Logo Logo
  • ID
    • EN
    • RU
    • HI
    • PT
    • ES
    • FR
    • DE
    • PL
  • ID
    • EN
    • RU
    • HI
    • PT
    • ES
    • FR
    • DE
    • PL
  • Beranda
  • Tentang
  • ArtikelArtikelArtikel
    • Taurat
    • Doa
    • Topik Hangat
    • Injil
    • Ibrani
    • Rasul Paulus
    • Maria
    • Sedang dikerjakan
  • Buku
    • Buku
    • Dengarkan
  • Sekolah & Kursus
    • Israel Institute of Biblical Studies (IIBS)
    • Israel Bible Center (IBC)
Reading: Apakah Yesaya Menubuatkan Kelahiran dari Seorang Perawan?
Share
Logo Logo
  • ID
    • RU
    • PT
    • PL
    • HI
    • FR
    • ES
    • EN
    • DE
  • Beranda
  • Tentang
  • ArtikelArtikelArtikel
    • Taurat
    • Doa
    • Topik Hangat
    • Injil
    • Ibrani
    • Rasul Paulus
    • Maria
    • Sedang dikerjakan
  • Buku
    • Buku
    • Dengarkan
  • Sekolah & Kursus
    • Israel Institute of Biblical Studies (IIBS)
    • Israel Bible Center (IBC)
Follow US
Dr. Eli © All rights reserved
Maria

Apakah Yesaya Menubuatkan Kelahiran dari Seorang Perawan?

Menelusuri bagaimana Matius memahami nubuatan Yesaya

Tammy Yu
Share
SHARE

Bayangkan ada sebuah teks suci yang memicu perdebatan sengit selama ribuan tahun, memisahkan dua kepercayaan besar. Satu ayat dari Alkitab Ibrani, Yesaya 7:14, merupakan pusat perdebatan ini. Orang Kristen menafsirkan ayat tersebut adalah janji Allah tentang kelahiran Yesus dari seorang perawan (meskipun bukan hanya itu), yang merupakan landasan iman Perjanjian Baru; namun, para sarjana Yahudi berpendapat bahwa ayat itu telah disalahpahami dan maknanya telah terdistorsi oleh terjemahan dan perjalanan waktu. Di manakah kebenarannya? Mari kita mengurai misteri ini bersama. Anda akan terkejut dengan hasilnya.

Ayat yang dipersoalkan berbunyi demikian dalam bahasa asli Ibrani:

לָכֵן יִתֵּן אֲדֹנָי הוּא, לָכֶם–אוֹת: הִנֵּה הָעַלְמָה, הָרָה וְיֹלֶדֶת בֵּן, וְקָרָאת שְׁמוֹ, עִמָּנוּ אֵל

Alkitab Kristen, seperti NASB, menerjemahkannya sebagai:

“Therefore the Lord Himself will give you a sign: Behold, the virgin will conceive and give birth to a son, and she will name Him Immanuel.” (Isa 7:14, NASB)

Alkitab Terjemahan Baru (LAI) menerjemahkannya :

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”
(Yes. 7:14, TB)

Dalam terjemahan Yahudi, maknanya berbeda:

“Therefore the Lord Himself shall give you a sign: behold, the young woman shall conceive and bear a son and shall call his name Immanuel.” (Isa 7:14, JPS)

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu tanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan dia Imanuel.”

Injil Matius secara eksplisit menghubungkan ayat ini dengan kelahiran Yesus:

“Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel,’ yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mat. 1:22–23, TB)

Keberatan terhadap penafsiran Matius ini ada dua. Pertama, nubuat tersebut berkaitan dengan peristiwa yang seharusnya terjadi sekitar 700–800 tahun sebelum Yesus. Kedua, Matius menggunakan terjemahan yang salah, kata “perawan,” seharusnya diterjemahkan sebagai “perempuan muda.”

Keberatan Pertama

Nubuat ini disampaikan kepada Raja Ahas dari Yehuda (sekitar 735–715 SM) pada masa Perang Siria-Efraim, ketika Yehuda menghadapi serangan dari Syria (Aram) dan Israel (Efraim). Rezin dari Aram dan Pekah dari Israel menyerang Yerusalem tetapi gagal (Yes. 7:1). Tanda itu dimaksudkan untuk menjawab krisis yang sedang dihadapi Ahas, bukan untuk peristiwa 700–800 tahun kemudian pada zaman Yesus. Anak itu (kemungkinan Adalah putra Yesaya yang bernama Maher-Syalal-Has-Bas dalam Yesaya 8, atau Hizkia) melambangkan pembebasan dari  Allah yang segera terjadi. Beberapa penafsir berpendapat bahwa nubuat ini berpindah maju-mundur antara zaman Ahas sendiri dan zaman Yesus, karena dalam bahasa Ibrani terjadi peralihan dari kata ganti “engkau” bentuk tunggal (Raja Ahas) ke bentuk jamak (kaum keluarga Daud). Di antara pendapat lainnya, ada gagasan bahwa Yesaya meramalkan dua penggenapan: yang pertama adalah penggenapan pada zaman Raja Ahas dan yang kedua pada masa Kristus. Namun, apakah penjelasan ini mencerminkan pemahaman Matius akan nubuatan Yahudi dengan tepat?

