Logo Logo
  • ID
    • EN
    • RU
    • HI
    • PT
    • ES
    • FR
    • DE
    • PL
  • ID
    • EN
    • RU
    • HI
    • PT
    • ES
    • FR
    • DE
    • PL
  • Beranda
  • Tentang
  • ArtikelArtikelArtikel
    • Taurat
    • Doa
    • Topik Hangat
    • Injil
    • Ibrani
    • Rasul Paulus
    • Maria
    • Sedang dikerjakan
  • Buku
    • Buku
    • Dengarkan
  • Sekolah & Kursus
    • Israel Institute of Biblical Studies (IIBS)
    • Israel Bible Center (IBC)
Reading: Maria Yahudi dalam Injil Lukas
Share
Logo Logo
  • ID
    • RU
    • PT
    • PL
    • HI
    • FR
    • ES
    • EN
    • DE
  • Beranda
  • Tentang
  • ArtikelArtikelArtikel
    • Taurat
    • Doa
    • Topik Hangat
    • Injil
    • Ibrani
    • Rasul Paulus
    • Maria
    • Sedang dikerjakan
  • Buku
    • Buku
    • Dengarkan
  • Sekolah & Kursus
    • Israel Institute of Biblical Studies (IIBS)
    • Israel Bible Center (IBC)
Follow US
Dr. Eli © All rights reserved
Maria

Maria Yahudi dalam Injil Lukas

Meninjau kembali Maria dari Nazaret, wanita Yahudi teragung yang pernah hidup.

Tammy Yu
Share
SHARE

Nama Miriam (Ibrani: מִרְיָם, Miryam) dan bentuk Yunani-nya Maria (Yunani: Μαρία, María) memuat makna yang mendalam, menghubungkan Maria, ibu Yesus, dengan tokoh alkitab Miryam, nabi perempuan dan saudara perempuan Musa dan Harun (Keluaran 15:20). Dalam bahasa Ibrani, nama Miryam sering ditafsirkan dengan arti “kepahitan” (dari mar, yang berarti pahit). Etimologi nama ini mencerminkan berbagai pergumulan hidup yang kerap menyertai para penyandang nama itu.

Dalam Perjanjian Lama, peran Miryam sebagai nabi perempuan dan pemimpin penting pada zaman Kitab Keluaran menunjukkan kekuatan serta imannya, menuntun pembebasan bangsa Israel melintasi Laut Teberau. Hal ini menjadi bayangan awal bagi peran Maria dalam Perjanjian Baru sebagai pribadi yang mengandung Yesus. Kata Yunani Maria yang digunakan dalam Perjanjian Baru (misalnya, Lukas 1:27) terhubung langsung dengan Miryam dalam bahasa Ibrani, sehingga bobot teologis nama tersebut tetap terpelihara. Orang-orang Kristen Yahudi mula-mula, yang akrab dengan Kitab Suci Ibrani, melihat Maria sebagai pewaris Miryam, mengaitkan Maria dengan pembebasan dan kesetiaan pada rencana penebusan Allah.

Injil Lukas menampilkan Maria dari Nazaret sebagai sosok yang berakar kuat dalam tradisi religius dan budaya Yudaisme abad pertama, menantang persepsi modern yang kerap mengabaikan identitas Yahudinya yang taat. Narasi Lukas menekankan ketaatan Maria kepada Taurat, partisipasinya yang aktif dalam ritual Yahudi, serta signifikansi teologis imannya dalam konteks Yahudi dari Injil tersebut. Maria muncul sebagai teladan ketaatan Yahudi dengan mematuhi  perintah, ikut serta dalam peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yahudi, dan mewujudkan harapan perjanjian Israel, sehingga menjembatani Kitab Suci Ibrani dan Perjanjian Baru.

Injil Lukas dengan jelas menggambarkan identitas Yahudi Maria sejak awal dengan menyoroti ketaatannya yang ketat terhadap hukum Taurat. Dalam Lukas 2:21–24, setelah kelahiran Yesus, Maria dan Yusuf menjalankan ketentuan Taurat dengan penuh ketelitian. Mereka memastikan Yesus disunat pada hari kedelapan, suatu ritual mendasar yang berakar dalam Kejadian 17:12 dan menandakan keikutsertaan dalam perjanjian Allah dengan bangsa Israel. Selain itu, mereka menunaikan upacara pentahiran yang diperintahkan dalam Imamat 12:2–8 dengan mempersembahkan Yesus di Bait Allah di Yerusalem serta mempersembahkan korban sepasang burung tekukur atau dua ekor merpati, sesuai ketentuan bagi keluarga sederhana dalam Taurat. Tindakan penebusan bagi anak sulung mereka, yang diharuskan dalam Keluaran 13:2, menegaskan komitmen mereka terhadap hukum Yahudi.

Kunjungan ke Bait Allah semakin memperkuat gambaran identitas Yahudi Maria melalui perjumpaannya dengan Simeon, seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel (Lukas 2:25). Nubuatan Simeon dalam Lukas 2:29–32 bahwa Yesus adalah “terang untuk menyatakan jalan kepada bangsa-bangsa lain dan untuk menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel” menempatkan Putra Maria dalam pengharapan bangsa Yahudi akan penebusan Mesianik, selaras dengan nubuat seperti Yesaya 42:6 dan 49:6. Ucapan Simeon selanjutnya kepada Maria, yang menubuatkan bahwa Yesus akan menjadi “suatu tanda yang menimbulkan perbantahan” dan bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:34–35), menghubungkannya dengan gambaran hamba yang menderita dalam Yesaya 53, sebuah tema yang kuat dalam tradisi Yahudi. Kehadiran Maria di Bait Allah dan interaksinya dengan tokoh nabi seperti itu menegaskan keterlibatannya yang mendalam dalam kehidupan religius Yudaisme abad pertama.

