menjadi sesama ahli waris bersama orang-orang Yahudi yang percaya.
Comments (0)
No comments yet.