Topik Hangat

Paskah sebagai Passover Kristen

 

Dalam beberapa dekade terakhir, banyak orang Kristen yang sungguh-sungguh menghargai akar Yahudi dari iman mereka mulai mempertanyakan perayaan Paskah. Dipengaruhi oleh gerakan “Akar Ibrani” (yang sebagian besar dipimpin dan diikuti oleh orang-orang non-Yahudi, dengan latar belakang Kristen dari bangsa-bangsa non-Yahudi) serta kerinduan untuk kembali kepada praktik Alkitabiah dari orang percaya Yahudi mula-mula, sebagian orang menyimpulkan bahwa Paskah (Easter) adalah bentuk penyimpangan kafir dari perayaan Paskah (Passover) Alkitab yang murni. Mereka merujuk pada nama bahasa Inggris “Easter,” simbol telur dan kelinci, serta perbedaan tanggal yang ditetapkan oleh gereja di kemudian hari sebagai bukti bahwa gereja bangsa- bangsa non-Yahudi mula-mula telah meninggalkan Paskah Yahudi/Alkitabiah yang ditetapkan Allah, dan menggantinya dengan hari raya kafir yang disebut Easter.

Tuduhan dan kekhawatiran ini layak untuk diperhatikan dengan hormat. Bagi orang percaya yang menghargai kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang melihat Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan bagi Israel, dan yang rindu menghormati perjanjian-perjanjian yang Allah buat dengan Abraham, Ishak, dan Yakub, setiap dugaan adanya unsur kafir dalam ibadah tentulah mengkhawatirkan. Kerinduan untuk tetap setia pada pola Alkitab adalah sesuatu yang patut dipuji dan mencerminkan rasa hormat yang sehat terhadap Firman Allah.

Namun demikian, bahkan analisis singkat terhadap sejarah, bahasa, dan Kitab Suci menunjukkan bahwa apa yang selama berabad-abad diperingati oleh kebanyakan orang Kristen  sebagai Pascha (yang kemudian disebut Easter dalam bahasa Inggris) bukanlah penolakan terhadap Paskah Alkitab Israel, melainkan penggenapannya yang ditetapkan secara ilahi dalam Kristus Yahudi, Raja kita. Inilah tepatnya mengapa, di banyak negara di seluruh dunia, apa yang disebut “Easter” dalam bahasa Inggris justru dikenal sebagai “Passover Kristen” atau “Pascha.”

Nama “Easter

Keberatan paling umum terhadap Paskah sering kali dimulai dari kata bahasa Inggris itu sendiri. Banyak yang mengklaim bahwa kata tersebut berasal dari “Ishtar,” dewi kesuburan Babel. Gagasan ini telah tersebar luas, tetapi sebenarnya terdapat kesalahpahaman linguistik tanpa adanya dasar historis. Sebenarnya nama bahasa Inggris tersebut berasal dari bahasa Inggris Kuno Ēastre (atau Ēostre), yang oleh Bede, seorang biarawan Inggris abad ke-8, dikaitkan dengan nama sebuah bulan (Ēosturmōnaþ) dan kemungkinan festival musim semi Anglo-Saxon pra-Kristen atau dewi tertentu. Sebagian sarjana menerima hal ini sebagai bukti adanya pemujaan lokal, sementara yang lain berpendapat bahwa Bede mungkin keliru menyimpulkan adanya dewi itu berasal dari nama bulan. Sumber utama kita hanyalah satu biarawan ini, dan para ahli masih memperdebatkan detailnya—beberapa menelusuri asal katanya ke akar Proto-Jermanik yang berarti “timur” atau “fajar.” Memang benar bahwa orang-orang Anglo-Saxon pra-Kristen mengadakan perayaan untuk menghormatinya selama bulan itu (sekitar April), dan ketika Kekristenan menyebar, para misionaris sering menggunakan pendekatan adaptasi budaya: mereka mempertahankan nama musim yang sudah dikenal, tetapi mengarahkan maknanya untuk merayakan kebangkitan Kristus. Karena itu, dalam beberapa bahasa Jermanik, termasuk bahasa Inggris, istilah bahasa Aram “Pascha” secara bertahap digantikan oleh apa yang sekarang kita sebut Easter.

Namun, meskipun nama Bahasa Inggris tersebut membawa sejarah budaya ini, nama itu tetap merupakan pengecualian linguistik. Dalam hampir semua bahasa lain, bahkan dalam penggunaan awal bahasa Inggris, perayaan itu telah disebut Pascha (atau Pasch), yaitu bentuk Yudeo-Yunani dari kata Ibrani “Pesach” (Passover). Bagi sebagian besar orang Kristen sepanjang sejarah—Yunani (Πάσχα), Latin (Pascha), Slavia (Пасха), dan bahasa-bahasa Roma (misalnya Prancis Pâques dan Spanyol Pascua)—perayaan ini selalu disebut Pascha, yang merupakan bentuk Yudeo-Yunani dari kata Aram/Ibrani “Pesach” (פֶּסַח), yang berarti “Paskah/Passover.” Dengan demikian, nama dalam bahasa Inggris hanyalah pengecualian regional, bukan norma Kristen secara universal.