Metode Penafsiran Matius

Dewasa ini, nubuat sering dipahami sebagai ramalan masa depan saja. Namun, orang Israel kuno memahaminya dengan cara yang berbeda: nabi adalah utusan Tuhan yang menyampaikan pesan dari Tuhan untuk mengatasi persoalan umat-Nya pada saat itu. Untuk memahami hal ini, perhatikan bagaimana Matius, dalam kasus yang tampaknya tidak berkaitan, menghubungkan kembalinya Yesus dari Mesir dengan perkataan nabi Hosea, mengungkapkan pendekatan nubuatan yang lebih mendalam dan tidak dapat diprediksi.

“dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal ini terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘DARI MESIR KUPANGGIL ANAK-KU.’”(Mat. 2:15, TB)

Jelas terlihat bahwa Hosea tidak sedang menubuatkan masa depan, melainkan merefleksikan masa lalu. Melalui Hosea, Allah berbicara tentang bangsa Israel dan mengingatkan mereka bagaimana Ia membebaskan mereka dari Mesir di masa lalu:

“Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.” (Hos. 11:1, TB)

Hosea 11:1 (“dari Mesir Kupanggil anak-Ku”) merujuk pada peristiwa bersejarah, yaitu keluarnya bangsa Israel dari Mesir (bukan suatu prediksi). Matius menerapkannya secara tipologis pada peristiwa pengungsian Yesus ke Mesir, melihat Yesus sebagai “Anak” yang sejati, yang mencerminkan bangsa Israel. Teknik ini—dikenal sebagai tipologi atau analogi—umum digunakan dalam Perjanjian Baru.

Keberatan Kedua

Kini kita beralih pada keberatan yang lebih beragam, tetapi tidak kalah penting. Para sarjana Yahudi sering berpendapat bahwa kata yang diterjemahkan sebagai “perawan” dalam Yesaya 7:14 sama sekali tidak dapat diterjemahkan demikian, karena makna sebenarnya adalah “perempuan muda” secara umum. Mereka menegaskan bahwa jika Yesaya memang bermaksud menyatakan “perawan”, ia akan menggunakan kata בְּתוּלָה (betulah), bukan עַלְמָה (almah).

Dalam pembahasan selanjutnya, saya akan menunjukkan bahwa bahasa Ibrani Alkitab menggunakan tiga kata utama yang dapat berarti “perempuan muda” maupun “perawan”, tergantung konteks dan faktor lainnya. Ketiga kata itu adalah : almah, na‘arah, dan betulah.

  • Almah (עַלְמָה) terutama berarti “perempuan muda” (usia layak menikah), sering kali menyiratkan ‘perawan’ karena norma budaya, tetapi tidak dinyatakan secara eksplisit. Kata inilah yang digunakan dalam Yesaya 7:14.
  • Na‘arah (נַעֲרָה) umumnya merujuk pada perempuan muda, biasanya remaja atau pra-remaja, tanpa penegasan status seksual, namun sering diasumsikan perawan karena usianya yang muda.
  • Betulah (בְּתוּלָה) biasanya dipahami sebagai perempuan muda yang dianggap perawan, tetapi sering kali diberi keterangan tambahan (misalnya, “yang belum pernah bersetubuh dengan laki-laki”). Ulangan 22:13–21 berbicara tentang btulim (בְּתוּלִים) sebagai “tanda-tanda keperawanan”.

Ada sebuah teks yang sangat penting yang perlu kita pertimbangkan, yang menggunakan ketiga kata tersebut dan menerapkannya pada satu orang yang sama— yaitu Ribka. Kita membaca deskripsi tentang Ribka, calon istri Ishak, yang disebut sebagai seorang perawan muda: “Anak gadis itu (נַעֲרָה – na‘arah) sangat cantik parasnya, seorang perawan (בְּתוּלָה – betulah), belum pernah bersetubuh dengan laki-laki ; ” (Kej. 24:16, TB). Kemudian, hamba Abraham, ketika menceritakan tentang doanya, sebenarnya menyebut Ribka dengan istilah almah (הָעַלְמָה). Kita baca : “Di sini aku berdiri di dekat mata air ini; kiranya terjadi begini: Apabila seorang gadis (הָעַלְמָה – ha’almah) datang ke luar untuk menimba air..” (Kej. 24:43). Dalam satu pasal ini, Ribka disebut dengan ketiga istilah tersebut: na‘arah, betulah, dan almah. Seperti dalam Yesaya 7:14, perempuan muda (almah) di sini diasumsikan sebagai seorang perawan.