Komitmen Maria pada ketaatan Yahudi tidak berhenti pada kisah masa kanak-kanak Yesus, tetapi juga tampak dalam ziarah tahunan keluarganya ke Yerusalem untuk merayakan Paskah (Lukas 2:41). Ziarah yang diperintahkan dalam Ulangan 16:1–6, merupakan pilar identitas Yahudi yang mempersatukan umat dalam ibadah dan peringatan akan karya pembebasan Allah. Kisah Yesus pada usia dua belas tahun yang berdialog dengan para ahli Taurat di Bait Allah (Lukas 2:42–50) semakin menunjukkan keterlibatan yang mendalam keluarga ini dalam kehidupan religious Yahudi. Kegelisahan Maria ketika Yesus tertinggal (Lukas 2:48) memperlihatkan pergumulan manusiawinya dalam memahami panggilan ilahi Putranya, namun sikapnya yang terus merenungkan semua peristiwa itu (Lukas 2:51) mencerminkan iman yang dibentuk oleh pengharapan bangsa Yahudi akan intervensi Allah.

Penggambaran Lukas yang rinci tentang ketaatan Maria pada Taurat sangat menonjol, mengingat anggapan umum bahwa Lukas adalah penulis non-Yahudi. Namun, Injil ini menunjukkan pengetahuannya yang mendalam tentang adat-istiadat Yahudi, praktik di Bait Allah, dan rujukan Kitab Suci menunjukkan bahwa penulisnya adalah seorang Yahudi atau setidaknya orang yang mempelajari budaya Yahudi secara mendalam. Salah satu ekspresi yang paling dalam dari identitas Yahudi Maria adalah doanya, Magnificat (Lukas 1:46–55), yang sama dengan doa Hana dalam 1 Samuel 2:1–10. Sama seperti Hana, Maria memuliakan keadilan Allah yang merendahkan orang yang sombong dan meninggikan orang yang rendah hati, suatu tema yang sejalan dengan sastra profetik Yahudi, seperti Yesaya 40:4. Doanya mencerminkan keterlibatan yang mendalam dengan Kitab Suci Israel dan menunjukkan dirinya sebagai putri Sion yang taat, yang percaya kepada janji Allah kepada Abraham dan keturunannya (Lukas 1:55). Dengan mengacu pada janji-janji perjanjian ini, Maria mewujudkan cita-cita “Perawan Israel” (Yeremia 31:4), melambangkan sisa umat Israel yang setia menantikan penebusan Allah.

Respons Maria terhadap pemberitaan malaikat Gabriel dalam Lukas 1:26–38 semakin menunjukkan iman Yahudinya. Sebagai seorang gadis muda dari Nazaret, sebuah desa yang mungkin diasosiasikan dengan harapan Mesianik (Zakharia 3:8; Yesaya 11:1), kesediaan Maria menerima peran sebagai ibu Sang Mesias menunjukkan kepercayaannya yang luar biasa dalam kerangka iman Yahudi. Pertanyaannya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34), diikuti dengan penyerahan dirinya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1:38), mencerminkan iman tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham dan Musa, yang menjawab panggilan Allah meski diliputi ketidakpastian. Momen ini menegaskan Maria sebagai seorang Yahudi yang setia, yang dengan sukarela mengambil bagian dalam rencana Allah bagi penebusan Israel.

Ke-Yahudi-an Maria bukan sekadar detail historis, melainkan landasan teologis dalam Injil Lukas. Ketaatannya pada Taurat, partisipasinya dalam ritual di Bait Allah, dan keterlibatannya dalam  tradisi profetik Yahudi menggambarkannya sebagai murid teladan Yesus, yang mewujudkan iman bangsa Israel. Kisah hidupnya menjembatani Kitab Suci Ibrani dan Perjanjian Baru, menghadirkannya sebagai seorang Yahudi yang setia yang kehidupannya menggenapi janji-janji Allah. Melalui Maria, Lukas menggambarkan kesinambungan rencana Allah dari Israel kepada bangsa-bangsa lain, dengan imannya sebagai teladan bagi semua orang percaya. Kehidupannya, yang tertanam dalam tradisi Yahudi, mengajak pembaca untuk menghargai kedalaman perannya dalam sejarah keselamatan dan relevansi imannya yang abadi. Kisah hidupnya mengajak kita untuk memiliki kepercayaan yang teguh akan maksud Allah, menemukan kekuatan dalam tradisi, dan melihat diri kita sebagai bagian dari kisah penebusan yang lebih besar.

Follow US
Dr. Eliyahu Lizorkin-Eyzenberg © 2025. All Rights Reserved.
Ikuti Blog Dr. Eli!
Berlangganan untuk mendapatkan pemberitahuan saat artikel baru diterbitkan.
Tanpa spam, Anda bisa berhenti berlangganan kapan saja.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?