Sejak abad-abad awal, Gereja orang percaya Yahudi maupun non-Yahudi menyebut perayaan ini sebagai Pascha (Πάσχα). Nama ini sendiri membawa ingatan langsung akan Paskah Yahudi. Perayaan Kristen global ini bukanlah hari raya baru yang diciptakan oleh bangsa-bangsa non-Yahudi, melainkan Paskah kuno yang diatur ulang dan digenapi dalam makna tertinggi (1 Korintus 5:7).

Kesinambungan Teologis

Bagi orang Kristen yang menghargai akar iman Yahudi, pertanyaan terpenting adalah apakah Pascha masih berhubungan erat dengan Paskah menurut Alkitab, ataukah hubungan itu telah terputus oleh tambahan ide dan perjalanan waktu. Perjanjian Baru sendiri menjadi jembatan penghubungnya. Rasul Paulus, seorang Farisi dan Yahudi yang taat, menulis kepada jemaat di Korintus yang sebagian besar bukan Yahudi:

“Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab Anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran.” (1 Korintus 5:7–8)

Para murid Yahudi mula-mula, termasuk para rasul, tidak merasa menciptakan sesuatu untuk menggantikan Paskah. Mereka memahami kematian dan kebangkitan Mesias Yesus sebagai penggenapan dari apa yang sejak awal ditunjukkan oleh Paskah: pembebasan dari penghakiman melalui darah Anak Domba.

Sebagai tambahan, Polikarpus (murid Rasul Yohanes) mengikuti praktik Quartodeciman —merayakan Pascha pada tanggal 14 Nisan, sebuah tanggal yang sama dengan Paskah Yahudi. Sudah sejak awal, gereja-gereja yang memiliki hubungan apostolik, termasuk Roma, merayakan Pascha pada hari Minggu setelah tanggal 14 Nisan untuk menekankan hari kebangkitan. Namun, kedua tradisi ini memiliki keyakinan utama yang sama yaitu Pascha adalah Passover Kristen (Irenaeus, Against Heresies [Eusebius, Church History 5.24]).

Penentuan Tanggal Pascha

Salah satu kekhawatiran utama bagi banyak orang percaya yang menghargai akar Yahudi dari iman tersebut adalah Konsili Nicea tahun 325 M. Kekhawatiran itu adalah bahwa konsili ini dengan sengaja memutuskan hubungan antara perayaan Kristen dengan akar Yahudinya, sehingga menjadi titik balik menuju perayaan yang “dianggap pagan/ kafir” atau bersifat supersesionis (teologi yang menganggap agama Yahudi tidak lagi absah atau valid setelah kedatangan Kristen). Keputusan dewan dan retorika di sekitarnya telah menyebabkan luka sejarah yang mendalam, sehingga kekhawatiran ini dapat dipahami.

Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, kita perlu melihat konteksnya terlebih dahulu. Sebelum Nicea, tidak ada praktik universal dalam menentukan tanggal Pascha. Malahan ada perbedaan yang besar antara dua tradisi kuno. Yang satu adalah tradisi Quartodeciman (dari bahasa Latin “keempat belas”) yang berkembang di gereja-gereja di Asia Kecil, mengikuti Rasul Yohanes. Mereka merayakan Pascha pada tanggal 14 Nisan, hari raya Paskah Yahudi, tanpa memperhatikan hari apa, tetapi hanya berfokus pada Kristus sebagai Anak Domba Paskah sejati yang dikorbankan. Tradisi lainnya, yang diadakan oleh gereja-gereja seperti di Roma dan Aleksandria, merayakan Pascha pada hari Minggu setelah 14 Nisan untuk menekankan hari kebangkitan.

Konsili Nicea diadakan untuk menyelesaikan perbedaan ini dan membawa keseragaman bagi gereja-gereja. Konsili menetapkan bahwa Pascha harus dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama setelah titik ekuinoks (hari dimana siang dan malam sama panjangnya) musim semi, sehingga dapat dihitung tanpa bergantung pada kalender Yahudi.

Keputusan ini merupakan hal yang sangat menyedihkan bagi mereka yang menghargai kesinambungan Gereja dengan Israel. Bahasa yang digunakan oleh beberapa pihak pada waktu itu, khususnya dalam surat dari Kaisar Konstantinus setelah konsili tersebut, berisi retorika anti-Yahudi yang patut disesalkan, yang menggambarkan langkah tersebut sebagai cara untuk “tidak memiliki kesamaan apa pun dengan kelompok Yahudi yang paling dimusuhi.” Konsili tersebut merupakan cerminan tragis dari sikap supersesionis yang mulai berkembang setelah zaman para rasul, dan sudah sepatutnya kita meratapi perpecahan ini serta keterasingan selama berabad-abad yang dipicunya.