Alkitab Yunani Kuno (LXX)

Septuaginta (LXX), terjemahan bahasa Yunani dari Alkitab Ibrani masa pra-Kristen, menerjemahkan kata Ibrani almah (עַלְמָה) dalam Yesaya 7:14 dengan kata parthenos (παρθένος), yang dalam bahasa Yunani biasanya (meskipun tidak selalu) berarti “perawan”. Namun, penggunaan kata parthenos dalam LXX cukup fleksibel. Kata itu hamper selalu diartikan perawan, tetapi terkadang tidak. Kata parthenos (παρθένος) juga digunakan untuk menerjemahkan betulah dalam Kejadian 24:16 dan Yoel 1:8, serta almah dalam Kejadian 24:43. Hal ini menunjukkan bahwa kata “parthenos” dapat merujuk pada perempuan muda yang belum menikah, yang dalam konteks budaya seringkali diasumsikan sebagai perawan. Matius menggunakan kata parthenos ketika mengutip Yesaya 7:14 (Mat. 1:23) sejalan dengan pemakaian LXX ini, mendukung penafsiran Kristen tentang kelahiran dari perawan meskipun tidak sepenuhnya bertentangan dengan makna kata almah. Dengan demikian, pilihan kata parthenos dalam LXX menjembatani konteks Ibrani dan Yunani serta memperkaya makna teologis ayat ini dalam kekristenan mula-mula.

Mengapa Tidak Disebutkan dalam Injil Tertua?

Di antara Injil-injil sinoptik, secara umum Injil Markus dianggap sebagai Injil yang ditulis paling awal dan secara tradisional dikaitkan dengan Yohanes Markus, yang mencatat kesaksian Rasul Petrus. Kelahiran dari perawan tidak disebutkan dalam Injil ini (Mrk. 1:1–11 dimulai dengan baptisan dan pelayanan Yesus). Ada kemungkinan bahwa pada saat Injil Markus ditulis, detail pribadi ini belum diketahui secara luas. Dalam Alkitab kita surat-surat Paulus diletakkan setelah Injil, tetapi secara kronologis – menurut perkiraan tanggal penulisannya – seharusnya surat-surat itu ditulis sebelum Injil. Rasul Paulus tidak menyebutkan kelahiran dari perawan secara eksplisit  dalam surat-suratnya, melainkan berfokus pada kematian, kebangkitan, dan status Yesus sebagai Anak Allah, dengan menggunakan frasa seperti “lahir dari seorang perempuan” dalam Galatia 4:4 dan “lahir dari keturunan Daud” dalam Roma 1:3-4 secara umum namun tidak menjelaskan maupun menolak kelahiran dari perawan. Paulus tidak membicarakan hal ini, karena kemungkinan ia tidak menyadari tentang kelahiran dari perawan, menganggapnya tidak relevan dengan teologinya, atau berasumsi bahwa hal itu sudah diketahui, sehingga tidak pasti apakah ia mengetahui tentang kelahiran dari perawan seperti yang kemudian dijelaskan dalam Injil. Hanya Injil Lukas dan Injil Matius yang memberikan kesaksian yang kuat tentang kelahiran dari perawan (Luk. 1:26–38; Mat. 1:18–25). Penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa penulis Injil Lukas, melalui penelitian yang cermat tentang kehidupan Yesus (Luk. 1:1–4), kemungkinan mewawancarai atau menggunakan sumber-sumber yang dekat dengan Maria, ibu Yesus—bahkan mungkin dengan Maria sendiri. Hal ini menjelaskan mengapa Injil Lukas memuat begitu banyak peristiwa tentang Maria, termasuk peristiwa pemberitahuan dari malaikat (Luk. 1:26–38), kunjungannya ke Elisabet (Luk. 1:39–56), dan Magnificat (Luk. 1:46–55), yang tidak ditemukan dalam Injil lainnya.

Kesimpulan

Untuk menjawab pertanyaan di awal artikel ini—Apakah Yesaya menubuatkan kelahiran dari seorang perawan?—jawabannya adalah ya dan tidak. Yesaya memang berusaha meramalkan masa depan dengan cara seperti peramal ketika dia berbicara kepada Ahas karena Raja Ahas membutuhkan bantuan untuk mengatasi krisis yang dihadapinya pada saat itu. Jadi Yesaya tidak meramalkan peristiwa yang akan digenapi 700–800 tahun kemudian karena hal itu tidaklah relevan. Namun, Matius memahami bahwa nubuat Yesaya dipenuhi dengan makna baru dalam terang peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan Yesus, dan dalam pengertian inilah nubuat tersebut “digenapi”.

Penulis Injil Matius tidak keliru atau berdasarkan pada terjemahan yang salah, namun Ia sengaja menggunakan terjemahan Septuaginta yang menerjemahkan almah (עַלְמָה) sebagai parthenos (παρθένος)—sebuah istilah Yunani yang sering bermakna perawan, khususnya dalam konteks budaya perempuan muda yang belum menikah. Ia dan komunitas Yahudi-Kristen (Mesianik) mula-mula sepaham dengan septuaginta pra-Kristen (LXX) bahwa Yesaya 7:14 seharusnya diterjemahkan: “Sesungguhnya, seorang perawan akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia Imanuel.”

Follow US
Dr. Eliyahu Lizorkin-Eyzenberg © 2025. All Rights Reserved.
Ikuti Blog Dr. Eli!
Berlangganan untuk mendapatkan pemberitahuan saat artikel baru diterbitkan.
Tanpa spam, Anda bisa berhenti berlangganan kapan saja.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?