Namun penting untuk mencatat apa yang tidak dilakukan oleh konsili tersebut. Konsili ini tidak mengubah identitas dasar perayaan ini. Nama dan maknanya tetap sama. Baik tradisi Quartodeciman maupun tradisi hari Minggu tetap memahami perayaan ini sebagai Pascha—Passover Kristen. Perdebatannya adalah soal penanggalan, bukan maknanya. Bahkan dengan sistem penanggalan baru yang tidak berhubungan dengan Israel, Pascha tetap dipahami sebagai penggenapan kisah Keluaran. Seluruh liturgi, pembacaan Kitab Suci, dan teologi perayaan tetap berakar pada kisah pembebasan bangsa Israel, yang mencapai puncaknya pada kebangkitan Yesus, Mesias Israel.

Telur, Kelinci, dan Tradisi Musiman

Banyak orang Kristen yang menginginkan kesederhanaan Alkitabiah merasa was-was terhadap tambahan di luar Alkitab, dan wajar bila  merasa tidak nyaman dengan telur, kelinci, keranjang, dan simbol musim semi lainnya yang sering dikaitkan dengan Paskah di budaya Barat. Perasaan ini sangat dapat dimengerti. Elemen-elemen ini memang merupakan perkembangan budaya belakangan, bukan bagian dari Pascha Kristen yang asli yang berakar pada Firman Allah yang Hidup. Ketika iman Kristen menyebar ke wilayah Eropa yang sebelumnya kafir, beberapa simbol musim semi lokal diberi makna Kristen dan diterima sebagai tradisi budaya lokal yang tidak berbahaya.

Telur yang diwarnai merah, misalnya, menjadi tradisi di gereja Timur pada Abad Pertengahan, melambangkan darah Kristus dan kehidupan baru dari kebangkitan—kubur kosong yang “terbuka.”

Kelinci Paskah dan perburuan telur adalah praktik rakyat Barat yang jauh lebih baru, terutama dari Jermanik dan konteks Protestan dalam beberapa abad terakhir. Bukti historis yang dikaitkan dengan  dewi-dewi kafir kuno itu lemah dan dilebih-lebihkan.

Bagi orang Kristen yang memilih untuk menghindari tradisi ini, memang tidak ada tuntutan Alkitab untuk mengikutinya. Banyak orang percaya saat ini, khususnya yang menghargai warisan iman Yahudi, memilih untuk berfokus sepenuhnya pada inti Alkitabiah dan liturgi Paskah: Membaca kisah Sengsara dan Kebangkitan, merayakan Perjamuan Tuhan, atau mengambil bagian dalam perayaan “Kristus dalam Paskah”. Sangatlah setia (dan saya akan mengatakan dianjurkan!) untuk memperingati kebangkitan Mesias dengan kesederhanaan, Kitab Suci, doa, dan tradisi alkitabiah—tanpa tambahan budaya yang terasa asing atau mengganggu. Inti perayaan ini bergantung pada realita sejarah bahwa Yesus dari Nazaret, Mesias Yahudi, telah bangkit secara jasmani dari kematian. Kubur-Nya kini kosong! Penghakiman Allah telah “melewati” kita.

Kesimpulan

Ketegangan yang ada justru merupakan tanda kesetiaan. Namun syukurlah, kita tidak perlu memilih antara akar Yahudi iman kita dan sukacita merayakan kemenangan Mesias. Dalam Pascha, keduanya menjadi satu.

Biarlah perdebatan tentang nama dan tanggal memudar di hadapan kubur yang kosong. Yang tersisa bukanlah adaptasi kafir, melainkan denyut jantung iman Alkitabiah: Anak Domba yang disembelih, kini hidup kembali. Ini bukan penyimpangan dari Paskah—ini adalah tujuan mulia dari Paskah itu sendiri.

Apa pun sebutan yang kita gunakan—Pascha, Passover Kristen, Hari Ninggu Kebangkitan, atau bahkan kata yang kurang tepat : Easter—Terlepas dari apakah Anda merayakannya sesuai dengan kalender Yahudi atau pada hari Minggu biasa: Kristus, Paskah kita, telah dikorbankan untuk kita, dan kemudian Ia bangkit dari kematian untuk menyatakan pengampunan dan pembenaran kita.

Mesias Yahudi, Keturunan Abraham, Singa dari suku Yehuda, telah mengalahkan maut. Di dalam Dia, semua janji Allah kepada Israel mendapat jawaban “Ya” dan “Amin.” Di dalam Dia, orang Yahudi yang percaya dan bangsa-bangsa non-Yahudi yang dicangkokkan menjadi satu manusia baru, merayakan penggenapan dari apa yang dimulai di Laut Teberau dan Sinai, dan digenapi di Sion surgawi dan Yerusalem.

Kristus Yahudi telah bangkit! Ia sungguh telah bangkit!

Leave a Reply

Limit 150 words

Comments (0)

No comments yet.